Abdullah bin Mas’ud –radiyallahu ‘anhu– berkata, “Sesungguhnya saya benci melihat seorang lelaki yang menganggur, tidak ada kesibukan dunia atau kesibukan akhirat.” Az-Zuhud karya Al-Baihaqi (577)
Perkataan ini bukan sekadar sindiran, tapi cermin bagaimana para sahabat Rasulullah ﷺ memaknai hidup: penuh semangat, penuh amal, dan jauh dari kemalasan.
Dalam Islam, bekerja bukan hanya soal mencari nafkah, tapi bentuk ibadah, bukti tanggung jawab, dan jalan untuk menjaga harga diri. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari hasil jerih payah tangannya sendiri. Dan sungguh, Nabi Dawud ‘alaihis salam biasa makan dari hasil tangannya sendiri.” HR. Bukhari
BACA JUGA: Hukum Suami Menyuruh Istri Bekerja dan Mencari Nafkah
Para sahabat Nabi ﷺ banyak yang bekerja meski mereka ahli ibadah dan ilmu. Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu– seorang pedagang. Umar bin Khattab –radhiyallahu ‘anhu– juga bekerja sebagai penggembala dan pedagang sebelum menjadi khalifah. Bahkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf –radhiyallahu ‘anhu– yang dikenal sebagai hartawan, memulai kembali dari nol ketika hijrah ke Madinah. Ia berkata, “Tunjukkan kepadaku di mana pasar,” lalu mulai berusaha hingga Allah berkahi usahanya.
Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah– pernah berkata: “Sesungguhnya aku lebih senang bila ada seseorang yang mencari rezeki halal untuk mencukupi keluarganya daripada ia hanya duduk di masjid menanti pemberian manusia.”
Ini bukan berarti dunia harus diutamakan. Tapi justru agar dunia tidak menguasai hati, kita diperintahkan untuk sibuk, baik dengan amal dunia yang halal maupun dengan amal akhirat. Seseorang yang menganggur dari dua sisi ini, dunia dan akhirat, dikhawatirkan hatinya akan dipenuhi was-was, maksiat, atau kemalasan.
BACA JUGA: Nabi Menyuruh Umatnya untuk Bekerja
Al-Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah– pernah berkata: “Aku melihat kemalasan membuka pintu bagi banyak keburukan. Orang yang tidak punya kesibukan akan mudah tertarik pada hal-hal yang sia-sia.”
Karena itu, jangan bangga jika tak punya kerjaan. Jangan pula merasa cukup dengan ibadah tanpa berusaha. Seorang muslim sejati adalah yang menyeimbangkan keduanya—mencari rezeki halal di dunia dan tetap teguh mengejar akhirat.
Mari sibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Karena hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan diam dan menganggur. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


