وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Apa sebenarnya makna syukur? Ibnu Abbas mengatakan, “Syukur adalah ketaatan dengan seluruh anggota tubuh kepada Rabb segala makhluk, baik di waktu sendiri maupun bersama-sama.”
Pendapat lai mengatakan bahwa syukur itu adalah mengaungkan Allah Ta’ala sebagai pemberi segala bentuk kenikmatan dan mencegah diri dari mengingkari-Nya.
Tidak ada satupun manusia di muka bumi ini yang dapat menghitung jumlah kenikmatan yang telah Allah berikan. Namun, tidak sedikit pula yang justru ingkar dari-Nya.
Hanya sedikit manusia yang digolongkan pada kelompok orang-orang yang pandai bersyukur.
Bersyukur adalah bagian dari ketaatan. Rasa syukur dengan mengagungkan Allah, selalu mengingat segala bentuk kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya. Hal ini akan mencegah dari dorongan mengingkari-Nya.
Salah satu bentuk syukur adalah dengan tidak pernah menggunakan kenikmatan yang Allah berikan untuk sarana berbuat maksiat.
Maka benarlah jika syukur diartikan menjaga seluruh anggota badan dalam ketaatan pada Allah. Anggota badan adaah salah satu nikmat yang diberikan Allah pada makhluk. Maka menggunakannya untuk kebaikan adalah salah satu bentuk syukur.
Bahkan, saat dalam kondisi diuji pun, masih selalu ada celah untuk disyukuri. Abdullah bin Umar bin Khattab mengatakan:
“Tiada aku diuji dengan suatu ujian,melainkan Allah Ta’ala telah memberi empat kenikmatan untukku, yakni: karena ujian itu tidak mempengaruhikeyakinan agamaku, tidak terjadi musibah yang lebih besar padaku, ujian itu tetap membuatku ikhlas menerima keputusan Allah, dan karena aku bisa berharap pahala dari musibah yang aku alami.” []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


