Dianjurkan bagi pembaca Al-Qur’an untuk merenungkan bagaimana lembutnya sifat Allah SWT terhadap makhluk-Nya di dalam menyampaikan makna-makna kalam-Nya (yang universal) ke ranah pemahaman mereka (yang parsial).
Oleh karena itu, hendaknya ia juga menyadari jika yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia sehingga ia dapat menghadirkan keagungan Sang Mutakallim (Allah SWT) dan mentadaburi wahyu-Nya, karena merenungkan makna itulah tujuan dari membaca Al-Qur’an.
Jika ia tidak dapat merenungkan isi kandungan Al-Qur’an kecuali dengan membacanya berulang-ulang maka hendaknya ia melakukan itu, karena ada keterangan yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Dzar r.a. bahwa di suatu malam Nabi ﷺ pernah mengulang-ulangi bacaan ayat,
BACA JUGA: Jangan Pernah Tinggalkan Tilawah Harian
إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ
“Jika kau mengazabnya maka sungguh mereka adalah hamba-hamba-Mu.” (al-Ma’idah: 118)
Tamim ad-Dari berdiri dengan membaca ayat,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَدُوا السَّيِّئَاتِ أَن تَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ
ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan kebaji an.” (al-Jatsiyah: 21)
Demikian pula yang dilakukan oleh ar-Rabi bin Khutsaim pada suatu malam. Pembaca Al-Qur’an juga dianjurkan untuk membayangkan fenomena yang berkaitan dengan ayat itu dalam setiap bacaan ayat agar ia mendapatkan pemahaman yang lebih menyeluruh. Seperti ketika dia membaca firman Allah SWT,
خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ
“Allah yang telah menciptakan langit dan bumi.” (al-An’âm: 1)
Oleh karena itu, ketahuilah kebesaran-Nya dan bayangkanlah kekuasaan-Nya yang terdapat di setiap ko-ponen alam semesta yang ia lihat. Kemudian di saat ia membaca ayat,
أَفَرَعَيْتُم مَّا تُمْرُونَ *
“Maka adakah kamu perhatikan tentang (benih manusia) yang kamu pancarkan.” (al-Waqi’ah: 58)
Maka pikirkanlah kejadian sperma yang mengandung berbagai macam sel. Bagaimana ia bisa terbagi menjadi tulang, keringat, urat saraf, dan berbagai anggota tubuh seperti kepala, tangan, dan kaki. Kemudian dari pen-ciptaan ini keluar sifat-sifat manusia yang mulia seperti mendengar, melihat, berakal, dan lain-lainnya. Maka renungkanlah keajaiban-keajaiban ini. Kemudian di kala ia membaca ayat yang menjelaskan keadaan orang-orang yang mendustakan, hendaknya ia merasa takut akan siksaan jika ia lalai dari menjalankan perintah Allah SWT.
Di samping itu, hendaknya si pembaca menjaga diri dari sesuatu yang dapat mengganggu pikirannya dari memahami makna Al-Qur’an, seperti bisikan setan jika dia kurang fasih di dalam melafalkan satu huruf, atau membacanya tidak sesuai dengan makhraj yang benar. Dengan demikian, ia akan mengulang-ulangi bacaannya sampai tekadnya untuk memahami makna ayat menjadi hilang.
Di antara penghalang yang dapat mengganggu pemahaman adalah keadaan si pembaca yang selalu bersimbah dosa, adanya sifat takabur (sombong) dalam dirinya, atau ia sedang diuji dengan nafsu yang selalu dipatuhinya. Semua itu yang menyebabkan hati menjadi gelap dan berkarat. Sebab dosa itu bagaikan debu, jika ia menempeli cermin maka ia dapat menghalangi nampaknya kebenaran.
Hati ibarat kaca, bermacam-macam syahwat tak ubahnya karatan, sedangkan makna-makna ayat Al-Qur’an laksana sebuah gambar yang hanya dapat terlihat di permukaan kaca. Dengan demikian, latihan hati, dengan cara membuka lilitan syahwat, sama halnya seperti menjernihkan kaca cermin yang kotor.
BACA JUGA: Tilawah dan Shalat-nya Abbad bin Bisyr
Pembaca Al-Qur’an perlu menyadari jika dirinyalah yang dibicarakan oleh Al-Qur’an beserta ancaman-ancaman yang tertuang di dalamnya. Begitu pula hikayat-hikayat di dalamnya bukan sekadar ceritera belaka, namun agar dirinya apat mengambil pelajaran darinya. Oleh karena itu, waspadailah hal itu agar ia dapat membaca seperti seorang budak yang hendak dimerdekakan tuannya dengan satu tujuan! Maka hayatilah kitab Al-Qur’an dan amalkanlah tuntunannya.
Seorang yang bermaksiat meskipun ia membaca Al-Qur’an dan mengulang-ulanginya, ibarat seseorang yang membaca surat sang raja berulang-ulang, namun dia enggan untuk memakmurkan istana sang raja dan tidak mengindahkan perintahnya dalam surat tersebut. la merasa cukup dengan sekadar membaca tulisan sang raja tanpa harus mematuhi perintah-perintahnya. Andai saja ia tak sempat membaca isi surat itu di saat ia tetap menyalahi perintah tentu ia masih tehindar dari cacian dan kebencian.
Hendaknya pula si pembaca Al-Qur’an berlepas diri dari daya dan kekuatannya serta tidak melihat dirinya kecuali dengan pandangan kerelaan dan senantiasa dalam rangka menyucikan jiwa. Sebab orang yang memandang diri dalam keadaan penuh keprihatinan akan menjadi faktor kedekatannya pada Allah SWT. []
Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / Tahun Terbit ?/Cet.: 2000/Kesembilan
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


