Dia tumbuh dengan manja di antara kedua orang tuanya. Setelah ayahnya meninggal, ibunya merawatnya hingga besar. la tumbuh menjadi anak yang kuat dan mandiri. Setelah dewasa ia bekerja di bidang perdagangan. Sebelum meninggal, ayahnya mewariskan harta yang cukup banyak untuknya. Do’a ibunya yang baik hati senantiasa menyertainya di setiap tempat, juga di setiap langkah yang dilaluinya. Ibunya selalu berdoa untuknya agar mendapatkan petunjuk, sehingga hartanya semakin melimpah dan perdagangannya semakin maju.
Ibunya masih senantiasa memerhatikannya dan menyelesaikan berbagai urusannya. Ia bahagia jika anaknya bahagia, dan ia sedih jika anaknya sedih. la senantiasa membantunya, menjadikannya cinta pada kehidupan, dan juga memotivasinya untuk giat bekerja. Setelah Allah “Azza wa Jalla, ibunya adalah penyebab berlimpahnya harta yang ia miliki, juga popularitasnya di masyarakat.
Kebahagiaan sang ibu tidak akan sempurna kecuali dengan pernikahan anaknya. Dengan begitu, ia dapat merasakan kebahagiaan dengan anaknya, juga dengan cucu-cucunya. Anggota keluarga pun bertambah lengkap sehingga sempurnalah kebahagiaan saat bertamasya.
BACA JUGA: Kisah Anak Durhaka: Membunuh dan Durhaka karena Kecanduan
Ibunya telah memilihkan untuknya seorang wanita untuk ia nikahi, namun ia tidak setuju dengan wanita pilihan ibunya itu. la justru memilih sendiri seorang wanita untuk dinikahi. la pun bahagia dengan pernikahannya itu, namun kebahagiaan yang dirasakan ibunya lebih besar lagi.
Ibunya berdoa pada Rabb-nya agar memberikan rezeki pada anaknya berupa keturunan yang saleh agar dapat merasakan senang dan bahagia bersama mereka. Allah Ta’ala pun mengabulkan doa ibunya dan memberikan rezeki berupa dua orang anak yang taat padanya, hingga ia pun mencintai keduanya lebih dari mencintai dirinya sendiri, memelihara keduanya dan senantiasa terjaga di malam hari demi kenyamanan keduanya, hingga mereka besar dan menjadi pemuda yang mampu menahan penderitaan.
Sementara itu ibunya sudah semakin tua dan membutuhkan seseorang yang dapat merawatnya. Namun, ia malah mengeluhkan hal itu, meskipun ia memiliki harta berlimpah, juga kedudukan yang tinggi. Hanya saja, dia bakhil pada ibunya untuk mengangkat seorang pembantu yang dapat merawatnya. Ia pun mulai membuat susah ibunya dan memikirkan cara untuk dapat berlepas diri darinya, karena ia sudah tidak tahan lagi walaupun hanya untuk melihat ibunya. Maka muncullah pikiran untuk menitipkan ibunya di panti jompo.
Celakalah ia, anak yang durhaka. Mengapa begitu mudahnya ia menitipkan ibunya di panti jompo. Manakah baktinya untuk ibunya atas waktu berjaga di malam hari itu, atas penderitaannya, atas kesabarannya, atas kasih sayangnya? Semua itu hilang begitu saja bagai ditiup angin.
Ibumu yang telah mengerahkan seluruh tenaganya demi kamu, inikah balasan dari anak satu-satunya? Sungguh celakalah kamu.
Pada suatu kesempatan, dia pergi mengunjungi salah satu temannya untuk mengadukan permasalahan yang dihadapinya. la mengeluhkan masalahnya kepada temannya, “Bayangkan, saudaraku. Tidak lama setelah aku titipkan ibuku di panti jompo. Keluarga juga kerabatku yang aku kenal, baik yang dekat maupun jauh mencelaku.”
Temannya menjawab dengan terkejut, “Apa yang kamu maksud dengan ibumu yang kamu titipkan di panti jompo? Apakah dia itu ibumu yang telah mengandungmu? Ibumu yang bernama fulanah yang telah mendidikmu ketika kamu kecil, dan telah memeliharamu ketika kamu besar, atau apakah kamu memiliki ibu selain dia?”
Ia menjawab, “Iya, ia ibuku yang bernama fulanah! Memangnya kenapa? Bukankah pemerintah membuka panti (jompo) untuk orang-orang seperti dia?”
