JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sosok

Imam Malik bin Anas (93-179 H = 712-798 M)

Fiqih, Abu Hanifah

Dia adalah Abu ‘Abdullah Malik bin Anas bin Abu Amir bin Amr bin Al-Haruts. Dia adalah seorang Imam Hijaz dan seorang ahli fikih kenamaan.

Silsilahnya berakhir sampai kepada Ya’rub bin Al-Qaththan Al-Asbahi. Nenek moyangnya adalah Abu ‘Umar. Dia adalah seorang sahabat yang selalu mengikuti seluruh peperangan yang terjadi pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali perang Badar.

Adapun kakeknya, Malik bin Anas, adalah seorang tabi’in besar dan ahli fikih kenamaan, dan salah seorang dari empat orang tabi’in yang jenazahnya diusung sendiri oleh Khalifah ‘Usman bin Affan ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Imam Malik bin Anas dilahirkan pada tahun 93 Hijriyah di kota Madinah. Dia berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun.

BACA JUGA:  Kehidupan Imam Malik bin Anas

Dia adalah seorang ahli hadits yang selalu menjunjung tinggi dan menghormati hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika dia memberikan hadits kepada siapa pun, dia terlebih dahulu berwudhu kemudian duduk di atas tikar untuk shalat dengan tenang dan tawadhu’. Dia sangat tidak suka memberikan hadits sambil berdiri, di tengah jalan, atau dengan cara tergesa-gesa.

Dia belajar hadits secara qira’ ah kepada Nafi’ bin Abu Nua’im, Az-Zuhri, Nafi’ (pelayan ‘Abdullah bin ‘Umar), dan lainnya. Adapun ulama-ulama ternama yang pernah belajar kepada dia di antaranya adalah Al-Auza’i, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah, Ibnu Al. Mubarak, Imam Syafi’i, dan lainnya.

Dia terkenal sebagai ahli fikih. Para ulama juga mengakui dia sebagai ahli hadits yang sangat tangguh. Masyarakat Hijaz memberikan gelar kehormatan kepada dia dengan julukan “Sayyid Fuqaha il-Hijaz.”

Imam Asy-Syafi’i pernah memujinya, “Jika dibicarakan tentang hadits, maka Imam Malik adalah bintangnya, dan jika dibicarakan soal keulamaan, maka Imam Malik jugalah yang menjadi bintangnya. Tidak ada seorang pun yang terpercaya dalam bidang ilmu Allah dibandingkan Imam Malik. Imam Malik dan Ibnu ‘Uyainah adalah dua orang sahabat yang mumpuni di bidang ilmu-ilmu Allah. Seandainya mereka berdua tidak ada, niscaya hilang juga ilmu orang-orang Hijaz.”

Imam Yahya bin Sa’id Al-Qaththan dan Imam Yahya Bin Ma’in memberikan gelar kepada dia sebagai Amirul-Mu’minin fi Al-Hadits. Al-Bukhari menyatakan bahwa sanad yang dikatakan ashahhul-asanid adalah apabila sanad itu terdiri dari Imam Malik, Nafi’, dan ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma.

Dia adalah seorang ahli hadits yang sangat konsekuen terhadap ilmu yang dimiliki. Dia tidak pernah melalaikan shalat berjamaah, selalu aktif membesok sahabat-sahabatnya yang sedang sakit, dan tidak lupa menunaikan kewajiban-kewajiban lainnya.

Dia juga dikenal sebagai ulama yang sangat keras dalam mempertahankan pendapatnya yang diyakini benar. Dia pernah diadukan kepada Khalifah Ja’far bin Sulaiman oleh paman Khalifah sendiri. Dia dituduh tidak menyetujui pembaiatan pada Khalifah.

Menurut Ibnu Al-Jauzi, dia disiksa dengan hukuman cambuk sebanyak tujuh puluh kali sampai ruas lengannya sebelah atas bergeser dari persendian pundaknya. Siksaan ini dilakukan karena fatwa dia tidak sesuai dengan kehendak dan kemauan Khalifah.

Penyiksaan yang dilakukan Khalifah itu bukan menurunkan popularitasnya di mata masyarakat luas, bahkan namanya menjadi harum dan berkibar serta kedudukannya menjadi lebih terhormat di kalangan para ahli ilmu.

BACA JUGA:  Imam Abu Hanifah, Dokter Fuqaha

Karyanya yang sangat gemilang dan dinilai monumental di bidang ilmu hadits adalah kitab Muwaththa’. Kitab ini ditulis pada tahun 144 Hijriyah atas anjuran Khalifah Ja’far Al-Manshur ketika méreka bertemu pada pelaksanaan ibadah haji

Menurut penelitian yang dilakukan Abu Bakar Al-Abharı, jumlah atsar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sahabat, dan tabi’in yang tercantum dalam kitab Al-Muwaththa sebanyak 1720 buah, dengan perincian sebagai berikut: yang musnad sebanyak 600 buah, yang mursal sebanyak 222 buah, yang mauquf sebanyak 613, dan yang maqthu’ sebanyak 285 buah.

Dia meninggal dunia pada hari Ahad tanggal 14 Rabiul Awwal tahun 169 Hijriyah (sebagian pendapat menyatakan pada tahun 179 H) di Madinah, dengan meninggalkan tiga orang anak, Yahya, Muhammad, dan Hammad. []

Sumber: Al-Ahaadütsu al-Qudsiyyah (Kumpulan Hadist QUdsi, Beserta Penjelasannya) / Penyusun: Imam An-Nawawi dan Al-Qasthalani) / Penerbit: Muassah ar-Rayan – Darul Manar / Cetakan: Bab 1446 H/ Februari 2025

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sosok

Siapa Imam Ibnul Jauzi?

Sosok

Kecerdasan Abu Hanifah

Sosok

Abu Hanifah dan Pengajar Anak-anak

Sosok

Siapa Imam adz-Dzahabi?