JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Anak Durhaka: Membunuh dan Durhaka karena Kecanduan

Dzolim

Samy telah menyelesaikan ujian tahun pertamanya di SMP dengan hasil memuaskan. Sebelum dia melihat pengumuman hasil ujian, ia bertanya kepada ayahnya, “Apakah hadiah yang akan ayah berikan padaku tahun ini?”

“Jika kamu lulus ujian, ayah ijzinkan kamu pergi ke Habasyah bersama pamanmu untuk mengisi liburan musim panas,” jawab ayahnya.

“Benar, ayah?!” Samy mengulang-ulang pertanyaannya itu seperti tidak percaya.

“Benar, Samy, sayang,” kata ayahnya.

Samy adalah anak sulung. Ibunya melahirkannya setelah sekian lama menunggu. Maka Samy tumbuh sebagai anak kesayangan dan manja.. Semua berusaha untuk menyenangkannya, mewujudkan berbagai keinginannya juga membahagiakannya.

Malam itu Samy tidak bisa tidur karena bahagia. Mimpi-mimpi mempermainkan khayalan dan pikirannya yang masih kekanak-kanakan. Bagaimana tidak, ia akan bepergian untuk pertama kalinya ke Habasyah dan dia akan mengisi masa liburan sekolah di sana selama tiga bulan. la akan bersenang-senang dalam kurun waktu tersebut dengan segala sesuatu yang baru dan indah.

Tiga hari setelah ujian, ia pergi ke sekolah dengan gembira ditemani ayahnya untuk mengambil rapor. la pergi beberapa saat sedangkan bapaknya menunggunya di mobil. Tak lama kemudian ia kembali sambil membawa rapor di tangannya, dan tanda-tanda kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang polos. “Ayah, ayah, aku dapat rangking dua!”

BACA JUGA:  Kisah Anak Durhaka: Aku, Seorang Perempuan yang Cinta Dunia

Senyuman lebar tampak di wajah ayahnya. Kebahagiaan mulai tampak di kedua matanya. Ia mendekapnya dengan bangga dan bahagia lalu berkata, “Beribu-ribu bahkan berjuta berkah, Samy. Segala puji bagi Allah atas petunjuk yang telah Dia berikan padamu. ”

“Ayah, apakah engkau masih merestui kepergianku bersama pamanku?”

“Ya, kamu akan bepergian bersama pamanmu dan aku akan memberimu uang yang cukup agar kamu bahagia. ”

Setelah segala sesuatunya siap, Samy berpamitan pada kedua orang tuanya. Ia sangat bangga juga bahagia. Di dalam pesawat terbang yang ia tumpangi pertama kalinya, dia melihat dunia baru. Satu kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Satu kenikmatan yang bercampur di dalamnya rasa takut dan bahagia, khususnya ketika dia mendengar suara pesawat pada saat tinggal landas untuk kemudian terbang tinggi di angkasa yang luas. Segala yang ia saksikan dan dengar adalah sesuatu yang baru bagi dia, sesuatu yang asing dan belum terbiasa dengannya sebelumnya. Dan di Habasyah, Samy yang ditemani pamannya melihat dunia baru lainnya.

Samy melewati berbagai pengalaman. Ia menyaksikan hal-hal baru yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Ia membaur dengan banyak orang. Ia menjalani hidup yang penuh kebahagiaan. Ia merasa bahwa dia jauh lebih besar dari usianya untuk mengetahui hal-hal baru. Dia memerhatikan antara satu masa dengan masa lainnya juga pada waktu-waktu tertentu bahwa pamannya mengalami kondisi yang aneh; fisik juga keseimbangannya kadang melemah, namun kadang juga dia melihatnya bahagia, tertawa atau menyanyikan lagu-lagu yang tidak dia pahami dengan baik.

