JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah-kisah Abu Hanifah: Memuji Pakaian dan Makanan

Kau Telah Memuji Pakaian

Abu Hanifah adalah seorang pedagang pakaian. Suatu ketika, seseorang meminta pakaian sutera padanya lalu ia berkata kepada anaknya, Hammad, “Hai Hammad! Keluarkan sehelai pakaian untuk orang itu.” Hammad mengeluarkan sehelai pakaian, membukanya di hadapan orang tersebut, lalu berkata, “Muhammad!”

Abu Hanifah kemudian berkata kepada anaknya karena wara’, “Kamu telah memuji pakaian itu. Angkatlah!” Hammad kemudian mengangkat pakaian tersebut tidak jadi menjualnya kepada orang itu. Orang tersebut kemudian berkeliling ke pasar namun tidak menemukan pakaian lain. Abu Hanifah tetap enggan men-jualnya kepada orang tersebut karena anaknya memuji pakaian tersebut.” (Al-Manaqib, Muwaffiq, 1: 198)

BACA JUGA:  Keutamaan Abu Hanifah

Makanan Abu Hanifah

Abu Hanifah mengangkat dan mendidik jiwanya hingga mencapai puncak wara’. Di antara wujud wara’ Abu Hanifah, ia tidak memakan makanan para khalifah. Ketika khalifah memintanya untuk menjabat sebagai hakim di Baghdad, ia tidak memakan makanan si khalifah. la kemudian bertemu seseorang bernama Faidh bin Muhammad.

Beberapa orang hendak pergi ke Kufah lalu Abu Hanifah berkata kepadanya, “Jika engkau tiba di Kufah, temuilah Hammad dan katakan kepadanya, “Makakanku dalam sebulan adalah dua dirham tepung, dan engkau tidak kunjung mengirimkannya ke-padaku, maka segeralah engkau kirim makanan itu kepadaku.” Ini menunjukkan sifat wara’ Abu Hanifah yang tulus.

Abu Hanifah Mengembalikan Pakaian

Suatu hari, seorang Madinah datang ke Kufah dan menanya-kan tentang salah satu jenis pakaian, lalu dikatakan kepadanya, “Kamu hanya menemukan pakaian itu di tempat Abu Hanifah, dan janganlah engkau menawarnya.” Orang tersebut datang ke toko dan mendapati salah seorang murid Abu Hanifah. la mengiranya Abu Hanifah lalu bertanya, “Berapa harga pakaian ini?”

Si murid itu menjawab, “Seribu dirham.” Orang itu langsung membeli pakaian tersebut tanpa menawar. Selang beberapa hari, si murid berkata kepada Abu Hanifah, “Aku menjual pakaian itu seharga seribu dirham kepada seseorang dari Madinah.”

Abu Hanifah merasa sedih. la segera berangkat ke Madinah dan menanyakan tentang orang yang membeli pakaian tersebut hingga mengetahuinya. Abu Hanifah meminta orang tersebut agar bersedia menerima kembali harga kain dan ongkos jahitnya, dan mengembalikan pakaian tersebut.

BACA JUGA:  Siapa yang Lebih Faqih, Abu Hanifah ataukah Malik?

Orang tersebut tidak menerima usulan Abu Hanifah dan meminta Abu Hanifah agar menyerahkan seribu dirham saja. Abu Hanifah bertanya, “Berapa ongkos untuk memperbaiki pakaian itu?” Orang itu menjawab, “Enam ratus dirham.” Abu Hanifah akhir-nya memberinya 1600 dirham, dan memberikan pakaian tersebut kepadanya sebagai hadiah.” (Manaqib Al-Imam Al-A’zham, 1: 119-200) []

Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

2 Orang yang Khusyuk

Ibrah

Kerendahan Hati Umar bin Abdul Aziz di Hadapan Allah dan Doanya yang Dijabah

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Ibu: Balasan Itu Sesuai Jenis Perbuatan

Ibrah

Kisah Anak Durhaka pada Bapak: Rabb-mu Benar-benar Mengawasimu!