Perjalanan hidup Rasulullah ﷺ penuh dengan ujian sejak beliau masih kecil. Salah satu kisah paling menyentuh adalah ketika beliau kehilangan ibundanya, Aminah binti Wahb, di sebuah tempat bernama Abwa. Kisah ini menjadi pengingat bagi kita bahwa bahkan kekasih Allah, manusia paling mulia, telah melalui kepahitan hidup sejak usia dini.
Ketika Rasulullah ﷺ berusia enam tahun, ibundanya, Aminah, berniat untuk menziarahi makam ayah beliau, Abdullah bin Abdul Muthalib, yang wafat saat Rasulullah ﷺ masih berada dalam kandungan. Dengan ditemani oleh Ummu Aiman, seorang pelayan yang dahulu diwariskan Abdullah, mereka pun melakukan perjalanan menuju Madinah. Perjalanan itu bukan hanya sekadar ziarah, tetapi juga sarat dengan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Aminah mendidik beliau dengan penuh kelembutan, menanamkan nilai-nilai kebaikan, serta meneguhkan hati anak kecil yang kelak menjadi rahmat bagi seluruh alam.
BACA JUGA: 7 Nasihat Mulia dari Rasulullah ﷺ
Sesampainya di Madinah, mereka tinggal sekitar satu bulan di rumah kerabat Aminah. Selama masa itu, Rasulullah ﷺ merasakan kebersamaan seorang ibu yang tulus, meski singkat namun penuh makna. Namun, perjalanan pulang menuju Makkah membawa ujian berat. Di tengah perjalanan, tepat di sebuah perkampungan bernama Abwa, Aminah jatuh sakit. Penyakit itu semakin parah hingga beliau tidak mampu melanjutkan perjalanan. Meskipun dirawat sebaik mungkin, takdir Allah telah ditetapkan. Aminah menghembuskan napas terakhir di pangkuan kasih sayang, meninggalkan Rasulullah ﷺ yang masih sangat kecil.
Bayangkan seorang anak berusia enam tahun yang sudah ditinggal ayahnya sebelum lahir, kini harus pula kehilangan ibundanya. Sejak itu, Rasulullah ﷺ resmi menjadi yatim piatu. Tangisan kecil beliau di Abwa menjadi saksi betapa beratnya ujian yang ditanggung sejak usia belia. Namun di balik kesedihan itu, Allah telah menyiapkan penjagaan yang istimewa bagi Nabi-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(mu)?” (QS. Adh-Dhuha: 6)
Setelah wafatnya Aminah, Ummu Aiman menggendong Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah. Di sanalah beliau diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib, dengan penuh cinta. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa Allah sendiri yang menjaga dan memelihara Nabi-Nya, sehingga meski tanpa orang tua, beliau tumbuh dengan akhlak mulia, jauh dari keburukan, dan selalu dalam lindungan ilahi.
BACA JUGA: Zainab binti Jahsy: Wanita Bertangan Panjang yang Menyusul Rasulullah
Ibnu Katsir dalam Al-Bidâyah wa an-Nihâyah menjelaskan bahwa wafatnya Aminah di Abwa merupakan bagian dari takdir Allah untuk mengokohkan Rasulullah ﷺ agar hanya bergantung kepada-Nya semata, bukan kepada manusia. Ulama salaf juga berkata, “Jika Allah menginginkan seorang hamba mencapai derajat tertinggi, maka Dia akan mengujinya dengan cobaan-cobaan berat.” Dan begitulah Allah mempersiapkan kekasih-Nya untuk mengemban risalah yang agung.
Kisah di Abwa bukan hanya sejarah, tetapi juga teladan. Dari kecil, Rasulullah ﷺ sudah diajarkan tentang kehilangan, kesabaran, dan keteguhan hati. Bagi kita, kisah ini menjadi pelajaran bahwa kesedihan hidup bukanlah akhir segalanya, melainkan bagian dari perjalanan menuju pertolongan Allah yang lebih besar. []
Sumber Referensi:
Al-Qur’an, Surah Adh-Dhuha ayat 6
Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, Juz 2
Ibnu Hisham, As-Sîrah an-Nabawiyyah
Imam Nawawi, Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