Pamannya kadang berbicara dengan bahasa yang asing, atau tertawa terbahak-bahak. Kadang tindakan pamannya itu membuatnya bingung dan kadang membuatnya tertarik. Samy terus mengamatinya tanpa prasangka. Dan ketika Samy mengerti bahwa penyebab tindakannya yang aneh itu adalah meminum khamr, ia meningkatkan pengamatannya. Ketika dia mengerti bahwa pamannya kecanduan khamr, maka tumbuhlah dalam dirinya insting untuk mengikutinya. Kemudian insting itu berubah menjadi keinginan untuk mencoba melakukannya.

“Aku akan lakukan seperti yang paman lakukan,” kata Samy dalam hati, “Lalu aku akan melihat apa yang akan terjadi padaku. Apa yang telah paman rasakan? Bagaimana dia bisa merasa gembira?”

Pada mulanya hal itu tidak menarik bagi dia. Namun apa yang dia lihat dari kondisi pamannya mendorong dia untuk mencoba sekali, tiga kali hingga dia terbiasa melakukannya. la pun menjadi kecanduan untuk meminumnya padahal usianya tidak lebih dari tiga belas tahun. la merasakan bahwa itu adalah percobaan yang menyenangkan sebagaimana yang digambarkan setan padanya. Setelah masa liburan selesai. Samy kembali ke Jeddah bersama pamannya.

Pikirannya yang dipenuhi tentang bagaimana caranya untuk mendapatkan minuman dan berkesempatan untuk menenggaknya selalu merisaukan pikirannya, mengganggu kehidupannya dan menghalanginya untuk merasakan kebahagiaan dan ketenangan. Namun, akhirnya dia dapati bahwa menghindarkan diri dari meminum khamr adalah satu-satunya solusi untuk menjaga dirinya juga masa depannya karena dia sendiri masih seorang anak kecil. Apalagi perbuatan itu adalah satu perbuatan buruk yang telah Allah Ta’ala haramkan dan Dia juga telah menetapkan siksaan bagi peminumnya.

Dengan kembali ke kehidupannya yang normal di negerinya, dan rumahnya, maka Samy telah lupa dengan segala sesuatu tentang khamr. Selama tiga tahun Samy tak sedikit pun memikirkan meminum khamr, dan setiap tahunnya ia selalu lulus ujian dengan hasil memuaskan. Hingga pada akhir tahun ke empat keluarganya memutuskan untuk bepergian ke luar negeri untuk mengisi liburan musim panas.

Maka di sana, di jantung negeri-negeri Eropa berbagai hasutan kembali membangkitkan keinginan yang terpendam dalam dirinya sejak beberapa lama, dan kenangan-kenangan masa lalu ketika berada di Habasyah kembali terngiang-ngiang. Setan pun mendatanginya dan menjadikan meminum arak itu indah dalam pandangannya. Ia pun memanfaatkan kesempatan ketika keluarganya pergi ke luar, atau ketika mereka tidur, untuk menenggak minuman khamr sehingga ia kembali kecanduan. Minuman itu ibarat air dan makanan baginya yang tidak bisa terlepas darinya selamanya.

Lalu pada suatu malam ia pergi keluar bersama Fauzi, anak pamannya, untuk begadang di salah satu night club. Setelah menyantap makanan yang mereka pesan, mereka pun duduk bersama-sama sambil meminum arak dan mendengarkan musik jazz yang mengalun, hingga rasa bahagia pun tampak pada wajah Samy setelah dia meminum arak. Pada saat itu Fauzi mengeluarkan butiran kecil berwarna hitam dari saku bajunya, lalu menghirupnya dengan tenang dan nikmat, seakan-akan dia sedang mencium bayi yang sedang menyusui.

Fauzi senantiasa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Samy pun bertanya padanya tentang benda apakah ini, dan kenapa dia berbuat seperti itu.

Fauzi pun tertawa lalu menjawab, “Bukankah kamu sudah tahu benda apa ini?”

“Belum,” jawab Samy.

“Bukankah kamu sudah pernah melihat butiran ini sebelumnya?”

