Setiap hamba kelak akan berdiri sendiri di hadapan Allah Ta‘ala, tanpa harta, tanpa jabatan, dan tanpa pembela, kecuali amal perbuatannya. Pada hari itulah seluruh kehidupan di dunia diputar ulang, lalu ditanya satu per satu dengan hisab yang adil dan teliti.
Tidak ada yang terlewat, baik amal besar maupun kecil, semuanya dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, memahami hal-hal apa saja yang akan dihisab dan ditanyakan kepada setiap hamba menjadi perkara penting, agar hidup di dunia benar-benar terarah dan penuh kesadaran.
1. Yang pertama kali ditanyakan pada seorang hamba di hari kiamat adalah shalat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Rasu-lullah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ، فَإِنْ انتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ : انْظُرُوا هَلْ لعَبْدِي مِنْ تَطوُّع فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذلك
“Sungguh amal pertama seorang hamba yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, ia beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak, ia gagal dan rugi. Jika ada kekurangan pada (shalat) wajibnya, Rabb Azza wa Jalla berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki (shalat) sunnah untuk menyempurnakan kekurangan (shalat) wajibnya! Selanjutnya (penghisaban) seluruh amalnya (juga) seperti itu.” (Al-Bukhari, 11/350-351. Muslim, hadits nomor 1016)
2. Pertanyaan tentang empat hal
Diriwayatkan dari Abu Barzah Fadhlah bin Ubaid al Aslami ia berkata: Rasulullah bersabda:
لَا تَزُولُ قَدَمًا عَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ، وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وعن جسمه فيم أبلاه
“Tidaklah dua kaki seorang hamba berlalu hingga ia ditanya tentang usianya, untuk apa dihabiskan, tentang ilmunya; apa yang telah diamalkan, tentang hartanya, dari mana diperoleh dan dibelanjakan untuk apa, dan tentang ba dannya; untuk apa dia gunakan?” (At-Tirmidzi, hadits nomor 413. Abu Dawud, hadits nomor 864, Ibnu Majah, hadits nomor 1425, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, hadits nomor 337)
BACA JUGA: Mengapa Hari Kiamat Disebut Hari Keputusan?
3. Pertanyaan tentang pendengaran, penglihatan dan hati.
Allah SWT berfirman:
وَلَا نَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمُ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أولَيْكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا )))
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pen dengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)
Imam Ibnu Katsir meriwayatkan dari Abas, ia berkata Jangan katakan (yang tidak kau ketahui ilmunya). Al Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Jangan kau katakan sesuatu yang tidak kau ketahui ilmunya. Muhammad bin Hanafiyah menyatakan, mak sudnya kesaksian palsu. Qatadah menyatakan, jangan kau bilang “Aku melihat padahal tidak, “Aku mendengar, padahal tidak, “Aku tahu,” padahal tidak, karena Allah akan meminta pertang gungjawaban semua itu. menjelaskan, Ali bin Abu Thalhah
Imam Ibnu Katsir menjelaskan, inti dari penjelasan mereka adalah Allah melarang mengatakan sesuatu tanpa didasari ilmu, bahkan dengan dugaan yang hanya merupakan terkaan dan hayalan.
Seperti yang Allah sampaikan:
ا يَتَأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَابٌ رَّحِيمٌ )
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيث
“Jauhilah prasangka karena prasangka adalah tutur kata paling dusta.” (At-Tirmidzi, hadits nomor 2419, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah, hadits nomor 946)
Hadits lain menyebutkan: “Sungguh puncak dusta adalah seseorang mengaku-aku mimpi (sesuatu) padahal tidak.” ((Al-Bukhari, Fathul Bari, 9/5144, Muslim, hadits nomor 2563)
Disebutkan dalam hadits shahih;
مَنْ تَكَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَنْ يَفْعَلَ
“Barangsiapa mengaku-aku mimpi sesuatu, pada hari kiamat ia dipaksa untuk mengikat dua rambut, dan ia tidak akan bisa.” (Al-Bukhari, Fathul Bari, 12/7043)
BACA JUGA: Yang Mengatakan Hari Kiamat Tidak Ada
Firman Allah: “Semuanya itu,” yaitu pendengaran, penglihatan dan hati, “Akan diminta pertanggunganjawabnya.” Yaitu, hamba akan dimintai pertanggungjawaban semua itu pada hari kiamat, akan ditanya apa yang sudah dilakukan dengannya.”
Syaikh As-Sadi menafsirkan, firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,” yaitu jangan kamu mengikuti apa yang tidak kau tahu ilmunya, telitilah terlebih dahulu semua yang kau ucapkan dan yang kau kerjakan, jangan dikira semua itu akan pergi begitu saja tanpa membawa manfaat atau petaka bagi Anda, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya,” karena itu laik bagi seorang hamba yang tahu akan dimintai pertanggungjawaban dari tutur kata, perbuatan dan apa pun yang dilakukan oleh seluruh anggota badan yang diciptakan Allah untuk mempersiapkan jawabannya. Jawaban yang baik tidak lain adalah dengan menggunakan seluruh anggota badan untuk menyembah Allah, memurnıkan agama Nya dan menahan semua anggota badan dari apa pun yang tidak Allah suka. []
Sumber: Ar-Riyad an-Naadirah fii Shahiih ad-Daaril Akhirah (Prahara Padang Mahsyar – Ulasan Mendalam tentang Peristiwa Pengumpulan Manusia di Padang Mahsyar, Huru-Hara Kiamat, Hisab, Mizan, Telaga, Shirath, Syafaat, & Fatwa-Fatwa tentang Akhirat / Penulis: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli / Penerbit: Pustaka Dhiya’ul Ilmi /Cetakan Pertama: Rabiul Awwal 1439 H/Nopember 2017 M
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


