JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ramadhan

Ghibah, Perusak Pahala Puasa Paling Banyak Dilakukan

Perbuatan yang merusak pahala puasa, salah satunya ghibah atau membicarakan orang lain. Karena sering dianggap kecil, ironisnya, ghibah justru sering sekali dilakukan oleh orang berpuasa, tanpa sadar.

Dari segi bahasa Ghibah berasal dari kata ghaib berarti tidak hadir. Karena itu ghibah adalah menyebut orang lain yang tidak hadir di hadapan penyebutnya dengan sesuatu yang tidak disenangi oleh yang bersangkutan.

Artinya jika seseorang menyebut prihal keadaan orang lain yang sekiranya ia akan marah jika mendengarnya sendiri atau apabila yang dikatakan itu disampaikan oleh orang lain kepadanya juga disebut ghibah.

Seringkali yang menjadi objek ghibah itu ada kalanya berhubungan dengan kekurangan-kekurangannya yang bersifat negatif, seperti keadaan bentuk tubuh, perbuatan, ucapan atau prilaku agama atau dunianya.

BACA JUGA:  Pahala bagi Orang-orang yang Berpuasa

Menceritakan keadaan orang lain apalagi yang bersifat negatif, kemudian pembicaraan tersebut didengar oleh yang bersangkutan dan ia merasa tidak senang, boleh jadi karena pembicaraan itu sesuatu aib yang menyebabkan ia malu, maka itulah yang dinamakan ghibah.

Namun jika menyebut orang lain, tetapi yang disebut tidak merasa keberatan jika ia mendengar pembicaraan tersebut, disebabkan karena sesuatu yang bukan aib, maka itu tidaklah dilarang dan tidak termasuk kategore ghibah. Jadi ghibah itu adalah membicarakan orang lain dan orang yang dibicarakan merasa keberatan atau tidak setuju dengan isi pembicaraannya karena aib baginya.

Orang yang sedang berpuasa, juga lainnya, wajib atasnya untuk menjauhkan diri dari perbuatan yang dapat merusak pahala puasanya.

BACA JUGA: Hukum Puasa tapi Tetap Bermaksiat

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (perkataan/perbuatan yang tidak berfaedah) dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Dengan demikian seseorang bisa saja menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sejak terbit fajar (waktu subuh) hingga terbenam matahari (waktu magrib).
Namun, perlu diperhatikan sabda Nabi Muhammad, “Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tidak mendapatkan balasan kecuali lapar dan haus” (H.R. Ath-Thabrani). []

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ramadhan

Ingatlah Puasa yang Sudah Kita Lakukan Sebulan Penuh Itu: Mutiara Hadits

Ramadhan

Setelah Ramadhan Berlalu, Apa?

Ramadhan

Tanda Diterimanya Amalan Ramadhan Kita

Ramadhan

Jumlah Malaikat yang Turun pada Malam Lailatul Qadr

Leave a Reply