“Ini adalah pertama kali aku melihat benda itu meskipun warnanya kehitam-hitaman dan tidak pantas untuk aku gambarkan.”

Maka tertawalah Fauzi dengan nada mengejek. Lalu ia berkata, “Ini namanya marijuana hitam. Ini adalah puncak kenikmatan yang tiada taranya. ”

Samy heran, “Apakah marijuana ini yang telah melakukan ini semua?”

“Apa yang kamu katakan itu sepenuhnya benar, dan kamu harus mencobanya hingga kamu tahu sendiri rasanya.”

Samy mengambilnya kemudian menghirupnya sehingga ia berpindah ke alam palsu dan fana. Ia tidak tahu bahwa butiran hitam ini akan menunggunya, yaitu kematian yang akan mengetuk pintunya setiap hari, juga akan mengancam masa depan serta kesehatannya. Hanya dalam tempo beberapa hari ia sudah kecanduan sehingga kehidupannya menjadi terbalik. Kesehatannya memburuk dan pikirannya pun rusak. la selalu membelanjakan apa saja yang dia dapatkan untuk membeli marijuana itu.

Ketika menyelesaikan studinya dan mendapatkan pekerjaan, ia mulai merasa benci kepada orang-orang dan berusaha untuk menjauhi mereka. la merasa bahwa semua orang itu mengetahui rahasianya. la merasa tidak ada seorang pun yang dapat ia percaya. Oleh karena itu, ia sulit berbaur dan sering menyendiri. Kepercayaannya kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya telah hilang. Perasaan gelisah pun selalu menyertainya. Delapan belas tahun ia menjadi tawanan butiran hitam itu.

Meskipun ia telah berpindah-pindah ke beberapa pekerjaan untuk mendapatkan gaji yang lebih besar sehingga dapat membeli butiran hitam itu, ia merasakan kepedihan hidupnya dan banyak permasalahan yang ia hadapi yang tak ada hentinya. Posisinya di tengah keluarga juga sulit, ia menolak untuk menikah, sedangkan keluarganya bersikukuh agar ia segera menikah. la merasa dirinya seperti pelaut yang hilang di tengah lautan yang senantiasa bergelombang, tidak ada jalan selamat darinya.

Pada saat demikian, Samy teringat pada seorang teman dekatnya. Suatu hari ia pergi menemui temannya untuk mengungkapkan segala permasalahannya. Ia berharap temannya itu bisa memberinya jalan keluar. Temannya menyambutnya dengan penuh rasa gembira dan mencelanya karena telah lama tidak menghubunginya. Samy mulai menceritakan kepada temannya tentang segala sesuatu yang telah dan sedang terjadi pada dirinya. Celakanya, temannya itu saat itu juga sedang dalam kondisi sakau ketika mendengarkan pembicaraanya.

Ketika Samy selesai mengungkapkan perasaannya, temannya berkata, “Aku punya sesuatu untukmu yang dapat membuatmu melupakan segala rasa sakitmu. Kamu hanya tinggal mengulurkan tanganmu lalu memejamkan kedua matamu dan menunggu beberapa saat.”

“Apa yang kamu katakan? Aku sedang dalam kondisi buruk yang tidak memerlukan gurauan darimu!”

“Aku tidak bergurau, lakukan apa yang aku katakan dan kamu akan melihat (apa yang akan terjadi)!”

Samy menurut saja, ia mengulurkan tangannya dan memejamkan kedua matanya. Ketika dia membuka kembali kedua matanya, ternyata temannya telah selesai menyuntikan heroin ke tangannya. Bersamaan dengan suntikan heroin itu dimulailah perjalanan menyakitkan serta siksaan baru baginya. Ia seperti terbang.

Samy tidak bisa lepas dari heroin. Ketika mencoba meninggalkannya, ia merasakan berbagai rasa sakit yang merapuhkan tulangnya hingga dia tidak bisa menahannya lagi. la jual segala yang dimilikinya untuk membeli heroin. la terpaksa berutang pada keluarga juga teman-temannya, bahkan ia pun menggadaikan rumahnya. Ketika kondisi kesehatannya semakin memburuk, ia keluar masuk rumah sakit karena kecanduan narkotika. Sekalipun berkali-kali masuk ke rumah sakit, tapi itu tidak ada gunanya.

