JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ramadhan

Petunjuk I’tikaf Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam (2-Habis)

Beliau selalu berada di dalam masjid, tidak keluar kecuali untuk memenuhi hajat. Aisyah radhiallahu anha berkata,

وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا ) رواه البخاري (2029) ومسلم (297) . وفي رواية لمسلم : ( إِلا لِحَاجَةِ الإِنْسَانِ ) . وَفَسَّرَهَا الزُّهْرِيُّ بِالْبَوْلِ وَالْغَائِط .

“Beliau tidak pulang ke rumah kecuali jika memiliki hajat jika sedang i’tikaf.” (HR. Bukhari, no. 2029, Muslim, no. 297)

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusia.”

BACA JUGA:  7 Adab Itikaf

Az-Zuhri menafsirkannya, “Buang air kecil dan besar.”

Adalah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selalu menjaga kebersihannya. Beliau mengeluarkan kepalanya dari masjid ke kamar Aisyah, lalu rambutnya dicuci dan disisir olehnya.

Bukhari (2028) dan Muslim (297) meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصْغِي إِلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ مُجَاوِرٌ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَأَنَا حَائِضٌ . وفي رواية للبخاري ومسلم : (فَأَغْسِلُهُ) . وترجيل الشعر تسريحه .

“Adalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyorongkan kepalanya kepadaku saat beliau i’tikaf di masjid, lalu aku sisir saat aku sedang haid.” (Dalam riwayat Muslim, ‘Lalu aku mencucinya.’)

Al-Hafiz berkata, “Dalam hadits terdapat kebolehan membersihkan dan mengharumkan serta mandi dan berhias termasuk menyisir. Jumhur berpendapat, tidak ada sesuatu yang dimakruhkan, kecuali apa yang dimakruhkan di dalam masjid.

Termasuk petunjuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam, jika dia sedang i’tikaf tidak membesuk orang sakit dan tidak takziah. Hal tersebut agar lebih berkonsentrasi untuk munajat kepada Allah Ta’ala. Realisasi hikmah dari i’tikaf adalah memutuskan hubungan dengan manusia untuk menghadap Allah Ta’ala.

Aisyah berkata,

السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ أَنْ لا يَعُودَ مَرِيضًا ، وَلا يَشْهَدَ جَنَازَةً ، وَلا يَمَسَّ امْرَأَةً وَلا يُبَاشِرَهَا ، وَلا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ إِلا لِمَا لا بُدَّ مِنْهُ (رواه أبو داود، رقم 2473 وصححه الألباني في صحيح أبي داود)

“Sunah bagi orang yang i’tikaf untuk tidak membesuk orang sakit dan tidak takziah serta tidak berjimak atau mencumbu isterinya, juga tidak keluar dari masjid untuk suatu keperluan, ke cuali perkara yang harus.” (HR. Abu Daud, no. 2473, dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Shahih Abu Daud)

” Sebagian isteri-isteri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menemuinya saat beliau sedang i’tikaf.

Apabila mereka pulang, maka beliau ikut mengantarkannya. Hal itu terjadi di malam hari.”

BACA JUGA:  Seperti Ini Itikaf Rasulullah ﷺ 

Dari Shafiah, isteri Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk menemuinya saat dia i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Lalu dia berbincang-bincang sesaat dengannya. Kemudian dia bangkit pulang, lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam ikut bangkit mengantarkannya ke rumahnya.” (HR. Bukhari, no. 2035, Muslim, no. 2175)

Kesimpulan pendapat adalah bahwa I’tikaf nabi shallallahu alaihi wa sallam menggambarkan kemudahan dan tidak memberatkan. Waktunya adalah berzikir kepada Allah Ta’ala dan menyambut ketaatan dan Lailatul Qadar.

Lihat: Zadul Ma’ad, Ibnul Qayim, 2/90, Al-I’tikaf, Nazratun Tarbawiyah, DR. Abdullati Balthu. []

SUMBER: ISLAMQA

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: wa.me/6285860492560 (silakan mendaftar terlebih dahulu)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam20
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ramadhan

Khawatir Amalan Tidak Diterima

Ramadhan

3 Amalan Menjelang Idul Fitri

Ramadhan

Bagaimana Seharusnya Keadaan Kita di Hari ‘Idul Fithri?

Ramadhan

Zakat Fitrah Pensuci Jiwa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *