JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Kajian

Beragama dengan Ilmu: Mengikuti Dalil, Bukan Hawa Nafsu

Fiqih, Abu Hanifah

Islam adalah agama yang tegak di atas dalil, bukan di atas selera atau pendapat pribadi. Prinsip ini menjadi pondasi utama bagi siapa pun yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, Allah تَبَارَكَ وَتَعَالَى menegaskan pentingnya ketaatan mutlak kepada syariat, bukan kepada keinginan sendiri.

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (QS. Muhammad: 33)

Ayat ini memberi pesan kuat bahwa ketaatan kepada Allah dan Rasul adalah jalan selamat, sedangkan mengikuti hawa nafsu dapat merusak amal-amal yang telah dilakukan.

Dalam ayat lain, Allah mengingatkan: “Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (QS. At-Taghabun: 12)

BACA JUGA: 2 Klasifikasi Dosa Besar

Pesan ini menegaskan, tugas Rasulullah ﷺ hanya menyampaikan kebenaran. Pilihan untuk menaati adalah tanggung jawab masing-masing, namun berpaling berarti berpaling dari petunjuk yang benar.

Menjadikan Dalil Sebagai Penentu

Allah juga memerintahkan agar setiap perbedaan pendapat dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Ini adalah prinsip agung dalam beragama. Perselisihan bukan diselesaikan dengan hawa nafsu atau pendapat yang populer, tetapi dikembalikan kepada dalil yang sahih.

Bahaya Mengikuti Hawa Nafsu dalam Beragama

Mengikuti selera sendiri dalam agama dapat mengarah pada bid’ah, perpecahan, bahkan kesesatan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan kami ini (agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Malik رحمه الله pernah berkata: “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam dan menganggapnya baik, maka ia telah menuduh Muhammad ﷺ mengkhianati risalah ini, sebab Allah berfirman: ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu’ (QS. Al-Maidah: 3).” (Al-I’tisham, Asy-Syatibi)

Kata-kata ini menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang merasa pendapat pribadinya lebih baik daripada syariat.

Meneladani Ulama dalam Memahami Dalil

Ulama salaf adalah teladan terbaik dalam menjadikan dalil sebagai kompas hidup. Imam Syafi’i رحمه الله mengatakan: “Setiap orang boleh diambil perkataannya atau ditinggalkan, kecuali Rasulullah ﷺ.”

Ini menegaskan bahwa ukuran kebenaran bukanlah nama atau popularitas seseorang, melainkan kesesuaian perkataan dan perbuatan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

BACA JUGA: Apa Para Peran Pemuda yang Teguh dalam Kebangkitan Beragama?

Kembalikan Segala Urusan Kepada Allah dan Rasul

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perkara yang sering menjadi sumber perdebatan: mulai dari masalah ibadah, muamalah, hingga adab. Sikap seorang muslim seharusnya sederhana: kembali kepada dalil. Jika sesuatu telah jelas dari Al-Qur’an dan Sunnah, tidak ada ruang bagi logika atau pendapat pribadi untuk mendahuluinya.

Allah mengingatkan dalam firman-Nya: “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Penutup

Beragama bukan soal selera atau tradisi semata, melainkan soal ketaatan kepada wahyu yang telah Allah turunkan dan Rasulullah ﷺ ajarkan. Inilah jalan selamat yang diridhai Allah, dan barang siapa yang menyimpang darinya, maka ia tersesat meskipun ia merasa benar. []

Referensi:
Al-Qur’an: QS. Muhammad: 33, QS. At-Taghabun: 12, QS. An-Nisa: 59, QS. Al-Ahzab: 36, QS. Al-Maidah: 3.
Shahih Bukhari dan Muslim.
Al-I’tisham, Asy-Syatibi.
Perkataan Imam Syafi’i dan Imam Malik.

 

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Kajian

Pinjaman kepada Allah yang Tak Pernah Merugi

Kajian

Larangan Membeli Barang yang Sudah Ditawar oleh Orang Lain

Kajian

Larangan Saling Memalingkan Wajah (at-Tadaabur)

Kajian

Syubhat dengan Perkara Halal dan Haram