Doa merupakan perintah langsung dari Allah. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dalam Al-Qur’an: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60) Berdoa bukan sekadar pilihan, tapi bentuk ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah.
Dengan berdoa, seorang Muslim mengakui bahwa dirinya lemah dan butuh pertolongan. Ini adalah bentuk ketundukan yang paling hakiki: menyerahkan harapan, kegelisahan, dan kebutuhan hanya kepada Allah.
Doa juga mempererat hubungan ruhani antara hamba dan Tuhannya. Ia menjadi momen curhat terdalam seorang Muslim kepada Penciptanya — bukan hanya memohon, tapi juga menenangkan hati.
BACA JUGA: Doa, Pelembut Hati
Seorang Muslim harus mengetahui bahwa berdoa juga merupakan ibadah. Bahkan jika permintaan belum terkabul, Allah tetap mencatat pahala dan menghapus dosa karena usaha kita mengingat dan menyebut nama-Nya.
Doa memberi harapan. Ia mencegah seorang Muslim putus asa dan mengingatkan bahwa ada Zat yang Mahakuasa atas segalanya, meskipun segala sesuatu tampak mustahil.
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Doa adalah senjatanya orang beriman.” (HR. Al-Hakim) Doa bukan hanya permintaan pasif, tapi bentuk perjuangan ruhiyah yang sangat kuat.
Berdoa bisa menjadi terapi jiwa. Dalam kepasrahan itulah hati menemukan ketenangan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Seorang Muslim harus berdoa karena itu adalah kebutuhan fitrah, bentuk ibadah, dan jembatan langsung menuju Rabb-nya. Doa bukan hanya tentang meminta, tapi juga tentang mengingat, berserah, dan memperkuat iman.
Di antara yang merusak dan menjadi penghalang terkabulnya doa adalah ketergesa-gesaan. Apabila keinginan seseorang tidak dikabulkan, ia mengeluh dan meninggalkan doa.
Padahal, orang yang berdoa itu seperti orang yang menanam biji-bijian. Biji-biji itu harus dijaga, dirawat dan disirami. Oleh karena itu, jika ia meninggalkan doa, sesungguhnya ia telah meninggalkan biji yang ditanam tanpa dirawat dan disirami.
BACA JUGA: Doa Rasulullah Mengenai Keislaman Umar bin Khattab
Rasulullah ﷺbersabda, “Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya oleh Allah SWT, selagi ia tidak berdoa dengan sesuatu yang menyebabkan dosa, atau memutuskan silaturahim, atau tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?” Beliau ﷺ menjawab, “(tergesa-gesa) adalah mengatakan, ‘Saya berdoa kepada Allah, tetapi tidak dikabulkan,’ kemudian ia mengeluh karenanya dan meninggalkan berdoa,” (HR. Muslim).
Rasulullah ﷺ bersabda, “Seorang hamba akan tetap berada dalam kebaikan, selagi ia tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulullah, bagaimana tergesa-gesa itu?’ Beliau menjawab, ‘Tergesa-gesa itu adalah mengatakan, ‘Saya berdoa kepada Allah, tetapi tidak dikabulkan’,”(HR. Ahmad dari Anas).[]
Referensi: Obat Penyakit Hati/Karya: Ibnul Qayyim Al-Jauziyah/Penerbit: Jabal
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