Temannya mensihati, “Wahai Zat yang Maha Suci. Ya Allah, jauhkanlah kebencian-Mu dan kemarahan-Mu dari kami. Apakah dengan keberadaan ibumu kamu menjadi miskin, padahal kamu ini kaya raya, kedudukan dan kekayaan juga berlimpah. Kembalilah pada jalan yang benar. Mohonlah ampunan kepada Allah! Pergilah ke ibumu dan ciumlah kedua kakinya! Bertobatlah kepada Allah dan beristigfarlah pada-Nya.
Mintalah maaf kepada ibumu. Bawalah kembali ibumu ke rumah dan sediakanlah orang yang akan selalu melayaninya.
Berbuatlah demi kebahagiaan dan kesenangannya. Adapun jika yang telah kamu lakukan itu karena mengharap sesuatu yang kamu pertahankan, maka aku tidak pernah tahu jika kamu itu ibarat binatang tunggangan di antara laki-laki, tapi yang aku tahu kamu adalah seorang laki-laki sejati.”
Setelah mendengar nasihat dari temannya ini, ia malah semakin merasa sesak, bangkit amarahnya, lalu berkata, “Saudaraku, jika kamu hanya ingin menambah kepedihanku maka aku tidak butuh untuk mengenalmu.”
Temannya dengan tegas menjawab, “Ini tidak akan menjadikanku mulia karena seorang anak durhaka sepertimu, karena berteman dengan orang-orang sepertimu adalah kehinaan.”
Hari-hari pun berlalu sedangkan ibunya masih terbuang di panti jompo dan tidak ada seorang pun yang menjenguknya. Ia menderita di masa tua, terserang penyakit, dan kesedihan. Sakitnya pun bertambah parah, namun anak itu belum juga menjenguknya walaupun sekali. Akhirnya ia dipindahkan ke rumah sakit, namun hati anaknya tetap tidak bersimpati kepadanya.
Para kerabat dan anak-anaknya sudah menganjurkannya untuk segera mengunjunginya di rumah sakit, namun ia menolak dan bersikap takabur, maka berdosalah ia. Sakit ibunya bertambah parah, dan kematian pun telah mendekatinya. Anak durhaka itu sebenarnya sudah tahu bahwa ibunya sedang menghadapi sakaratul maut. Tetapi. apakah ia sadar, bertobat dan kembali pada-Nya. Sama sekali tidak. la malah pergi ke luar negeri secara mendadak. Tidak ada seorang pun yang tahu.
BACA JUGA: Kisah Anak Durhaka: Mengambil Uang Ayahnya
Setelah ibunya meninggalkan dunia dengan segala kisah tragisnya dan dikuburkan, barulah ia pulang. Namun ia pulang untuk menuai hasil yang telah ia tanam. Betapa buruknya apa yang telah ia tanam. la telah menanam kedurhakaan dan kemaksiatan, lalu apakah yang akan ia tuai? Apa pula akibatnya nanti? Tidak diragukan lagi bahwa dia akan menuai kesengsaraan dan kesialan.
Belum lagi tanah kuburan ibunya kering. Belahan jiwanya dan anak yang paling dicintainya mengalami kecelakaan lalu lintas yang sangat tragis hingga anaknya menjadi korban. Kejadian ini ibarat pisau besar yang ditancapkan pada hatinya. Belum berlalu satu tahun dari kejadian memilukan tersebut, anak nomor dua, yang menjadi tangan kanannya dalam bisnis dan pekerjaannya, menderita suatu penyakit yang tidak bisa diobati. la pun harus senantiasa berada di atas tempat tidur. Tak ada pilihan lain, ia lalu membawanya ke pelbagai negara untuk mengobatinya, namun semua itu tidak ada gunanya. Akhirnya, anak nomor dua itu pun menyusul saudaranya, dan tinggallah sang ayah sendirian.
Beberapa waktu kemudian, kedua tangannya patah sehingga kondisi mentalnya memburuk. Bumi yang luas pun terasa sempit olehnya. Bisnisnya hancur. Para pegawainya mengambil barang dagangannya dan mencurinya. la pun mulai menuai hasil tanamannya. Ia menyaksikan kehidupannya hancur berserakan di hadapan kedua matanya. Ia juga menyaksikan segala yang telah dia bangun runtuh di hadapannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Inilah hukuman yang senantiasa menghampirinya setiap hari, setiap jam, setiap saat. Dan Allah Maha Tahu akan tempat kembalinya di akhirat. []
Sumber: Kisah Anak Durhaka dan Orang Tua Lalai / Penulis: Khalid Abu Shalih / Penerbit: Aqwam / Cetakan 2: Cetakan II: Jului 2018 M/Dzul Qa’dah 1439 H
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


