Ada sebuah kisah sederhana namun sarat makna tentang seorang pedagang kecil di sudut pasar Madinah pada masa tabi’in. Setiap pagi, ia membuka lapak seadanya: beberapa karung gandum, kurma, dan kacang-kacangan. Pendapatannya tak pernah menentu, terkadang habis, terkadang sisa. Namun satu hal yang tak pernah habis darinya: senyuman yang selalu ia berikan kepada siapa pun yang datang.
Suatu hari, seorang pemuda bertanya padanya, “Wahai paman, apakah engkau tak ingin memiliki toko yang besar? Bukankah lebih banyak keuntungan yang bisa kau dapat?” Pedagang itu menjawab dengan lembut, “Anakku, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.’ (HR. Bukhari dan Muslim). Apa yang kumiliki hari ini, meski sedikit di mata manusia, sudah cukup membuatku bersyukur.”
BACA JUGA: Abdurrahman bin Auf dan Harta Kekayaan
Perkataan sang pedagang adalah cermin dari sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah takdirkan. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan: “Ridholah dengan apa yang Allah bagikan untukmu maka engkau akan menjadi manusia yang terkaya.” (HR. At-Tirmidzi).
Sebuah nasihat yang sangat dalam, mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukan soal angka di rekening, bukan pula soal rumah megah atau kendaraan mewah, melainkan ketenangan hati yang selalu ridho terhadap takdir Allah.
Qana’ah: Obat bagi jiwa yang letih
Di zaman ini, kita kerap terjebak dalam keinginan tanpa ujung. Iklan, media sosial, dan gaya hidup modern membuat kita merasa apa yang ada di tangan selalu kurang. Padahal, sebagaimana perkataan Imam Syafi’i rahimahullah, “Jika engkau memiliki hati yang qana’ah, maka engkau dan raja dunia adalah sama.” Qana’ah membuat seseorang hidup lebih ringan, bebas dari rasa iri dan dengki, serta terjaga dari stres berlebihan.
Miskin meski bergelimang harta
Sebaliknya, betapa banyak orang yang secara lahiriah tampak kaya, namun jiwanya selalu miskin. Setiap hari hatinya gelisah karena takut kehilangan, selalu merasa kurang meski hartanya melimpah.
Ketamakan itu menguras kebahagiaan, menjadikan hidup terasa sempit meski rumahnya luas. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata, “Hakikat kemiskinan adalah tidak pernah merasa cukup, sedangkan hakikat kekayaan adalah qana’ah.”
Kaya hati, kaya amal
Qana’ah tidak hanya melahirkan rasa cukup, tapi juga mendorong kita banyak bersyukur dan beramal. Orang yang qana’ah lebih mudah berbagi, karena hatinya tidak terikat kuat dengan dunia. Ia yakin, rezeki sudah Allah tentukan, sehingga ia tak takut kekurangan.
Inilah mengapa Rasulullah ﷺ, meski sebagai utusan Allah, memilih hidup sederhana, bahkan tidur di atas tikar kasar yang meninggalkan bekas di punggung beliau. Ketika ditanya, beliau menjawab, “Apa hubunganku dengan dunia? Aku di dunia ini hanyalah seperti seorang musafir yang bernaung di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi).
BACA JUGA: Kisah Hidup Mus’ab bin Umair, Menjual Kekayaan Dunia demi Akhirat
Mengharukan, bukan berarti tanpa usaha
Qana’ah bukan berarti pasrah tanpa usaha. Islam mengajarkan kita bekerja keras, tetapi hasilnya kita pasrahkan kepada Allah. Yang dicela adalah rakus, bukan usaha.
Seperti sabda Rasulullah ﷺ, “Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).
Penutup: Bahagia itu dekat
Mari renungkan kembali, bahwa bahagia itu sebenarnya dekat: ia bersemayam di hati yang qana’ah. Sebab hati yang penuh syukur dan ridho akan selalu menemukan kebahagiaan, meski dunia menilainya “tidak punya apa-apa.” Seperti doa indah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap ketetapan-Mu, berkahilah aku dalam apa yang telah Engkau berikan kepadaku, hingga aku tidak mengharapkan apa yang Engkau tahan dariku.”
Semoga kita pun diberi hati yang qana’ah—kekayaan sejati yang tak pernah lekang oleh waktu. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


