JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Menyikapi Orang yang Mencaci Maki Kita

Dalam perjalanan hidup ini, tidak jarang kita mendapati hati tersakiti oleh perkataan orang lain. Terkadang kita dihina, dicaci maki, atau difitnah. Namun, bagaimana seharusnya kita sebagai seorang muslim menyikapinya? Kisah para ulama salaf memberikan teladan yang luar biasa.

Diriwayatkan dari Al Fadhl bin Abi Ayyasy, beliau berkata:

“Aku duduk bersama Wahb bin Munabbih. Lalu datang seorang laki-laki kepadanya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku melewati si fulan, dan ia mencaci makimu.’”

Mendengar itu, Wahb pun marah dan berkata, “Apakah setan tidak menemukan utusan selain kamu?”

BACA JUGA:  Nasihat Imam Hasan Al-Bashri: Jangan Kau Caci Orang Lain

Menariknya, tidak lama setelah itu, orang yang mencaci Wahb datang dan mengucapkan salam kepadanya. Maka Wahb membalas salamnya, menyambutnya, menyalaminya, dan mendudukkannya di sisinya. (Sifatush Shofwah 1/457)

Lihatlah bagaimana sikap bijak Wahb bin Munabbih. Meskipun hatinya sempat tersinggung mendengar kabar buruk, namun saat berhadapan langsung, ia tetap memuliakan tamunya, menampakkan akhlak yang luhur, dan tidak membalas cacian dengan kebencian.

Inilah teladan nyata dari para ulama salaf tentang bagaimana menjaga hati dari dendam dan amarah.

Imam Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia tidak akan peduli dengan ucapan manusia terhadapnya.”

Ucapan ini mengajarkan kita pentingnya fokus memperbaiki diri, daripada sibuk menanggapi hinaan orang lain.

Demikian pula Imam Syafi’i rahimahullah pernah berpesan: “Orang yang berakal tidak akan membalas celaan kecuali dengan diam atau memaafkan.”

Karena membalas celaan hanya akan menyeret kita kepada perdebatan tiada akhir, dan hati kita pun semakin kotor oleh kebencian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata: “Siapa yang menyakitimu dengan lisannya, maka bersabarlah. Sesungguhnya sabar adalah kunci kemenangan.”

BACA JUGA:  Mencaci Maki akan Dibalas di Neraka

Akhlak seperti inilah yang sejatinya mengangkat derajat seorang mukmin. Ketika dicaci, ia tidak membalas dengan cacian. Ketika dihina, ia mendoakan kebaikan. Ketika difitnah, ia memilih diam dan menyerahkan urusannya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba yang memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)

Maka, apabila kita mendengar ada yang mencela kita, jangan terburu-buru marah apalagi membalas dengan kejelekan. Terkadang, berita itu pun datang dari orang yang menjadi utusan setan untuk merusak hubungan dan menanamkan kebencian di hati kita.

Belajarlah dari Wahb bin Munabbih: tetaplah balas dengan salam, sambut dengan senyuman, dan doakan kebaikan. Inilah jalan menuju hati yang tenang, hubungan yang baik, dan pahala yang besar di sisi Allah. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Membaca dari Mushaf

Kajian

Talbis Iblis atas Ahli Ibadah dalam Perkara al-Qur-an

Kajian

Talbis Iblis dalam Perkara Membaca Al-Qur-an

Kajian

Pinjaman kepada Allah yang Tak Pernah Merugi