Akhlak yang dipraktikkan oleh Nabi semuanya bersumber dari Al-Qur’an. Akhlak ini telah membentuk karakter diri dalam diri Nabi ﷺ, dan berpengaruh besar terhadap kehidupan sosialnya.
Suatu ketika Sayyidah Aisyah za ditanya tentang akhlak Nabi ﷺ. Aisyah balik bertanya kepada orang yang menanyalnys itu. “Apakah kamu pernah membaca Al-Qur’ant?”
“Pernah,” jawab orang itu.
Aisyah melanjutkan jawabannya, “Akhlak Nabi adalah Al Qur’an.”
BACA JUGA: Tanda-Tanda Bertawadhu
Bila akhlak Nabi bersumber dari ajaran Al-Qur’an, maka sifat rendah hati yang memancar dari rumah Nalba juga berasal dan A Qur’an. Allah SWT menegaskan bahwa Dia akan menjauhkan rah mat dan tanda-tanda kekuasaan Nya dari orang-orang yang sombong dan tidak punya sifat rendah hati. Allah berfirman,
أشْرِفُ عَنْ آبَانِ الَّذِينَ يَتَكَتَرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
“Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan Kui orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.’ (al A’raaf: 146)
Rasulullah ﷺ . adalah manusia yang sangat dermawan, hatinya sangat lembut, dan perilakunya sangat sopan. Beliau sangat ramah terhadap keluarganya. Orang yang baru mengenalnya akan merasa ta-kut karena kewibawaannya, namun setelah lama bersamanya dia akan mencintainya.
Sifat-sifat mulia seperti ini sangat dirasakan oleh istri-istri Rasul dalam kehidupan mereka. Kondisi seperti ini, sudah barang tentu sangat memengaruhi kepribadian mereka, sehingga mereka sendiri juga menghiasai diri dengan akhlak-akhlak mulia ini, mereka terbiasa dengan sifat rendah hati dan tidak suka menyombongkan diri.
Sikap tawadhu adalah kebalikan sikap sombong. Tawadhu’ ada-lah bagian dari akhlak yang mulia, sedangkan kesombongan terma-suk akhlak yang tercela.
Tawadhu adalah sikap rendah hati, namun tidak sampai meren-dahkan kehormatan diri dan tidak pula memberi peluang orang lain untuk melecehkan kemuliaan diri.
Takabur adalah sikap merasa lebih unggul atau lebih mulia di-bandingkan dengan yang lain. Kesombongan adalah sikap terlalu yakin terhadap diri sendiri, hingga muncul perasaan menganggap rendah dan hina pihak lain serta enggan berkumpul dengan orang lain.
Orang seperti ini tidak mau menerima perbedaan pendapat apalagi nasihat orang lain. Bila ada orang yang mengingatkannya dia akan marah bahkan menghina orang tersebut.
Coba kita lihat, bila seseorang mempunyai sikap tawadhu’, maka akhlak-akhlak mulia lainnya akan muncul pada dirinya, seperti pe-rasaan bahwa manusia ini sama, lebih mengutamakan orang lain, toleran, bisa memahami perasaan orang lain, dan mau membantu orang yang terzalimi.
Adapun kesombongan akan menjerumuskan seseorang kepada sikap sikap negatif yang lain, seperti iri hati, benci, pemarah, egois. teperdaya dengan diri sendiri, dan ingin menguasai.
Orang yang mempunyai sifat sombong cenderung merendahkan kawan-kawan sesamanya. Bila dia telah menguasai pengetahuan ter-tentu, maka dia akan menghina dan mencela kawan-kawannya yang ketinggalan pengetahuannya. Bila berinteraksi dengan orang lain, dia menganggap bodoh dan menghina mereka, dan bila mengerjakan sesuatu, dia suka menyelesaikannya sendiri. (Ihya Ulumiadin, 3/299)
Karena sikap sombong dan ujub (bangga terhadap diri sendiri) hampir sama, maka Imam al-Ghazali membuat perbandingan antara keduanya. Dia menegaskan bahwa takabur berbeda dengan ‘ujub; orang yang ujub tidak akan menyakiti pihak lain, karena dia hanya sebatas membanggakan diri secara berlebihan, namun tidak disertai dengan sikap merendahkan atau menghina pihak lain.
BACA JUGA: Sombong, Penyebab Kita Terhalang dari Hidayah
Takabur juga berbeda dengan al-adhamah (merasa bangga dengan potensi yang ada), karena orang yang dalam hatinya ada perasaan ‘adhamah, masih menganggap ada orang lain yang lebih baik dan lebih bagus darinya, atau paling tidak masih ada yang menyamainya.
Dalam kitab Tahdzib al-Akhlak, Ibnu Maskawaih berkata, “Orang yang pandai dan terhormat seharusnya terhindar dari sifat takabur dan bangga terhadap diri sendiri. Ada sebuah kisah, seorang penguasa berbangga diri di hadapan seorang hamba sahaya yang pandai. Melihat hal ini, hamba sahaya tersebut berkata, ‘Bila kamu berbangga diri kepadaku atas kuda yang kamu miliki, maka keistimewaan yang engkau banggakan adalah milik kuda bukan milikmu. Bila kamu berbangga diri karena bajumu, maka yang bagus adalah bajumu, bukan dirimu, dan bila kamu membanggakan diri karena kehormatan nenek moyang-mu, maka kehormatan itu adalah milik mereka bukan milikmu.” (Tandzib al-Akhlak, him. 164)
Sumber: Akhlaaq an-Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam fii Shahiih al-Bukhaarii wa Maslim – Akhlak Nabi Menurut Al-BUkhari dan Muslim / Penulis: Abdul Mun im al-Hasyimi Penerbit: Maktabah Ibn Katsir, Cet. 1, 1423 H/2002 M / Gema Insani Press
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


