Jika kita menunaikan salat lima waktu maka dosa-dosa kecil di antara waktu subuh dan zuhur akan diampuni, begitu juga dosa-dosa kecil di antara dua waktu salat wajib lainnya. Demikian pula halnya jika kita melakukan salat Jumat hingga salat Jumat pekan berikutnya, maka Allah akan menghapuskan dosa-dosa kecil selama sepekan antara salat Jumat yang satu hingga salat Jumat berikutnya.
Ayat kedua adalah firman Allah.
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَتَبِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ )
“Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, 6 dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.” (QS. Ash-Syûrâ: 37)
Ayat ini Allah sebutkan dalam konteks memuji orang-orang beriman yang berhak mendapatkan surga Allah yang mana mereka merniliki beberapa sifat mulia. Mari kita perhatikan ayat ini dengan membawakan ayat sebelumnya (yaitu QS. Asy-Syûrâ: 36) dan ayat sesudahnya (yaitu QS. Asy-Syûrá: 38).
فَمَا أُوتِيتُم مِّن شَيْءٍ فَمَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَى لِلَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ)
“Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah (yaitu surga) lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Asy-Syûrâ: 36)
BACA JUGA: Para Pendosa Berharap untuk Kembali ke Dunia saat Sakaratul Maut
وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَبِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ)
“(Kenikmatan itu juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah segera memberi maaf.” (QS. Asy-Syûrá: 37)
وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ )
“(Juga lebih baik dan lebih kekal bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka. Mereka menginjakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Asy-Syūra: 38)
Pada rentetan 3 ayat di atas Allah menyebutkan sifat-sifat orang-orang beriman yang berhak mendapatkan surga, yaitu: beriman, bertawakal, meninggalkan dosa-dosa besar, jika marah segera memaafkan, patuh terhadap seruan Allah, mengerjakan salat, bermusyawarah, dan berinfak.
Di antara sifat-sifat tersebut adalah “meninggalkan dosa-dosa besar”. Maka ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan dosa-dosa besar, adalah mereka yang dipuji oleh Allah dan merupakan mukmin yang sempurna yang dijanjikan surga.
Ini juga menunjukkan bahwa bukan syarat sempurnanya iman seseorang harus meninggalkan dosa-dosa kecil, akan tetapi Allah hanya mencukupkan dengan meninggalkan dosa-dosa besar. Jika meninggalkan dosa kecil termasuk syarat sempurnanya iman seseorang maka ini perkara yang berat.
Siapakah di antara kita yang bisa menundukkan pandangannya? Ini merupakan perkara yang susah, kecuali orang buta. Terlebih lagi di zaman sekarang ini, selama seseorang memiliki media sosial maka sangat sulit untuk menghindari dosa-dosa kecil. Bahkan, orang yang sekedar melihat berita pun tidak luput dari terkena dosa kecil. Hal ini dikarenakan pembawa berita kebanyakan tidak berjilbab.
Oleh karenanya, Allah tidak menyaratkan kesempurnaan iman dengan meninggalkan dosa-dosa kecil. Hal ini dikarenakan meninggalkan dosa-dosa kecil sesuatu yang sukar untuk dihindari. Intinya, selama seseorang bisa menghindari dosa-dosa besar maka Allah bisa mengampuni dosa-dosa kecilnya.
Ayat ketiga adalah firman Allah.
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَيرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَم
“(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini juga menjelaskan tentang sifat penghuni surga, yaitu meninggalkan dosa-dosa besar meskipun tidak bisa luput dari al-lamam (dosa-dosa kecil). Allah berfirman,
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَئُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَبِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَ إِنَّ رَبَّكَ وَسِعُ الْمَغْفِرَةً )
“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (Dengan demikian,) Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga). (Mereka adalah) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Akan tetapi, mereka (memang) melakukan dosa-dosa kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunan-Nya.” (QS. An-Najm: 31-32)
Ibnu Katsir berkata,
ثُمَّ فَسَّرَ الْمُحْسِنِينَ بِأَنَّهُمُ الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ، أَيْ: لَا يَتَعَاطَوْنَ الْمُحَرَّمَاتِ وَالْكَبَائِرَ، وَإِنْ وَقَعَ مِنْهُمْ بَعْضُ الصَّغَائِرِ فَإِنَّهُ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَسْتُرُ عَلَيْهِمْ
“Kemudian Allah menjelaskan muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bahwasanya mereka adalah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji. Yaitu mereka tidak melakukan perbuatan-perbuatan haram dan dosa-dosa besar meskipun mereka melakukan sebagian dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya Allah mengampuni mereka dan menutupi aib mereka.” (Tafsir Ibn Katsir, (7/460)
Namun, bukan maksud dari ayat-ayat di atas seseorang meremehkan dosa-dosa kecil, karena dua perkara:
Pertama: Dosa-dosa kecil jika banyak dan sering dilakukan maka membinasakan, karena meskipun kecil jika sering maka kuantitas dosanya bisa seperti kuantitas dosa besar-sebagaimana telah lalu penjelasannya.
Kedua: Memang benar dosa-dosa kecil bisa digugurkan dengan meninggalkan dosa-dosa besar dan melakukan amal-amal saleh, akan tetapi jika seseorang semakin sedikit melakukan dosa-dosa kecil maka semakin sedikit pengguguran dosa-dosa kecil tersebut, dan diganti dengan diangkatnya derajat.
