Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal, tidak hanya untuk kebaikan pribadi tetapi juga untuk kemaslahatan umat. Salah satu bentuk amal yang sangat dianjurkan adalah berinfak di jalan Allah. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang menginfakkan sepasang benda di jalan Allah, maka para penjaga surga akan memanggilnya, ‘Hai Fulan, kemarilah!’” Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, itulah orang yang tidak akan merugi dan sengsara.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Aku berharap engkau termasuk di antara mereka.” (HR. Al-Bukhari, no. 3216)
Hadits ini sarat makna. Betapa besar kemuliaan yang Allah siapkan bagi orang-orang yang rela menginfakkan harta bendanya demi kebaikan dan perjuangan agama-Nya. Yang dimaksud dengan “sepasang benda” menurut para ulama adalah dua jenis dari sesuatu, misalnya dua ekor unta, dua helai pakaian, atau dua keping dinar. Hal ini menggambarkan kelapangan hati dan kesungguhan dalam beramal.
BACA JUGA: Orang yang Berinfak akan Mendapatkan Gantinya
Pahala Berlipat Ganda
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini menjelaskan bahwa satu amal infak yang dilakukan dengan ikhlas dapat bernilai sangat besar di sisi Allah. Amal kebaikan bukan hanya sekadar gugur sebagai kewajiban, tetapi menjadi sebab turunnya rahmat dan ampunan-Nya.
Pintu Surga untuk Ahli Infak
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang menginfakkan dua harta (sepasang) di jalan Allah, maka dia akan dipanggil oleh para malaikat surga dari pintu-pintu surga: ‘Wahai hamba Allah, kemarilah menuju kenikmatan.’” (HR. Muslim, no. 1027)
Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang gemar berinfak memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Bahkan, ia akan mendapat sambutan khusus dari para penjaga surga.
Keikhlasan Sebagai Kunci
Namun, keutamaan ini hanya dapat diraih dengan satu syarat penting: keikhlasan. Syaikh Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa amal tanpa ikhlas seperti tubuh tanpa ruh; nampak secara lahir, tetapi tak bernilai di sisi Allah. Oleh sebab itu, setiap amal infak hendaknya dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah, bukan untuk dipuji atau dihormati oleh manusia.
BACA JUGA: Infaq Ustman bin Affan
Teladan Para Sahabat
Para sahabat Nabi ﷺ adalah teladan utama dalam hal kedermawanan. Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiallahu’anhu misalnya, pernah menyumbangkan seluruh hartanya untuk perjuangan Islam. Umar bin Khattab radhiallahu’anhu pun pernah bersedekah setengah dari hartanya. Mereka memahami bahwa apa pun yang diinfakkan tidaklah hilang, melainkan disimpan sebagai bekal di akhirat.
Penutup
Berinfak bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang niat dan keikhlasan. Semoga kita semua termasuk golongan yang disebut dalam hadits ini: orang-orang yang dengan amalnya mendapat panggilan istimewa dari para penjaga surga. Mari kita jadikan infak sebagai bagian dari keseharian, sekecil apa pun, karena di situlah letak keberkahan hidup kita. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


