Mendidik ruhiyah anak sejak usia dini merupakan salah satu tanggung jawab terbesar orang tua. Pada usia tiga tahun ke atas, anak mulai menunjukkan perkembangan yang pesat dalam hal bahasa, rasa ingin tahu, serta kemampuan meniru perilaku orang di sekitarnya. Inilah fase penting untuk menanamkan nilai-nilai iman, akhlak, dan kebiasaan yang baik agar menjadi fondasi dalam kehidupannya kelak. Ruhiyah yang kuat akan membimbing anak untuk tumbuh dengan hati yang lembut, jiwa yang tenang, serta perilaku yang selaras dengan ajaran Islam.
Selain perhatian pada aspek fisik dan intelektual, orang tua juga harus menyeimbangkan pendidikan spiritual anak. Melibatkan anak dalam doa sederhana, memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, mengenalkan kisah para nabi, dan membiasakan adab sehari-hari adalah langkah kecil namun besar dampaknya. Pada usia ini, hati anak masih suci dan mudah dibentuk, sehingga setiap kata dan teladan orang tua akan sangat memengaruhi perjalanan ruhiyahnya. Dengan pendidikan ruhiyah yang konsisten, anak tidak hanya tumbuh cerdas secara akal, tetapi juga kaya dalam keimanan dan akhlak.
1- Memberi Teladan
Jiwa buah hati Ayah dan Bunda yang berusia 3 tahun sangat mudah menyerap nilai-nilai yang la lihat dan dengar. Misalnya ketika ia melihat kita shalat atau mendengar kita membaca Al-Qur’an, secara otomatis hal itu akan tertanam dalam ruh atau jiwanya.
Seperti halnya juga, ketika la ikut duduk bersama Ayah dan Bunda di meja makan untuk berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Lalu mendengar kita membaca doa dan menyaksikan kebahagiaan orang-orang yang berpuasa, maka ia pun akan merasa kenikmatan dari suasana tersebut. Juga jika memungkinkan ketika buah hati kita ikut menunalkan ibadah umrah atau haji, ia akan bergembira ketika memakai baju ihram, senang ketika melihat Ka’bah.
BACA JUGA: 2 Keistimewaan Bunda Muslimah
Ibadah-ibadah yang disaksikan oleh buah hati Ayah dan Bunda tersebut akan diserap oleh ruhnya. Dari situlah ruhnya akan terus tumbuh dan berkembang.
2- Memperdengarkan Zikir-Zikir
Ayah dan Bunda, pendidikan ruhiyah adalah penguatan hubungan antara manusia dengan Penciptanya, Allah ta’ala Maka, Asma Allah tidak boleh lepas dari pendengaran buah hati kita la harus mende-ngarkan Ayah dan Bunda ketika membaca zikir pagi
أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ
“Kami hidup di pagi ini dan seluruh kerajaan milik Allah.”
dan juga ketika membaca zikir sore,
أَمْسَيْنَا وَأَمْسَ الْمُلْكُ لِلهِ
“Kami hidup di sore ini dan seluruh kerajaan milik Allah”
Ketika mau makan, sang buah hati juga harus mendengar Ayah dan Bunda mengucapkan basmallah
بسم الله
“Dengan nama Allah”
dan ucapan hamdallah setelah selesai makan
الحمدُ لله
“Segala pujh milik Allah.”
