JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sosok

Keutamaan Abu Hanifah

Rasulullah, Ibrahim bin Adham, Umar bin Khattab, Abu Bakar

Khallad As-Sakuti duduk bersama Abu Hanifah sesaat untuk mempelajari adab dan fikihnya, lalu setelah itu ia pergi ke Zuhair bin Mu’awiyah untuk menimba ilmu darinya. Zuhair bertanya kepadanya, “Kamu dari mana?” “Dari Abu Hanifah,” jawabnya. Zuhair lantas berkata, “Demi Allah, dudukmu bersama Abu Hanifah selama sehari itu lebih bermanfaat bagimu dari pada dudukmu bersamaku selama sebulan,” (Manaqib Al-Imam Al-Azham, II: 65.

Abu Hanifah Samudera Ilmu

Di medan ilmu, Imam Syafi’i duduk di antara para sahabat dan murid-muridnya, la lantas bercerita tentang sirah Abu Hanifah dan ilmunya. Imam Syafi’i berkata, “Seluruh fuqaha’ bergantung pada Abu Hanifah dalam fikih. Siapa tidak membaca kitab-kitab Abu Hanifah, ia tidak mendalami fikih,” (Siyar A’lamin Nubala, VI: 404, Manaqib Al-Imam Al-Azham, II: 66.)

BACA JUGA:  Siapa yang Lebih Faqih, Abu Hanifah ataukah Malik?

Kecerdasan Abu Hanifah

Al-Manshur pernah memanggil Imam Abu Hanifah. Lalu Rabi’, ajudan Al-Manshur yang memusuhi Abu Hanifah, berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Ini Abu Hanifah, ia menentang kakekmu. Abdullah bin Abbas berkata, “Apabila seseorang mengucapkan suatu sumpah lalu setelah itu mengucapkan insya’ Allah sehari atau dua hari setelahnya, ucapan insya’ Allah tersebut dibolehkan.” Sementara Abu Hanifah berkata, “Ucapan insya’ Allah tidak diboleh-kan kecuali bersambung dengan sumpah.”

Abu Hanifah berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Rabi’ mengatakan bahwa di leher para prajuritmu tidak ada baiat.” Abu Hanifah meneruskan, “Bagaimana ia mengatakan bahwa mereka bersumpah untukmu, lalu setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing sementara sumpah mereka batal.” Al-Manshur ter-tawa lalu berkata, “Wahai Rabi”, jangan menentang Abu Hanifah.”

Saat Abu Hanifah keluar, Rabi’ berkata kepadanya, “Engkau bermaksud membuat darahku tertumpah sia-sia.” Abu Hanifah berkata, “Tapi engkau bermaksud membuat darahku tertumpah sia-sia, lalu aku menyelamatkanmu dan juga aku.” (Al-Adzkiya, 149-150, Tarikh Baghdad, XIII: 365)

Aku Ditipu Seorang Wanita

Suatu hari, Abu Hanifah An-Nu’man duduk di antara sahabat-sahabatnya lalu berkata kepada mereka, “Seorang wanita telah menipuku, wanita kedua membuatku zuhud, dan wanita ketiga membuatku faqih. Adapun wanita yang menipuku, suatu ketika aku berjalan di jalanan Kufah lalu aku melihat seseorang menunjuk ke suatu barang yang tergeletak di jalan. Ternyata ia seorang wanita. Aku kira barang itu miliknya. Saat aku membawanya, wanita itu berkata, “Simpanlah barang itu sampai pemiliknya datang dan mengambilnya darimu.”

Adapun wanita yang membuatku zuhud, suatu hari aku melintas di jalan yang biasa kulalui, lalu seorang wanita berkata, “Dia ini Abu Hanifah yang shalat Subuh dengan wudhu shalat Isyak.” Aku pun berkata, “Aku akan mewujudkan dugaan orang-orang terhadapku. Aku pun rajin beribadah hingga hal itu menjadi kebiasaanku.

“Adapun wanita yang membuatku faqih, ia bertanya kepada-ku tentang haid. Aku tidak tahu jawabannya, lalu aku mempelajari jawabannya. ” (Al-Manaqib, Al-Muwaffiq, 1:61)

BACA JUGA: Imam Abu Hanifah, Dokter Fuqaha

Kecerdasan Luar Biasa

Seorang wanita pernah datang kepada Abu Hanifah lalu berkata, “Saudara lelakiku meninggal dunia dan meninggalkan 600 dirham. Namun, aku hanya diberi satu dirham darinya.”

Abu Hanifah bertanya kepada wanita itu, “Siapa yang membagikan warisan?”

“Dawud Ath-Tha’i,” jawabnya.

Abu Hanifah bertanya, “Itu hakmu. Bukankah saudaramu meninggalkan dua anak perempuan, seorang istri, ibu, dua belas saudara lelaki dan seorang saudara perempuan yaitu kamu?”

“Betul,” jawabnya.

Abu Hanifah berkata, “Dua anak perempuan mendapat dua pertiga (400 dirham), ibu mendapat seperenam (100 dirham), istri mendapat 75 dirham, dan sisanya 25 dirham untuk saudara-saudara lelaki dan perempuan; setiap saudara lelaki mendapatkan dua dinar, dan engkau mendapatkan satu dinar.” []

Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sosok

Siapa Imam Ibnul Jauzi?

Sosok

Kecerdasan Abu Hanifah

Sosok

Abu Hanifah dan Pengajar Anak-anak

Sosok

Siapa Imam adz-Dzahabi?