Allah SWT memberi nasihat tentang maut kepada Rasul-Nya, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati.”
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Awsath, Abu Na’im dalam al-Hilyah, al-Hakim dalam Mustadrahnya, dan lain-lain disebutkan bahwa Sahabat Ali ibn Abi Thalib, berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Hai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, sebab kau pasti mati. Cintailah orang yang kau sukai, tapi pasti kau akan berpisah dengannya. Beramallah sesukamu, sebab pasti (amal)mu akan dibalas. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin ada pada ibadah amalannya, dan kehormatannya ada pada sikap tidak membebani orang lain.”
Kami akan sampaikan beberapa nas dari Allah dan Rasul yang mengingatkan kematian. Ini adalah kebiasaan orang saleh, yakni mereka mengingatkan diri mereka dan orang lain akan kematian.
Ali bin Abi Thalib berkata, “Dunia berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan ke depan. Keduanya memiliki pengikut. Jadilah pengikut akhirat dan jangan menjadi pengikut dunia. Sebab, hari ini adalah amal dan bukan hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada amal.” Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya, bab “Harapan dan Optimisme.”
BACA JUGA: Kisah Nabi Musa ‘Alaihis Salam dan Malaikat Maut
Di antara nasihat para ulama sebagaimana disebutkan dalam kitab at Tadzkirah adalah sebagai berikut:
“Wahai orang yang tertipu, renungkanlah kematian beserta sekarat, kesulitan, dan kepahitannya. Sesungguhnya maut adalah janji yang paling jujur, dan hakim yang paling adil. Cukuplah maut menakutkan hati, membuat mata menangis, memisahkan kelompok-kelompok, menghancurkan kelezatan dan kenikmatan hidup, serta memutuskan angan-angan dan harapan.”
“Apakah kau merenungkan, hai anak Adam, hari kejatuhan-mu dan perpindahanmu dari tempat tinggalmu, saat kau pindah dari keluasan menuju kesempitan, saat temanmu mengkhianati-mu, saat saudaramu meninggalkanmu, saat kau dipindahkan darı tempat tidur dan selimutmu ke dalam belahan bumi, lalu mereka menutupimu dengan tanah? Hai penumpuk harta dan penghimpun gedung, demi Allah, kau tak memiliki harta lagi kecuali kafan yang menempel di badan. Bahkan kafan itu pun akan hancur dan binasa, dan jasadmu akan jadi makanan tanah.”
Imam Qurthubi menukil dari Yazid ar-Ruqasyi bahwa ia berkata kepada dirinya sendiri, “Celaka dirimu, hai Yazid! Siapa yang salat untukmu setelah kau mati? Siapa yang puasa untukmu setelah kau mati? Siapa yang dapat membuat Tuhanmu rida kepadamu setelah kau mati?” Kemudian ia berkata, “Hai manusia, apakah kalian tak menangisi diri kalian sepanjang sisa hidup kalian? Siapakah yang kubur adalah penuntutnya, kubur adalah rumahnya, tanah adalah tempat tidurnya, cacing adalah temannya, dan bersama itu semua ia menanti kiamat, bagaimana-kah keadaannya?”
Iman Qurthubi berkata di bagian lain:
“Bayangkanlah, wahai orang yang tertipu, saat sakaratul maut mendatangimu, saat jeritan dan kesulitan maut menjemputmu! Ketika itu, seseorang berkata, “Sungguh si fulan telah berwasiat. hartanya sudah dihitung.” Yang lain berkata, “Sungguh si fulan lidahnya berat. la tak lagi mengenal tetangganya dan tak dapat berbicara dengan saudara-saudaranya.” Kau mendengar, tapi tak mampu menjawab. Bayangkanlah dirimu, hai anak Adam, saat diangkat dari tempat tidurmu ke dipan tempat kau dimandikan, lalu kau dimandikan dan dikafani. Keluarga dan tetangga jadi takut kepadamu. Para kawan dan handai taulan menangisimu. Orang yang memandikanmu berkata, “Mana istrinya? Suamimu telah tiada! Mana anak-anaknya yang kini menjadi yatim? Kalian ditinggalkan oleh ayah kalian, dan kalian takkan melihatnya lagi setelah hari ini untuk selamanya!” Mereka menyenandungkan:
BACA JUGA: Maut, Pemberi Nasihat Terbesar
“Wahai orang yang tertipu, kenapa kau bermain
Kau membuat angan-angan padahal kematianmu amat dekat
Kau tahu, ambisi adalah lautan tak bertepi vang perahu nya adalah dunia.
maka berhati-hatilah agar kau tak binasa
Kau tahu, maut membinasakanmu dengan cepat
dan kau yakin rasanya tidak enak
Seakan kau telah berwasiat dan kau lihat anak-anak yatim
dan ibu mereka yang merasa kehilangan, meratap dan menangis
Mereka dilanda kesedihan kemudian mereka mencakar wajah
Sehingga terlihat oleh laki-laki setelah sebelumnya terhijab
Orang yang membawa kafan itu bergerak ke arahmu Lalu tanah ditimbun ke tubuhmu, air mata pun tumpah berderai.” []
Sumber: Ensiklopedia Kiamat / Penulis: Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar / Penerbit Serambi / Cetakan 1, Mei 2002
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