Ingatlah Ayah dan Bunda, buah hati kita adalah peniru terbaik yang bisa menghafal apa saja yang sering la dengar dari kita. Maka, kita harus sering memperdengarkan kepadanya zikir-zikir tersebut. Ke-mudian, berilah hadiah ketika ia bisa menirukannya/
Adapun kata yang pertama kali hanus Ayah dan Bunda ajarkan ke pada buah hati saat a mulai akan berbicara adalah lafaz “Allah” Selanjutnya, secara perlahan, ajarkan buah hati kita kalimat tauhid
لا إله إلا الله
“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah
Setelah itu, ajarkan buah hati kallmat
محَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ
“Muhammad adalah utusan Allah
3- Menghafal Ayat Al-Qur’an
Ketika buah hati Ayah dan Bunda berusia 3 tahun, ia sudah bisa diajari untuk menghafal surat Al-Fatihah. Kemudian, ketika sudah berusia 4 tahun. Ayah dan Bunda bisa mengajarinya untuk meng hafal surat-surat pendek Lalu, setelah la berusia 5 tahun. Ayah dan Bunda bisa mengikutsertakan buah hati ke program Tahfidz Qur’an di masjid yang durasinya 30 menit setelah shalat Ashar, kemudian bertambah menjadi 1 jam setelah satu bulan berjalan
4- Menceritakan Kisah Para Nabi
Ayah dan Bunda bisa menceritakan kisah Nabi Ismail dan ibunya, Hajar. Ceritakan kepada buah hati Ayah dan Bunda peristiwa me-mancarnya air zam-zam dari tanah yang dinentak bayi Ismail Cerita itu akan membuat hati ananda terisi dengan rasa cinta kepada Allah la akan merasakan betapa besarnya rahmat dan kasih sayang Allah Kemudian, Ayah dan Bunda bisa juga bercerita sirah (perjalanan hi-dup) Nabi Muhammad. Misalnya, kisah kenikmatan yang Allah beri kan kepada Halimah Sa’diyyah dan keluarganya ketika Muhammad kecil hadir di tengah-tengah mereka, Kisah semacam ini akan me numbuhkan rasa cinta anak kepada Rasulullah,
Lalu, ceritakan juga kepada buah hati Ayah dan Bunda tentang peris-tiwa hijrahnya Rasulullah. Saat itu, Allah meriutup penglihatan orang orang musyrik agar tak melihat Rasulullah keluar dari rumahnya Padahal, Rasulullah lewat di hadapan mereka. Kemudian, beliau pergi ke Madinah ditemani oleh sahabat terbaiknya, Abu Bakar. Di tengah perjalanan, keduanya beristirahat di dalam Gua Hira. Sesampainya di sana, tiba-tiba seekor burung merpati datang dan membuat sarang di mulut gua. Lalu, datang pula seekor laba-laba dan merajut sarang di pintu masuk Gua Hira. Sehingga, orang-orang musyrik yang mengejar Rasulullah pun berfikir bahwa beliau tidak masuk ke dalam gua tersebut.
Kisah semacam itu akan menambah rasa cinta buah hati Ayah dan Bunda kepada Allah. Cerita itu juga bisa me-nambah keyakinan mereka tentang pertolongan Allah dan penjagaan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang saleh.
BACA JUGA: Zaid bin Haritsah: Anak Angkat Rasulullah ﷺ
Selain itu. Ayah dan Bunda juga bisa menceritakan salah satu kisah favorit anak-anak, yakni kisah Nabi Musa Ceritakan kepada mereka peristiwa ketika Nabi Musa memukul tongkatnya ke laut. Kemudian, atas izin Allah, terbelahlah laut tersebut hingga bisa dilewati Nabi Musa dan kaumnya. Di belakang mereka, Firaun dan tentaranya me-ngejar dan ikut menyeberang, Tapi, ketika Nabi Musa dan kaumnya telah tiba di bibir pantai, tiba-tiba Allah menutup laut itu kemball Maka, tenggelamlah Firaun dan bala tentaranya.
Selanjutnya, secara perlahan Ayah dan Bunda bisa melatihnya untuk bersedekah dengan sebagian uang sakunya sendiri Tanamkan juga pemahaman kepada buah hati bahwa uang yang ia sedekahkan akan dilipatgandakan Allah la pun akan mendapat pahalanya di surga. Ti-dak kalah penting juga, Ayah dan Bunda harus memberi pemahaman kepada anak bahwa Allah mencintai orang-orang yang bersedekah
5- Melatih Haji dan Umrah
Ayah dan Bunda bisa mengajak buah hati un tuk mengikuti kegiatan manasik haji dan um-rah yang diselenggarakan TPQ atau lembaga pendidikan Islam. Bahkan, jika mampu, Ayah dan Bunda bisa mengajaknya langsung untuk melaksanakan haji atau umrah di Tanah Suci
Apapun itu, ajari buah hati untuk ber-ihram Ajak ia menghafal niat haji dan bacaan talbiyah bersama Ayah dan Bunda Kemudian, laku kan thawaf mengelilingi Ka’bah (atau miniaturnya), sa’l, wuquf, me lempar jumrah, dan tahallul
Dengan melatih ibadah-ibadah tersebut, buah hati Ayah dan Bunda akan mendapat pendidikan ruhiyah yang akan tertariam dalam jiwa-nya. Pun akan melekat pada karakternya seumur hidup. []
Sumber: Rumahku Madrasah Pertamaku / Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut / Penerbit: Maskana Media / Cetakan Kedua, Januai 2009
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


