Cerdas. Adalah satu kata yang menggambarkan kepribadian Iyas bin Mu’awiyah al Muzani. Sosok ulama Bashrah yang juga diamanahi sebagai Qadhi di wilayah itu.
Satu hari. Datang seorang pejabat dari satu kawasan menghadap Iyas.
Saat pejabat tersebut bertanya perihal minuman keras. Iyas menjawab dengan tegas, “Haram.”
“Apa alasan keharamannya, sedangkan itu hanyalah buah-buahan dan air yang dimasak di atas api. Bukankah kesemuanya sesuatu yang dibolehkan. Tidak masalah bukan?” sang pejabat menyangkal.
BACA JUGA: Imam Syafi’i dan Buruh yang Mengadu padanya
Iyas lalu bertanya, “Seandainya aku mengambil segenggam air, lalu aku pukulkan pada tubuhmu. Apakah itu akan menyakitimu?”
“Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam pasir, lalu aku pukulkan ke tubuhmu. Apakah itu akan menyakitimu?”
“Tidak.”
“Seandainya aku mengambil segenggam lumpur, lalu aku pukulkan ke tubuhmu. Apakah itu akan memyakitimu?”
“Tidak.”
BACA JUGA: Kehidupan Imam Malik bin Anas
“Seandainya aku mengambil pasir. Aku lapisi dengan lumpur. Aku siram dengan air. Aku aduk-aduk, lalu aku menjemurnya hingga kering. Setelah itu aku pukulkan ke tubuhmu. Apakah itu akan menyakitimu?”
“Tentu saja, itu akan menyakitiku. Bahkan mungkin bisa terbunuh juga.”
Iyas bin Mu’awiyah al Muzani berkata, “Begitu juga dengan khamr. Saat bahan-bahannya disatukan dan diragikan. Haramlah hukumnya.”
Itulah sekelumit kisah dari Iyas yang cerdas. Yang masa mudanya ia habiskan menekuni ilmu. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


