JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muhasabah

Amalku Masih Sedikit

Seorang hamba yang beriman akan selalu bercermin kepada dirinya sendiri. Ia tidak mudah berbangga dengan ilmu yang ia miliki, tidak pula merasa cukup dengan amal yang telah ia lakukan. Justru semakin ia berilmu, semakin ia merasa kurang dalam mengamalkan.

🎙️ Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Aku memohon kepada Allah agar menolong aku dan kalian semua untuk mengamalkan apa yang telah kita ketahui. Karena ilmu yang telah kita ketahui banyak, akan tetapi hanya sedikit yang kita amalkan.” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 86)

Ucapan beliau menggambarkan sebuah kenyataan: manusia sering kali lebih banyak mengetahui kebaikan, tetapi amalnya jauh dari apa yang ia ketahui. Ilmu yang hanya berhenti pada pengetahuan tidak akan memberi manfaat jika tidak dibarengi dengan amal.

BACA JUGA: 8 Amalan Agar Tidak Terhindar dari Gangguan Setan

Imam Al-Awza’i rahimahullah pernah menasihati: “Ilmu itu akan tetap bersama pemiliknya selama ia mengamalkannya. Jika ditinggalkan amalnya, maka ilmunya akan hilang dari dirinya.” Inilah mengapa para salaf selalu berhati-hati agar ilmu tidak sekadar menjadi hiasan lisan tanpa membekas pada perbuatan.

Ibnul Qayyim rahimahullah menambahkan: “Ilmu tanpa amal adalah seperti pohon tanpa buah.” Pohon itu mungkin rindang, tetapi tidak membawa manfaat yang besar. Sebaliknya, ilmu yang disertai amal akan menjadi cahaya bagi pemiliknya di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, seorang muslim yang jujur dengan dirinya tidak akan merasa puas dengan amalan yang sedikit. Ia khawatir amalnya belum diterima, khawatir masih banyak kekurangan dalam niat, dan khawatir masih terkotori oleh riya atau lalai. Justru perasaan “amalku masih sedikit” akan mendorongnya untuk terus memperbaiki diri, bukan untuk berputus asa.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: “Seorang mukmin menggabungkan antara berbuat baik dan rasa takut. Ia beramal sekuat tenaga, tetapi selalu khawatir amalnya tidak diterima. Adapun orang munafik, ia berbuat buruk dan merasa aman dari murka Allah.”

BACA JUGA: Jangan Sia-siakan Waktu untuk Amal Shalih

Perkataan ini menunjukkan perbedaan antara hati seorang mukmin dan hati orang yang lalai. Seorang mukmin akan senantiasa memperbanyak doa agar diberi taufik untuk mengamalkan ilmunya, sekaligus memohon agar amalnya diterima.

🍂 Maka, janganlah kita tertipu dengan banyaknya ilmu atau merasa cukup dengan sedikit amal. Hendaknya kita menundukkan hati, memperbanyak amal saleh semampunya, dan selalu berdoa seperti doa Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah: agar Allah menolong kita untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui.

📌 Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya ilmu yang akan menolong kita di akhirat, tetapi sejauh mana ilmu itu diwujudkan dalam amal saleh yang ikhlas karena Allah Ta’ala.

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muhasabah

Cara Hidup Kita

Muhasabah

10 Nasihat tentang Tahajjud

Muhasabah

4 Faedah Ziarah Kubur

Muhasabah

Nasihat Ali bin Abu Thalib tentang Hidup di Dunia dan Kematian