JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Ketakwaan Ibnu Umar (1)

Suatu hari Khalifah Utsman r.a. memanggil lelaki itu. Sang khalifah meminta kesediaan dia untuk memegang jabatan sebagai seorang hakim. Namun, lelaki itu menolak dengan dengan halus tapi tegas. “Apakah Engkau tak mau menaati perintahku?” tanya Khalifah.

“Sama sekali tidak. Hanya saja saya telah mendengar bahwa para hakim itu ada tiga macam. Pertama, hakim yang mengadili tanpa ilmu, maka ia dalam neraka. Kedua, hakim yang mengadili berdasarkan nafsu, maka ia juga dalam neraka. Dan ketiga, hakim yang berijtihad sedang hasil ijtihadnya benar, maka ia dalam keadaan berimbang, tidak berdosa tapi tidak pula berolah pahala. Dan saya, atas nama Allah, memohon kepada Anda agar dibebaskan dari jabatan itu,” terang Abdullah ibnu Umar ibnu Khattab, lelaki itu.

BACA JUGA: Saat Ibnu Umar Wafat

Khalifah Utsman paham betul kadar ketakwaan orang di hadapannya. Di mata masyarakat nama Abdullah ibnu Umar sangat dikenali sebagai sosok yang takwa dan pengikut perilaku Rasulullah yang amat baik. Khalifah sadar akan ketajaman mata hati orang-orang bertakwa, yang kerap mementingkan kehidupan akhirat daripada dunia.

Dengan berat hati Khalifah menerima keengganan Ibnu Umar menyandang pangkat hakim. Akan tetapi penerimaan tersebut disertai dengan syarat agar Ibnu Umar berjanji tidak akan bercerita pada siapapun mengenai keputusan itu. Ibnu Umar setuju dan peristiwa itu pun hanya diketahui oleh mereka berdua, disaksikan oleh Allah, sang pencipta.

BACA JUGA:  Gempa yang Terjadi di Zaman Nabi dan Umar bin Khattab

Sebagai generasi yang berada di “shaf kedua” Ibnu Umar bermaksud tak hendak mendahului para shahabat, seangkatan ayahnya, Umar ibnu Khattab. Ia menilai mereka lebih pantas menyadang jabatan seperti itu dibanding dirinya. Dan ia lebih memilih terus dan terus meningkatkan diri dalam ibadah dan ketaatan pada Allah SWT.

Hari-hari Ibnu Umar nyaris tak terlewatkan qiyamulail yang ia isi dengan shalat dan berdzikir, membaca Al-Quran, serta merenungkan makna ayat-ayat-Nya, baik qauliyah maupun qauniyah. Membaca ayat-ayat peringatan dan keadaan pada yaumul hisab, pastilah air matanya mengucur, mirip dengan ayahnya yang reaksinya demikian dalam menghayati ayat-ayat tentang kehidupan akhirat. []

BERSAMBUNG | SUMBER: MAJALAH SAKSI

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Pertolongan Allah

Sirah

Rasa Tanggung Jawab dan Iman kepada Akhirat dari Para Sahabat Nabi

Sirah

Penyesalan Sang Kakek

Sirah

Aminah Wafat

Leave a Reply