Pagi itu masih bersih. Langit menyimpan cahaya lembutnya di antara sisa-sisa malam yang berguguran. Di pelataran masjid, para salaf dahulu meniti waktu setelah shalat Subuh dengan cara yang tidak pernah kehilangan makna. Bukan sekadar duduk, bukan sekadar menunggu. Mereka menghidupkan menit-menit pertama hari dengan Al-Qur’an, dzikir, dan ilmu yang memancar bagai cahaya fajar yang kian merekah.
Yazid Ar-Raqasyi meriwayatkan dari Anas, bahwa selepas Subuh, para salaf membuat halaqah-halaqah. Di dalamnya, terdengar suara lirih yang penuh kesyahduan: bacaan ayat-ayat suci, pengajaran perkara wajib dan sunnah, serta lantunan dzikir yang mengikat hati pada Rabb. Pagi mereka bukan pagi yang kosong, melainkan awal perjalanan menuju keberkahan.
Bayangkanlah suasana itu. Masjid masih harum dengan sisa rukuk dan sujud, dan dari setiap sudutnya, ada lingkaran kecil yang berdenyut dengan tilawah. Tidak ada gempita dunia, tidak ada riuh perbincangan sia-sia. Yang ada hanyalah wajah-wajah bercahaya yang menunduk khusyuk, seolah sedang memintal benang-benang cahaya dari Kitabullah untuk mengikat hati mereka satu sama lain.
BACA JUGA: Apa Kabarmu Pagi Ini?
Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebuah kabar yang menenangkan hati: bila suatu kaum selesai menunaikan Subuh, lalu mereka duduk di tempat shalatnya untuk saling mempelajari Kitabullah, Allah mengutus malaikat-Nya untuk memohonkan ampun bagi mereka. Sungguh, meskipun riwayat ini mengandung kelemahan, semangat yang dikandungnya bagaikan angin pagi yang membangkitkan gairah jiwa: majelis selepas Subuh adalah pintu bagi rahmat dan keberkahan.
Sejarah pun mencatat. Harb Al-Karmani meriwayatkan bahwa Hisyam bin Isma’il Al-Makhzumi adalah yang pertama mempelopori majelis Al-Qur’an setelah Subuh di Masjid Damaskus, pada masa khilafah Abdul Malik bin Marwan. Sejak itu, gema Al-Qur’an di pagi hari seperti menjadi tradisi yang tak lekang. Dari Beirut, Sa’id bin Abdul Aziz dan Ibrahim bin Sulaiman pun disebut biasa mengkaji Al-Qur’an selepas Subuh, dan ulama besar Al-Auza’i yang berada di masjid, tidak mengingkari perbuatan mereka. Bahkan diamnya menjadi tanda restu, bahwa jalan ilmu memang sebaiknya ditempuh sejak cahaya fajar pertama.
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam karyanya Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam menyimpulkan, majelis semacam itu bukan hanya terbatas di waktu pagi, tetapi bisa kapan saja. Sebab, Al-Qur’an adalah sebaik-baik dzikir, dan dzikir adalah kehidupan hati. Maka siapa pun yang mengikat paginya dengan Al-Qur’an, sesungguhnya ia sedang menanam benih yang kelak tumbuh menjadi keberkahan di sepanjang hari.
Namun, mengapa pagi dipilih? Bukankah siang dan malam juga terbuka untuk ibadah? Rahasianya ada pada doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dan Ibnu Umar, ketika ditanya tentang maknanya, menjawab singkat namun dalam: “Dalam menuntut ilmu dan shaf pertama.” Seolah ia ingin menegaskan bahwa keberkahan pagi itu bukan untuk tidur panjang, bukan pula untuk lalai, tetapi untuk menuntut ilmu dan bersegera dalam ketaatan.
Bayangkan seorang penuntut ilmu di zaman salaf. Usai Subuh, ia duduk bersila bersama sahabat-sahabatnya, membuka mushaf, melantunkan ayat-ayat, lalu mendengarkan penjelasan gurunya tentang hukum, sunnah, dan akhlak. Ia mungkin hanya membawa hafalan yang sedikit, tetapi semangatnya besar. Dalam keheningan pagi, ia merasa setiap kalimat yang keluar dari mulut gurunya adalah cahaya yang menembus ke dadanya. Lalu ia pulang dengan hati penuh keyakinan, siap menghadapi dunia dengan bekal ruhani yang segar.
BACA JUGA: Harta di Tangan Orang-orang Shaleh
Itulah rahasia para salaf: mereka mengikat hari dengan Al-Qur’an sebelum terikat dengan urusan dunia. Mereka memberi makan hati sebelum memberi makan tubuh. Maka tidak heran bila kehidupan mereka berisi keberkahan, meski sederhana; berisi kelapangan, meski dunia menekan dengan beratnya.
Kini, barangkali banyak dari kita yang membiarkan pagi terbuang. Masjid cepat kosong, rumah kembali sepi, dan layar gawai menjadi teman pertama. Betapa jauh kita dari jejak para salaf. Padahal, jika kita mau, fajar yang sama masih menunggu kita: fajar yang menyimpan doa Rasulullah, fajar yang menyimpan rahmat Allah, fajar yang mengajak kita untuk kembali menumbuhkan majelis dzikir dan ilmu.
Waktu pagi adalah taman, dan para salaf dahulu memasukinya dengan hati yang penuh syukur. Mereka tidak sekadar lewat, tetapi memetik bunga-bunganya: Qur’an, dzikir, ilmu, dan doa.
Maka siapakah kita yang berani menyia-nyiakan taman itu? []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