Ibnul Mulaqqin berkata:
أَنَّ الْمُرَادَ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْخِصَالِ صَالِحَةُ لِتَكْفِيرِ الصَّغَائِرِ، فَإِن صَادَفَتْهَا غَفَرَتْهَا، وَإِنْ لَمْ تُصَادِقُهَا فَإِنْ كَانَ فَاعِلُهَا سَلِيمًا مِنَ الصَّغَائِرِ لِكَوْنِهِ صَغِيرًا غَيْرَ مُكَلَّفٍ، أَوْ مُوَفَقًا لَمْ يَعْمَلْ صَغِيرَةً، أَوْ فَعَلَهَا وَتَابَ، أَوْ فَعَلَهَا وَعَقَبَهَا بِحَسَنَةٍ أَذْهَبَتْهَا … فَهَذَا يُكْتَبُ لَهُ بِهَا حَسَنَاتِ، وَلَرُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَاتٌ
“Maksudnya setiap amal saleh ini bisa menggugurkan dosa-dosa kecil, jika mengepasi/mendapati dosa-dosa kecil maka akan menggugurkannya. Jika tidak mendapati dosa-dosa kecil-seperti jika pelaku amal saleh tersebut selamat dari dosa kecil karena ia masih kecil sehingga belum mukalaf, atau memang diberi taufik oleh Allah sehingga tidak melakukan dosa kecil, atau ia melakukannya namun telah bertobat darinya, atau ia telah melakukannya namun setelah itu ia melakukan amal saleh lain yang menggugurkannya maka amal-amal saleh yang dilakukannya dicatat sebagai kebaikan-kebaikan dan untuk diangkat baginya derajat-derajat.” (At-Taudih li-Syarh al-Jami’ ash-Shahih, Karya Ibnul Mulaqqin (3/78)
Hendaknya kita tetap meninggalkan dosa-dosa kecil agar pahala kita dan derajat kita semakin tinggi.
Setelah menyebutkan ayat-ayat di atas adz-Dzahabi menyebutkan hadis yang senada dengan ayat-ayat di atas bahwa jika dosa-dosa besar ditinggalkan maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil. Nabi bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ كَفَّارَةً لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ
“Salat yang lima waktu, salat Jumat sampai Jumat berikutnya adalah penghapus-penghapus dosa (yaitu dosa-dosa kecil)di antara waktu-waktu tersebut, selama tidak dilakukan dosa-dosa besar.” (10 HR. Muslim No. 233)
Semakna dengan hadis ini juga sabda Nabi.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةً مَكْتُوبَةٌ، فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَرُكُوْعَهَا وَسُجُوْدَهَا إِلَّا كَانَتْ لَهُ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى مِنَ الذُّنُوْبِ مَا لَم يَأْتِ كَبِيرَةً)
“Tidaklah seorang muslim telah tiba waktu salat wajib lalu ia pun memperindah wudunya, rukuknya, dan sujudnya kecuali akan menjadi penggugur dosa-dosanya yang telah lalu selama ia tidak melakukan dosa besar.” (HR Al-Baihaqi di as-Sunan al-Kubra (tahqiq at Turki) No 20794)
Imam adz-Dzahabi berkata,
فَتَعَيَّنَ عَلَيْنَا الْفَحْصُ عَنِ الْكَبَائِرِ مَا هِيَ لِكَيْ يَجْتَنِبَهَا الْمُسْلِمُ
Maka wajib bagi kita untuk mencari apakah dosa-dosa besar itu, agar seorang muslim bisa menjauhinya?
Syarah:
Jika kita telah tahu tentang keutamaan meninggalkan dosa-dosa besar, maka selanjutnya kita harus mengenal apa itu dosa-dosa besar tersebut. Hal ini sebagaimana perkataan seorang penyair,
عَرَفْتُ الشَّرِّ لَا لِلشَّرِّ لَكِنْ لِتَوَفَّيْهِ فَمَنْ لَا يَعْرِفُ الشَّرَّ مِنَ النَّاسِ يَقَعُ فِيْهِ
“Aku mengenal keburukan bukan untuk melakukan keburukan, namun untuk menjauhinya.
Barang siapa yang tidak mengenal keburukan maka dikhawatirkan terjatuh di dalamnya.” (Majma’ al-Amtsål wa-al-Hikam fi-asy-Syi’ri al-Arabi, (5/170).)
BACA JUGA: 2 Klasifikasi Dosa Besar
Bakr bin Khunais berkata,
كَيْفَ يَتَّقِي مَنْ لَا يَدْرِي مَا يَتَّقِى
“Bagaimana seseorang bisa menjaga diri dari suatu bahaya, jika ia tidak mengetahui bahaya apa yang ia harus jaga dirinya darinya.” (Hilyah al-Auliya wa-Thabaqat al-Ashfiya, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani (9/316).
Maka, jika kita ingin menghindari dosa besar, kita juga harus tahu apa itu dosa besar. Fokus pembahasan pada dosa besar, bukan maksudnya kita bermudah-mudahan dalam dosa kecil. Namun, jika kita terjerumus di dalam dosa kecil maka perkaranya lebih ringan di sisi Allah. Berbeda dengan dosa besar, pelakunya divonis sebagai orang fasik, terancam tidak masuk surga, dan masuk neraka. Maka kita harus lebih ekstra hati-hati agar tidak terjerumus di dalamnya.
Imam adz-Dzahabi berkata,
فَوَجَدْنَا الْعَلمَاءَ قَدِ اخْتَلَفُوا فِيهَا
Ternyata kita mendapati para ulama berbeda pendapat tentang dosa-dosa besar
Syarah:
Untuk mengenal apa saja dosa-dosa besar maka harus diketahui definisi dosa besar dan apa perbedaannya dengan dosa kecil. []
Sumber: Syarah Al-Kabair, Dosa-Dosa Besar, karya Imam Adz-Dzahabi Asy-Syafi’i / Penulis: Dr. Firanda Andirja, Lc., ΜΑ. / Penerbit UFA Office / Cetakan: Pertama, 2024
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


