Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu sahabat Rasulullah ﷺ yang terkenal dengan kezuhudan dan keberaniannya dalam menyampaikan kebenaran. Nama aslinya adalah Jundub bin Junadah al-Ghifari, berasal dari kabilah Ghifar yang hidup di wilayah antara Makkah dan Madinah. Ia termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam bahkan sebelum Rasulullah ﷺ berdakwah secara terbuka. Ketika mendengar tentang diutusnya seorang nabi di Makkah, Abu Dzar segera pergi mencari kebenaran itu sendiri. Setelah bertemu Rasulullah ﷺ dan mengucapkan dua kalimat syahadat, ia kembali ke kaumnya untuk mengajak mereka kepada Islam, sehingga banyak dari Bani Ghifar memeluk agama tauhid.
Abu Dzar dikenal sebagai sosok yang sangat jujur, tegas terhadap kezaliman, dan tidak silau oleh dunia. Ia termasuk sahabat yang paling keras menentang penimbunan harta dan ketidakadilan sosial pada masa kekhalifahan Utsman bin ‘Affan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentangnya, “Tidak ada seorang pun di bawah langit dan di atas bumi ini yang lebih jujur dalam ucapannya daripada Abu Dzar” (HR. Ahmad). Dalam kehidupan sehari-harinya, ia memilih hidup sederhana dan menjauh dari gemerlap dunia. Abu Dzar wafat di daerah Rabdzah dalam keadaan zuhud dan berserah diri kepada Allah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang telah mengabarkan bahwa ia akan hidup dan mati dalam kesendirian — namun tetap dalam kemuliaan iman.
Berikut beberapa nasihat darinya.
وَعَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ قَالَ : قَالَ أَبُو ذَرَّ الْغِفَارِيُّ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَقَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنَا جُنْدُبُ الْغِفَارِيُّ هَلُمُوْا إِلَى الْأَخِ النَّاصِحِ الشَّفِيقِ فَاكْتَنَفَهُ النَّاسُ فَقَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَرَادَ سَفَرًا أَلَيْسَ يَتَّخِذُ مِنَ الزَّادِ مَا يَصْلُحُهُ وَيَبْلُغُهُ، قَالُوا : بَلَى قَالَ : فَإِنَّ سَفَرَ طَرِيقِ الْقِيَامَةِ أَبْعَدُ مَا تُرِيدُوْنَ، قَالُوا : وَمَا يَصْلُحُنَا قَالَ : حُجُوا حَجَّةً لِعَظَائِمِ الْأُمُورِ، وَ صُوْمُوا يَوْمًا شَدِيدًا حَرُّهُ لِطُوْلِ النُّشُورِ، وَصَلُّوا رَكْعَتَيْنِ فِي سَوَادِ اللَّيْلِ لِوَحْشَةِ الْقُبُورِ، كَلِمَةُ خَيْرٍ تَقُوْلُهَا، أَوْ كَلِمَةُ شَرَّ تَسْكُتُ عَنْهَا لِوُقُوْفِ يَوْمٍ عَظِيمٍ، تَصَدَّقُ بِمَالِكَ لَعَلَّكَ تَنْجُوْ مِنْ عَسِيْرِهَا، إِجْعَلِ الدُّنْيَا مَجْلِسَيْنِ مَجْلِسًا فِي طَلَبِ الْحَلَالِ، وَمَجْلِسًا فِي طَلَبِ الْآخِرَةِ، الثَّالِثُ يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ لَا تَرِدُهُ، إِجْعَلِ الْمَالَ دِرْهَمَيْنِ دِرْهَمًا تُنْفِقُهُ عَلَى عِيَالِكَ مِنْ حِلَّهِ، وَدِرْهَمًا تُقَدِّمُهُ
لآخِرَتِكَ، الثَّالِثُ يَضُرُّكَ وَلَا يَنْفَعُكَ لَا تَرِدُهُ.
