Pertanyaan: Asy-Syaikh yang mulia, apakah iman dan yakin bertingkat-tingkat dalam diri seseorang dengan seorang yang lain?
Jawaban: Tidak diragukan lagi bahwa keyakinan bertingkat-tingkat dengan perbedaan yang besar. Kadang-kadang seseorang itu bisa sampai kepada keyakinan terhadap sesuatu yang dikabarkan, seakan-akan seperti menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jibril ‘alaihis salam ketika Jibril ‘alaihis salam bertanya tentang ihsan:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ
“Yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat. nya.”
Ini adalah kedudukan yang paling tinggi. Maka jika tidak mampu mencapai kedudukan ini, maka menjadilah seperti kedudukan orang yang beribadah dalam keadaan takut.
BACA JUGA: Apakah Orang Munafik Mempunyai Iman?
Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَإِنْ لَمْ تَرَهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
“Maka jika engkau tidak dapat melihatnya sesungguhnya Allah melihatmu.” (Dikeluarkan oleh al-Imam Muslim).
Inilah yang dimaksudkan oleh Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu dengan perkataannya: “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Rabbnya dengan hati beliau, bukan melihat secara langsung.”
Dari satu sisi penglihatan dengan hati lebih kuat dari penglihatan secara langsung. Dan dari sisi yang lain penglihatan secara langsung lebih kuat dari penglihatan hati. Berkaitan dengan keyakinan, manis, dan lezatnya iman penglihatan hati lebih tinggi, sedangkan berkaitan dengan pengetahuan, penglihatan secara langsung lebih kuat karena menyaksikan langsung sesuatu yang bisa diraba atau disentuh di hadapannya.
Dan tingkatan yang aku maksudkan di sini adalah tingkatan penglihatan hati yang merupakan tingkatan dimana manusia tidak dapat mencapainya kecuali sedikit saja di antara mereka.
BACA JUGA: Apa Maksud dari “Iman Itu Akan Kembali ke Madinah”?
Kebanyakan manusia, iman mereka dibangun dari sekadar berita yang benar dan dalil ini sudah mencukupi. Akan tetapi tingkatan keyakinan setelah mencapai tingkatan ini adalah lebih kuat.
Sedangkan keyakinan itu berbeda-beda antara seseorang dengan orang lain bahkan berbeda-beda dalam diri seseorang antara satu keadaaan dengan keadaan yang lainnya. Ini adalah sesuatu yang bisa disaksikan. Kadang-kadang seseorang merasakan keyakinannya kuat dan pada saat yang lain dia merasakan keyakinannya lemah.
(Liqaa’aat al-Baabil Maftuuh no. 1433) []
Sumber: Al-Fatawa Al-Muhimmah (Fatwa-fatwa Penting dalam Sehari-hari jilid 1) / Penulis: Syaikh Muhammad Shalih Al-Muhaimin / Penerbit: Pustaka as-Sunnah / Cetakan 2, Maret 2012
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


