Setiap insan pasti pernah merasakan lupa—lupa terhadap sesuatu yang seharusnya ia kerjakan, lupa dari kebaikan, atau bahkan lupa dari mengingat Allah. Namun, tahukah kita bahwa kelupaan tersebut bukanlah perkara sepele? Sebab, di balik lupa itu, setan memainkan perannya untuk menjauhkan manusia dari jalan kebaikan.
Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَاذْكُرْ رَبَّكَ إِذَا نَسِيتَ
“Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa.” (QS. al-Kahfi: 24)
BACA JUGA: Mengapa Manusia Senantiasa Lupa akan Nikmat dari Allah?
Ayat ini menjadi penegasan penting bahwa saat kita dilanda kelupaan, hendaknya segera kita gantikan dengan mengingat Allah. Karena dengan dzikir, hati yang lalai akan menjadi tenang, dan jalan kebaikan kembali terbuka.
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud dari ayat ini adalah agar kita segera kembali mengingat Allah setelah kelalaian menimpa kita. Karena lupa itu pada asalnya datang dari setan, sebagaimana firman Allah:
“Setan menjadikan aku lupa untuk menyebutnya.” (QS. Yusuf: 42)
Kelupaan bisa menjadi sebab hilangnya kesempatan untuk berbuat kebaikan. Seseorang yang hendak memberi nasihat, namun lupa, kehilangan kesempatan menyampaikan kebenaran. Seseorang yang berniat sedekah, namun lupa, kehilangan pahala yang besar. Oleh sebab itu, obat dari lupa bukan hanya mengeluh atau menyesali, melainkan segera berdzikir.
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Banyaklah kalian mengingat Allah, karena tiada sesuatu yang lebih dapat mengusir setan selain dzikir kepada-Nya.” Dzikir bukan hanya sekadar ucapan lisan, tetapi juga hadirnya hati yang sadar akan kehadiran Allah di setiap waktu.
BACA JUGA: Hidupkan Dzikir di Rumahmu
Ulama salaf juga menasihati, sebagaimana perkataan Mujahid rahimahullah: “Apabila engkau lupa dari kebaikan, maka setanlah yang membuatmu lupa. Maka bersegeralah mengingat Allah agar setan menjauh.” Ini adalah nasihat yang sederhana tetapi amat dalam maknanya. Sebab kelalaian yang berulang akan semakin membuka celah bagi setan untuk menyesatkan hati.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Dzikir bagi hati itu ibarat air bagi ikan; maka bagaimana keadaan ikan jika terpisah dari air?” Begitulah hati manusia yang terpisah dari dzikir: menjadi kering, rapuh, dan mudah diserang oleh tipu daya setan.
Mari kita jadikan ayat ini sebagai pengingat, bahwa lupa bukan akhir segalanya. Justru saat lupa, itulah kesempatan terbaik untuk kembali mengingat Allah. Semoga kita selalu diberikan taufik untuk berdzikir dalam setiap keadaan, dan dijauhkan dari kelalaian yang membuat kita jauh dari-Nya.
Wallahu a’lam. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


