Suatu ketika, seorang ahli ibadah bernama Abdullah Al-Umari menulis surat kepada Imam Malik. Ia menasihati agar sang imam mengurangi kesibukan mengajar dan lebih banyak menyendiri untuk beribadah, sebagaimana yang ia lakukan.
Jawaban Imam Malik begitu dalam dan menenangkan.
BACA JUGA: Imam Malik bin Anas (93-179 H = 712-798 M)
Beliau menjelaskan bahwa Allah membagi amalan di antara hamba-hamba-Nya sebagaimana Dia membagi rezeki. Ada yang dibukakan baginya pintu shalat malam, namun tidak begitu kuat dalam puasa sunnah. Ada yang dimudahkan dalam berjihad, tetapi tidak banyak dalam ibadah lainnya. Ada pula yang ringan bersedekah, namun tidak menonjol dalam amalan yang berbeda.
Setiap hati memiliki jalannya sendiri menuju ridha Allah.
Lalu Imam Malik menegaskan bahwa menyebarkan ilmu termasuk amalan yang paling utama. Itulah pintu kebaikan yang Allah bukakan untuknya. Dengan penuh kerendahan hati, beliau berkata bahwa ia ridha dengan pembagian tersebut, dan berharap bahwa apa yang ia lakukan tidak lebih rendah dari ibadah yang ditekuni oleh penulis surat. Keduanya, menurut beliau, berada di atas kebaikan.
BACA JUGA: Imam Malik Menangis Saat Berbuka Puasa
Kisah ini mengajarkan sebuah hikmah besar: jangan meremehkan jalan amal orang lain, dan jangan memaksa diri mengikuti bentuk ibadah yang bukan menjadi kekuatan kita.
Tugas kita bukan membandingkan, tetapi mengenali pintu kebaikan yang Allah bukakan untuk diri kita—lalu menjaganya dengan ikhlas, istiqamah, dan penuh syukur. Karena di sisi-Nya, yang dinilai bukan jenis amalnya, tetapi ketulusan dan kesungguhan menjalaninya. []
[Siyar A’lam Nubala 8/115]
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


