Para ulama mengatakan; ‘Bahwa amal shaleh tidak mungkin diterima oleh Allah Shubhanahu wa ta’ala melainkan bila terpenuhi padanya dua syarat:
Pertama: Hendaknya amal shaleh tersebut sesuai dengan syari’at yang telah Allah Shubhanahu wa ta’ala tentukan didalam kitab -Nya, atau sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasul -Nya.
Disebutkan dalam haditsnya Aisyah radhiyallahu ‘anha oleh Imam Bukhari dan Muslim, bahwa Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang tidak ada dalam dalam urusan (agama) kami maka ia tertolak“. HR Bukhari no: 2697. Muslim no: 1718.
Artinya amalan tanpa pijakan agama tersebut tertolak, tidak akan diterima oleh Allah ta’ala.
Dalam hadits lain diterangkan kita diperintah supaya memegangi sunah Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dalam haditsnya Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: ‘Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
BACA JUGA: Syarat Menjadi Imam Shalat Berjamaah
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « فعليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين فتمسكوا بها و عضوا عليها بالنواجذ » [أخرجه أبو داود و الترمذي]
“Wajib atas kalian untuk berpegang dengan sunahku dan sunahnya para Khulafaur Rasidhin yang mendapat petunjuk, pegangilah sunah tersebut dan gigitlah dengan gigi geraham kalian“. HR Abu Dawud no: 4607. at-Tirmidzi no: 2676. Beliau berkata hadits hasan shahih.
Kedua: Hendaknya amal shaleh tersebut dikerjakan secara ikhlas karena mengharap wajah Allah Shubhanahu wa ta’alla.
Berdasarkan haditsnya Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, dimana Nabi Muhammad Shalalahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ » [أخرجه البخاري و مسلم]
“Hanyalah segala amal itu sesuai dengan niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang mendapat sesuai dengan apa yang diniatkan, maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul –Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul –Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk mencari dunia atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkan“. HR Bukhari no: 1. Muslim no: 1907.
Dan yang mendukung serta membenarkan ucapan tadi adalah firman Allah tabaraka wa ta’ala dalam kitab -Nya:
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. [al-Kahfi/18: 110].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: “Menurut ahlu sunah wal jama’ah amalan akan diterima dari orang yang bertakwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, dikerjakan ikhlas karena Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sesuai dengan perintah -Nya. Oleh karena itu, barangsiapa bertakwa kepada -Nya ketika beramal maka kemungkinan diterima lebih banyak, walaupun dirinya melakukan perbuatan maksiat pada tempat lain, dan siapa yang tidak menetapi ketakwaan tatkala beramal maka peluang tidak diterimanya lebih besar, walaupun disatu sisi dia mentaati Allah Shubhanahu wa ta’alla “.
BACA JUGA: Amalan-amalan di Hari Jumat
Dan Allah ta’ala telah menegaskan kalau kebaikkan akan menghapus kejelekkan, seperti yang tertera dalam firman -Nya:
وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّئَِّاتِۚ
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk”. [Huud/11: 114].
Kalau sekiranya kebajikan tidak diterima dari para pelaku kejelekan maka peluang untuk menghapusnya sangat sedikit sekali. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


