JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibadah

Menginfakkan Kelebihan Harta Itu Lebih Baik, Menahannya Itu Buruk

Harta merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang harus disyukuri dan digunakan dengan sebaik-baiknya. Namun, tidak sedikit orang yang terlalu mencintai hartanya hingga enggan berbagi, meskipun memiliki kelebihan rezeki.

Padahal, Islam mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi juga dapat menjadi jalan untuk membantu orang lain dan meraih pahala. Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan bahwa menginfakkan kelebihan harta lebih baik daripada menahannya.

Menginfakkan Harta Lebih Baik daripada Menahannya

Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ أَنْ تَبْذُلَ الْفَضْلَ خَيْرٌ لَكَ، وَأَنْ تُمْسِكَهُ شَرٌّ لَكَ، وَلَا تُلَامُ عَلَى كَفَافٍ، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

“Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau menginfakkan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu. Namun, jika engkau menahannya, maka itu lebih buruk bagimu. Engkau tidak akan dicela karena mencukupkan diri dengan harta yang sekadar memenuhi kebutuhanmu. Mulailah dengan memberi nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.” (HR. Muslim no. 1036).

BACA JUGA: Apa Bedanya Infak dan Sedekah?

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kelebihan harta sebaiknya tidak hanya disimpan untuk kepentingan diri sendiri. Ada hak orang lain yang bisa dibantu melalui sedekah dan infak.

Namun, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar seseorang tidak melupakan kebutuhan dirinya dan keluarganya. Nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggungan harus didahulukan sebelum membantu pihak lain.

Jangan Lupakan Hak Keluarga dan Orang yang Membutuhkan

Allah SWT juga memerintahkan umat Islam untuk menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan-Nya.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli, tidak ada lagi persahabatan, dan tidak ada lagi syafaat.” (QS. Al-Baqarah: 254).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesempatan berinfak tidak berlangsung selamanya. Selama masih hidup dan memiliki kemampuan, seorang Muslim hendaknya memanfaatkan hartanya untuk melakukan kebaikan.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat tersebut menjelaskan pentingnya berinfak dari rezeki yang Allah anugerahkan sebelum datangnya hari kiamat.

BACA JUGA: Infak di Jalan Allah

Tangan yang Memberi Lebih Baik daripada yang Meminta

Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Maksudnya, orang yang memberi lebih utama daripada orang yang meminta-minta.

Karena itu, seorang Muslim hendaknya memiliki semangat untuk berbagi sesuai kemampuan. Tidak harus menunggu menjadi kaya raya untuk bersedekah. Bahkan, kelebihan kecil yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi amal kebaikan.

Jangan sampai kecintaan terhadap harta membuat hati menjadi kikir. Sebab, harta yang ditahan tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia. Sementara itu, harta yang diinfakkan di jalan Allah dapat menjadi bekal pahala untuk kehidupan akhirat. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibadah

Seberapa Besar Pahala Membaca Surat Al-Fatihah dalam Sehari?

Ibadah

Amalan Tasbih, Tahmid, dan Takbir 10 Kali agar Doa Dikabulkan

Ibadah

Sempurnakan Ibadahmu dengan Istighfar

Ibadah

Jangan Sampai Tidak Tilawah dalam Setiap Harimu