Dalam kehidupan ini, seorang hamba selalu berada di antara dua pilihan: memilih jalan yang benar atau tergelincir ke jalan kebatilan. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan peringatan yang sangat dalam tentang kondisi jiwa dan hati manusia. Beliau berkata:
الـنّفس إنْ لـمْ تشغـلهـا بـالـحق شغلـتك بالـباطل، وهـو الـقلـب إنْ لـمْ تسكـنه محـبّة الله عز وجل، سكـنته محـبّة الـمخلوقين ولا بُـدّ
“Jiwa ini, jika anda tidak menyibukkannya dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan kebatilan. Sementara kalbu, jika tidak bisa membuatnya tenang kecintaan kepada Allah, maka hanya akan membuatnya tenang kecintaan kepada makhluk. Dan itu sebuah kepastian.” (al-Wabil ash-Shayyib, 1/111)
Ucapan ini menunjukkan bahwa hati dan jiwa manusia tidak pernah berada dalam keadaan kosong. Jika tidak dipenuhi dengan cinta kepada Allah dan amal kebaikan, pasti akan terisi oleh kecintaan kepada dunia, hawa nafsu, atau bahkan syahwat yang menyesatkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7–10)
Ayat ini mempertegas bahwa jiwa manusia telah Allah beri dua potensi: taqwa dan fujur. Maka keberuntungan ada pada orang yang menyucikannya dengan jalan kebenaran, dan kehancuran bagi yang membiarkannya condong kepada kebatilan.
Ulama salaf memahami pentingnya menjaga hati dan jiwa agar tetap terisi oleh kecintaan kepada Allah. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Aku tidak menghadapi sesuatu yang lebih berat daripada niatku. Karena niat itu selalu berubah-ubah.” (Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, 1/18)
Ini menunjukkan bahwa hati manusia sangat mudah berubah dan berpindah arah, maka dari itu perlu senantiasa dikendalikan dan diarahkan kepada Allah. Jika tidak, maka dunia akan menguasainya.
Ketika hati seorang hamba telah dipenuhi oleh cinta kepada dunia, ia akan sulit untuk tunduk kepada perintah Allah. Ia akan lebih mencintai popularitas daripada keikhlasan, lebih mementingkan kesenangan dunia daripada keselamatan akhirat. Dalam kondisi ini, amal ibadah pun hanya akan menjadi rutinitas hampa, bukan bentuk kecintaan dan pengabdian kepada Allah.
BACA JUGA: Perintah agar Setiap Hamba Selalu Muhasabah
Sebaliknya, apabila hati telah terpaut kepada Allah, dunia tidak akan menguasainya meski ia berada di tengah gemerlapnya. Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Carilah manisnya iman dalam tiga perkara: dalam shalat, dalam zikir, dan dalam membaca Al-Qur’an. Jika engkau tidak mendapatkannya, ketahuilah bahwa hatimu sedang sakit.”
Karena itu, hendaknya kita selalu mengarahkan jiwa dan hati kepada Allah. Sibukkan diri dengan ketaatan, ilmu, dan amal salih, agar tidak disibukkan oleh kebatilan yang menipu. Isi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, karena waktu yang kosong sangat rawan diisi oleh godaan syaitan.
Akhirnya, kita perlu bertanya pada diri sendiri: kepada siapa hati ini sedang condong? Apa yang membuatnya tenang? Cinta Allah atau cinta dunia? Karena jawaban dari pertanyaan itulah yang akan menentukan nasib kita di akhirat kelak. []
Referensi:
Ibnul Qayyim, al-Wabil ash-Shayyib, 1/111
Al-Qur’an, QS. Asy-Syams: 7–10
Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam
Abu Nu’aim, Hilyatul Auliya, 2/147
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


