JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Tangisan Rasulullah: Teladan Kesyukuran Seorang Hamba

Diriwayatkan oleh Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya tentang sesuatu yang luar biasa yang pernah ia lihat dari diri Rasulullah ﷺ, Aisyah menjawab dengan kalimat yang menyentuh hati: “Manakah perbuatan beliau yang tidak luar biasa?”

Jawaban ini saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kehidupan Rasulullah ﷺ adalah rangkaian keteladanan yang tiada tanding. Namun Aisyah melanjutkan ceritanya tentang satu malam yang sangat menggetarkan hati. Malam itu, Rasulullah ﷺ berbaring di samping Aisyah. Namun kemudian beliau meminta izin, “Sekarang biarkanlah aku beribadah kepada Allah.”

BACA JUGA: Rasulullah ﷺ Mendengar Suara Mayat yang Disiksa

Beliau bangkit dan mengerjakan shalat malam. Dalam sujudnya, beliau menangis. Dalam rukuknya pun beliau menangis. Hingga air mata beliau membasahi dada dan janggut beliau. Bahkan saat Bilal datang mengumandangkan azan shubuh, tangisan beliau belum juga reda.

Melihat hal itu, Aisyah bertanya dengan penuh keheranan sekaligus kekaguman, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis seperti itu, bukankah engkau orang yang ma’sum dan Allah telah berjanji mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”

Dengan kelembutan dan kebeningan hati, Rasulullah ﷺ menjawab, “Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Betapa agung jawaban ini. Nabi ﷺ, yang sudah dijamin ampunan dan kedudukannya, masih merasa perlu untuk menumpahkan air mata sebagai bentuk syukur kepada Allah. Syukur yang lahir bukan hanya dari lisan, tetapi juga diwujudkan melalui sujud panjang, doa yang tulus, dan hati yang selalu khusyuk mengingat Allah.

Beliau lalu membaca ayat yang menggugah hati siapa pun yang mau merenung:

BACA JUGA:  Rasulullah ﷺ dan Orang-orang Thaif

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang sungguh merupakan bukti-bukti kebenaran adanya Allah bagi ulil albab, yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk atau berbaring dan mau memikirkan penciptaan langit dan bumi lalu berkata, ‘Ya Rabb kami, tidaklah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran [3]: 190-191)

Kisah ini mengajarkan kita bahwa syukur bukan hanya diucapkan, tetapi harus dihidupkan dalam hati dan diwujudkan dalam ibadah. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa semakin besar nikmat, semakin besar pula rasa takut dan tanggung jawab kita kepada Allah. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu meneladani rasa syukur beliau, meski hanya setetes kecil. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Keteladanan Kedermawanan Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu’anha

Sirah

Pertanyaan-pertanyaan dalam Kepala Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sirah

Abu Bakar Ash-Shiddiq Menantikan Kedatangan Nabi

Sirah

Khadijah Berpulang ke Rahmatullah