Ini adalah tingkat ibadah terpenting yang harus kita capai bersama. Nabi Muhammad SAW mendefinisikannya sebagai “untuk menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya.” Itulah Ihsan.
Definisi ini membuat kita mempertimbangkan Allah dalam semua tindakan kita; kita menjadi lebih berbakti kepada Allah; kita menjadi selalu hadir dan sadar akan Allah; dan kami menjadi sangat baik dalam berurusan dengan ciptaan-Nya.
Ihsan adalah tentang bagaimana Anda menyembah Tuhan seolah-olah melihat-Nya, karena meskipun Anda tidak melihat-Nya, Dia melihat Anda. Tetapi untuk menjalani hidup Anda, untuk menyembah Tuhan seolah-olah Anda bersama Tuhan, memandang Tuhan, merespons dengan cinta, kerendahan hati, ketundukan, ketakutan dan harapan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bermaksud berbuat kebaikan, kemudian dia mengamalkannya; maka Allah akan mencatatnya di sisi-Nya dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipatnya, bahkan sampai jumlah yang banyak sekali.” (Muttafaqun ‘alaih)
Orang yang khusyuk pada dua rakaat dalam shalatnya, pahalanya tentu lebih banyak dari orang yang khusyuknya hanya satu rakaat saja. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang selesai dari shalatnya tetapi tidak ditulis pahala (penuh) baginya, kecuali setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya, hingga beliau ﷺ bersabda, ‘sepersepuluhnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan selain keduanya)
Dalam Alquran, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Berikut ini beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)
“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan ihsan….” (QS An-Nahl: 90)
“… serta ucapkanlah kata-kata yang baik (husna) kepada manusia….” (QS. Al-Baqarah: 83)
“Dan berbuat baiklah (ihsan) terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu….” (QS. An-Nisaa`: 36)
Rasulullah pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Bahkan, di antara hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini.
Rasulullah ﷺ menerangkan ihsan, dengan mengatakan, “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk berbuat ihsan terhadap segala sesuatu. Maka jika kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang ihsan, dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan (menenangkan dan menenteramkan) hewan sembelihan itu” (HR Muslim). Dengan melihat fenomena dalam kehidupan ini, secara sunatullah setiap orang suka akan perbuatan yang ihsan. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


