Saudaraku, pernahkah kita bertanya dalam hati: Apakah Allah menginginkan kebaikan untukku? Pertanyaan ini bukan sekadar keresahan jiwa, tetapi menjadi cermin atas harapan seorang hamba yang ingin hidupnya bermakna di sisi Rabb-nya.
Dengarkan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ . فَقِيلَ كَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ الْمَوْتِ .
“Jika Allah menginginkan kebaikan untuk seorang hamba, maka Dia akan mempekerjakannya.”
Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah mempekerjakannya, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Allah akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih sebelum meninggal dunia.”
(HR. Ahmad no. 11625, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 305)
Hadis ini, saudaraku, adalah pengingat agung bahwa salah satu tanda terbesar Allah mencintai dan menginginkan kebaikan bagi seseorang adalah dengan memberinya taufik untuk berbuat baik—terutama menjelang akhir hayatnya.
BACA JUGA: Saudaraku, Jadilah Manusia Terbaik: Memberi Manfaat dan Bersabar atas Ujian
Saudaraku, Amal Shalih adalah Pilihan dan Karunia
Amal shalih bukan sekadar rutinitas ibadah yang bisa kita kerjakan dengan kekuatan diri sendiri. Tidak semua orang diberi kemudahan untuk melangkahkan kaki ke masjid, tidak semua tangan ringan bersedekah, dan tidak semua lisan mudah mengucap dzikir. Semua itu adalah taufik dari Allah.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah apabila ia diberi taufik oleh Allah untuk melakukan ketaatan sebelum kematiannya.” (Al-Fawaid, hlm. 173)
Saudaraku, maka jika hari ini engkau merasa ringan untuk bersedekah, shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, atau membantu orang tua dengan ikhlas, maka jangan bangga dulu. Justru bersyukurlah, karena itu adalah sinyal bahwa Allah sedang menginginkan kebaikan untukmu.
Saudaraku, Akhir yang Baik Tidak Datang Begitu Saja
Sebuah akhir yang baik (husnul khatimah) bukanlah keberuntungan acak. Ia adalah buah dari perjalanan hidup yang diisi dengan amal-amal shalih secara istiqamah.
Diriwayatkan dari Mujahid rahimahullah, salah seorang tabi’in, bahwa beliau berkata: “Seseorang tidak akan wafat dalam keadaan baik kecuali karena ia telah terbiasa dengan kebaikan dalam hidupnya.”
Artinya, siapa yang terbiasa menghidupkan malam dengan tahajud, yang terbiasa menjaga lidahnya dari ghibah, yang terbiasa merendahkan diri di hadapan Allah, maka besar kemungkinan Allah akan wafatkan dia di atas kebaikan pula.
BACA JUGA: Saudaraku, Hanya kepada Allah
Saudaraku, Jangan Tunda Amal Shalih Hari Ini
Berapa banyak orang yang menunggu ‘waktu yang tepat’ untuk kembali kepada Allah, namun ajal mendahului taubat mereka?
Karena itu, saudaraku, jangan tunda. Satu amal shalih yang engkau lakukan hari ini bisa jadi itulah sebab Allah memasukkanmu ke dalam rahmat-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersegeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah, seperti potongan malam yang gelap gulita…” (HR. Muslim no. 118)
Saudaraku, jika hari ini engkau merasa tergerak untuk berbuat baik—walau hanya sekecil doa, sedekah, atau meringankan beban sesama—jangan remehkan itu. Mungkin itu adalah tanda bahwa Allah sedang “menggunakanmu” untuk kebaikan, sebelum waktumu habis.
Semoga kita termasuk hamba-hamba yang Allah pilih untuk dimatikan dalam keadaan beramal shalih. Aamiin. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