Dari Sufyan Ats-Tsauri berkata, Abu Dzar Al-Ghifari pernah berkata di sisi Ka’bah, “Duhai manusia, aku adalah Jundub Al-Ghifari. Pergilah kemari untuk menemui saudara kalian, seorang pemberi nasihat yang benar-benar menaruh rasa belas kasih.”
Lalu orang-orang pun mengelilinginya, baru kemudian Abu Dzar berkata, “Apa pendapat kalian bila salah seorang dari kalian ingin melakukan perjalanan, bukankah dia akan mempersiapkan bekal yang terbaik dan dapat mengantarkannya sampai tujuan?”
BACA JUGA: Mutiara Nasihat Ali bin Abi Thalib (Sahabat, Madinah, w. 40 H)
Mereka menjawab, “Benar, memang demikian adanya.”
“Sesungguhnya perjalanan menuju akhirat lebih jauh daripada yang kalian tuju di dunia ini,” kata Abu Dzar.
Mereka bertanya, “Lalu bekal apa yang baik bagi kami?”
Abu Dzar menjawab, “Berhajilah kalian untuk menghadapi urusan yang amat agung, berpuasalah pada hari yang panasnya sangat terik untuk menghadapi lamanya hari kebangkitan, dan laksanakanlah shalat dua rekaat di kegelapan malam untuk menghadapi kengerian dalam kubur. Ucapkanlah perkataan yang baik dan diamlah dari perkataan yang buruk untuk menghadapi lamanya berdiri pada hari yang agung (hari kiamat), sedekahkanlah hartamu agar engkau selamat dari kesulitan pada hari tersebut. Jadikanlah dunia ini menjadi dua majelis; majelis untuk mencari yang halal dan majelis untuk mencari akhirat, majelis ketiga hanya mendatangkan madharat dan tidak memberi manfaat maka jangan kau datangi. Dan jadikanlah hartamu menjadi dua dirham; satu dirham halal yang kamu nafkahkan untuk keluargamu dan satu dirham lagi yang kamu salurkan untuk akhiratmu, dirham yang ketiga hanya mendatangkan madharat dan tidak memberi manfaat kepadamu, maka janganlah kamu mendatanginya.” (1/591-592).
BACA JUGA: Mutiara Nasihat Abdullah bin Mas’ud
وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ : وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ مَا انْبَسَطْتُمْ إِلَى نِسَائِكُمْ وَلَا تَقَارَرْتُمْ عَلَى فُرُشِكُمْ، وَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَنِي يَوْمَ خَلَقَنِي شَجَرَةً تُعْضَدُ وَيُؤْكُلُ ثَمَرُهَا.
Dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Abu Dzar berkata, “Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui niscaya kalian tidak akan bersenang-senang dengan istri-istri kalian dan tidak pula menetap di atas kasur-kasur kalian. Demi Allah, aku suka bila pada hari aku diciptakan, Allah menciptaku sebagai pepohonan yang ditebang dan dimakan buahnya.” (1/595).
عَنِ ابْنِ عُمَرِ بْنِ الْخَطَابِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ : قَالَ أَبُو ذَرَّ : الصَّاحِبُ الصَّالِحُ خَيْرٌ مِنَ الوَحْدَةِ، وَالْوَحْدَةُ خَيْرٌ مِنْ صَاحِبِ السُّوءِ، وَمُمْلِي الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنَ الصَّامِتِ، وَالصَّامِتُ خَيْرٌ مِنْ مُمْلِي الشَّر….
Dari Ibnu Umar bin Khaththab dari ayahnya berkata, Abu Dzar pernah berkata, “Bergaul dengan teman yang shalih itu lebih baik daripada bersendirian, dan bersendirian itu lebih baik daripada bersama teman yang buruk. Orang yang banyak mengucapkan kebaikan itu lebih baik daripada orang yang diam, dan orang yang diam lebih baik daripada orang yang banyak berkata buruk…” (1/595-596). []
Sumber: Ensklopedia Hikmah / Penulis: Ibnul Andil Bari El-“Afifi / Penerbit: Kuttab / Cetakan 1, 2021
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


