Setiap hembusan napas seorang hamba adalah kesempatan emas yang tak ternilai. Kesempatan itu bisa menjadi sebab bertambahnya timbangan kebaikan, atau justru penyesalan di hari ketika manusia berdiri di hadapan Rabb semesta alam.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah pernah berkata dengan penuh penekanan: “Demi Allah, sungguh benar-benar akan tiba suatu hari dimana engkau berharap di lembaran catatan amalmu terdapat meskipun hanya sebuah kalimat tasbih, tahmid, takbir atau tahlil.” (al-Liqooaat asy-Syahriyyah, 2/67)
Perkataan ini mengingatkan kita bahwa amal yang dianggap kecil di dunia ternyata akan terasa sangat besar nilainya di akhirat. Satu kalimat tasbih “Subhanallah”, satu kalimat tahmid “Alhamdulillah”, satu kalimat takbir “Allahu Akbar”, dan satu kalimat tahlil “La ilaha illallah” bisa menjadi penyelamat di saat timbangan amal terasa berat dengan dosa.
BACA JUGA: Waktu-waktu Terkabulnya Doa
Waktu Adalah Nyawa yang Tersembunyi
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih aku sesali daripada hari yang mataharinya tenggelam, sementara amalanku pada hari itu tidak bertambah.” (Ibnul Jauzi, Shaidul Khathir, hal. 499).
Seorang salaf yang bijak menyebut waktu sebagai “modal utama kehidupan”. Sebab, saat waktu berlalu, berarti sebagian dari diri kita ikut berlalu. Betapa ruginya orang yang menghabiskan detiknya untuk hal sia-sia, padahal satu detik bisa menjadi kunci surga bila diisi dengan dzikir atau amal shalih.
Amal Kecil, Pahala Besar
Rasulullah ﷺ bersabda: “Dua kalimat yang ringan di lisan, berat dalam timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rahman: Subhanallahi wa bihamdih, Subhanallahil ‘Azhim.” (HR. al-Bukhari no. 6682, Muslim no. 2694).
Betapa ringan kalimat ini diucapkan, namun berat timbangannya di akhirat. Karenanya, jangan pernah meremehkan amal kecil, karena mungkin ia yang kelak menolong kita.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Bagaimana engkau rela menyia-nyiakan hari ini, padahal ia tidak akan pernah kembali sampai hari kiamat.” (Ibnul Jauzi, Shaidul Khathir).
Kesempatan Masih Ada
Selama kita masih diberi hidup, maka pintu amal masih terbuka. Waktu sehat, waktu lapang, waktu muda, semuanya adalah ladang investasi akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, mudamu sebelum tuamu, dan kayamu sebelum miskinmu.” (HR. al-Hakim no. 7846, dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 3358).
BACA JUGA: Mana yang Lebih Mulia, Malaikat ataukah Manusia yang Shalih?
Penutup
Saudaraku, janganlah menunggu datangnya ajal baru kita tersadar. Saat itu sudah terlambat. Gunakan sisa waktu untuk memperbanyak dzikir, tilawah, sedekah, shalat sunnah, dan amal lainnya. Setiap kalimat dzikir adalah mutiara yang akan kita rindukan di akhirat kelak.
Maka jangan sia-siakan kesempatan, karena mungkin satu tasbih hari ini yang menyelamatkan kita di hari penghisaban. []
Sumber Rujukan
Al-‘Utsaimin, al-Liqooaat asy-Syahriyyah, 2/67.
Ibnul Jauzi, Shaidul Khathir, hal. 499.
HR. al-Bukhari no. 6682, Muslim no. 2694.
HR. al-Hakim no. 7846; dishahihkan al-Albani dalam Silsilah Shahihah no. 3358.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