Hingga pada suatu malam ia tidak sanggup lagi melawan (keinginannya) padahal dia sudah tidak memiliki uang sedikit pun. Saat itu ayahnya sedang bepergian ke luar kota. Akhir-akhir ini tindakannya sering menunjukkan watak permusuhan, yang menghilangkan sifat kemanusiaannya. Malam itu diterangi sebagian bulan, ia keluar dari kamarnya lalu menyelinap dengan tenang ke kamar ibunya. Ia membuka lemari lalu mencuri semua perhiasan.

Tiba-tiba ibunya terbangun karena mendengar suara lemari dibuka. Ia melihat bayangan lalu berteriak sekuat tenaga, “Pencuri! Pencuri!” Samy panik, menghampiri ibunya dan menutup mulutnya yang suci itu dengan tangannya, kemudian melemparkannya ke lantai. Ibunya terduduk di atas lantai dengan penuh rasa takut dan gelisah. Samy segera berlari keluar kamar. Pada saat yang bersamaan, adiknya keluar karena mendengar teriakan ibunya. Ia mengejar untuk menangkapnya. Itu adalah saat-saat yang sulit bagi Samy dan gawat posisinya. Karena panik, Samy menusuk adiknya tepat di dadanya hingga meninggal dunia di tangannya, seperti yang dilakukan seekor serigala ketika memangsa kelinci.

BACA JUGA:  Kisah Anak Durhaka: Tobat Seorang Pemuda yang Durhaka kepada Ibunya

Mobil patroli sedang melintas. Sopir mobil patroli tersebut melihat seseorang keluar sambil tergesa-gesa dan terhuyung-huyung sambil membawa kotak besar. Petugas patroli tersebut segera mengepungnya dan menggiringnya ke penjara. Di dalam penjara ketika dilakukan penyelidikan terungkaplah kenyataan pahit yang mengejutkan. Si pelaku kejahatan adalah anak, sedangkan korbannya adalah ibu dan adiknya. Dan rumah yang kecurian adalah rumah mereka semua.

Ibu Samy tidak sanggup menahan penderitaan yang mengejutkan ini sehingga jatuh sakit. Ia menanggung kesedihan, penyesalan, dan kepedihan secara sekaligus. Samy, si anak manja telah hilang masa depannya. Dalam pandangan orang lain dia adalah seorang anak yang durhaka, pelaku kejahatan,dan telah hilang masa depannya. Adiknya telah meninggal dunia karena korban kerusakannya. Di sisi lain, penyebab utamanya adalah tidak adanya kepedulian dan perhatian dari kedua orang tuanya.

Samy pun dipindahkan ke rumah sakit untuk menjalani terapi. Namun, satu hal pasti, ia akan selalu ingat bahwa ia telah membunuh adiknya tanpa ia sadari. Ia akan senantiasa menanggung dosa perbuatan itu hingga walaupun dia telah bertobat dan sembuh dari sakitnya. Ia telah menceburkan dirinya ke dalam sumur yang gelap dan tidak ada jalan keluar darinya. Rayuan-rayuan setan adalah penyebab yang mendorongnya untuk mencebur ke dalam sumur yang dalam itu. []

Sumber: Kisah Anak Durhaka dan Orang Tua Lalai / Penulis: Khalid Abu Shalih / Penerbit: Aqwam / Cetakan 2: Cetakan II: Jului 2018 M/Dzul Qa’dah 1439 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Su'ul Khatimah Para Pendosa

Ibrah

Abu Hanifah Membaca Al-Quran dalam Semalam

Ibrah

Abu Hanifah dan Ummu Imran, Wanita Gila

Ibrah

Kisah-kisah Su'ul Khatimah