JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Anak Durhaka: Aku, Seorang Perempuan yang Cinta Dunia

Aku Insyaf.

Aku cinta dunia. Ya, aku mencintainya dan aku hidup bersenang-senang dengannnya dengan caraku sendiri. Aku suka berbagai permainanku yang kecil. Buku-bukuku yang mungil. Petikan-petikan bait syair yang aku kumpulkan dari sana sini. Pena-penaku yang berwarna-warni, bersamanya aku habiskan waktu-waktuku, kadang dengan memiringkannya di atas kertas ini, atau dengan menjadikannya lurus pada kesempatan lainnya.

Buku-buku syair yang berserakan di atas bantalku juga tempat tidurku, itulah yang telah mengajariku untuk selalu melayang-layang di alam khayalan. Tidak ada yang dapat mengembalikanku ke alam nyata selain ketukan tangan ayah dan ibuku pada pintu kamar, yang memanggilku untuk makan, menemani mereka dalam suatu kunjungan, atau mengingatkanku untuk mengerjakan shalat. Dan sering kali jawabannya berupa penolakan atau berpura-pura tidak mendengar ketukan pintu mereka.

BACA JUGA:  Kisah Anak Durhaka: Hati yang Terbuat dari Baja

Sebenarnya ibuku sering berusaha menerobos penyendirianku, namun aku menganggap usaha-usaha itu hanyalah tindakan kekanak-kanakan pada duniaku. Lalu aku ungkapkan penolakanku padanya dengan kata-kata atau tindakan. Dan aku tidak akan lupa hari itu, ketika ibuku masuk ke kamarku dan mendapatiku sedang menangis dengan keras. Alangkah menakutkan pemandanganku saat itu.

Ibududuk didekatku dan berusaha untuk menenangkanku. Ketika ibu tahu bahwa penyebab tangisanku ini adalah kumpulan bait syair, tidak ada yang dia lakukan kecuali dia langsung keluar dari kamarku yang didahului dengan kata- kata yang menyatakan keberatan akan tindakanku. Ibu juga mengatakan akan menyerahkan perkara ini kepada ayahku agar dia melihat apa yang mungkin bisa ayah lakukan terhadapku.

Meskipun aku anak perempuan satu-satunya di antara beberapa anak laki-laki, namun sesungguhnya aku ini jauh sekali dari ibuku. Adapun ayahku, hubunganku dengannya sebatas pengingatannya padaku untuk mengerjakan shalat, karena dia sering sekali menghadiri berbagai ceramah dan berbagai pertemuan.

Ayah sangat memerhatikan pekerjaannya. Maka panggilan-panggilan dari ibuku untuk mengerjakan shalat aku jawab dengan pura-pura tidak tahu, atau kadang dengan mengaku bahwa aku telah mengerjakan shalat.

Kondisi tersebut terus berlanjut hingga datanglah satu hari di mana ayahku membuka pintu kamarku tanpa mengetuk terlebih dahulu, wajahnya menyiratkan kegelisahan, lalu berteriak, “Cepatlah, kamu siapkan tas ibumu ke rumah sakit, hampir melahirkan!”

Padahal, sebenarnya belum saatnya beliau melahirkan. Waktu kelahiran maju dua bulan. Untuk pertama kalinya aku merasakan bahwa aku adalah bagian dari keluarga ini. Aku harus bertindak cepat. Aku pun berlari dan mengambil tas khususku. Aku mulai mencari tahu di mana ibuku meletakkan pakaiannya. Dengan susah payah aku siapkan tas lalu cepat-cepat mengenakan pakaianku.

Hanya dalam hitungan menit aku sudah berada di dalam mobil bersama ibuku. Ini untuk pertama kalinya aku mengerti bahwa perempuan ini sangat aku cintai. Aku mengulurkan tanganku ke kursi di depanku, kemudian aku cari tangannya untuk aku genggam, juga untuk meringankan bebannya. Tidak lama kemudian berhentilah mobil di depan rumah sakit, lalu para perawat membawa ibuku ke dalam. Saat menunggu itu, seakan-akan waktu berhenti berputar.

Setelah menunggu lama, ayahku bertanya kepada seorang perawat yang bertanggung jawab tentang kondisi ibuku. la memberitahu bahwa bayinya telah dipindahkan ke ruangan khusus untuk bayi-bayi prematur. Adapun ibuku telah dirawat di ICU karena mengalami penurunan tekanan darah yang drastis, juga karena sakit saat melahirkan. Ayahku segera pergi ke ruangan ICU untuk memastikan keadaan ibu.

BACA JUGA: Kisah Anak Durhaka: Penyesalan Tiada Guna

Kemudian, dari ruangan itu ayah pergi ke ruangan khusus untuk perawatan bayi-bayi prematur untuk memastikan keadaan adikku. Pada saat itu, aku merasakan keinginan yang kuat untuk menolong ibu dan adikku dalam melewati cobaan ini, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.

Ketika aku sedang merasakan kebingungan yang sangat, tiba-tiba ayah berdiri di depan pintu mushola kecil dan memberi isyarat kepadaku untuk pergi ke pintu lainnya. Setelah masuk, aku dapati diriku berada di dalam ruangan yang hening sebagaimana di dalam kamarku, dan di salah satu sudutnya ada selembar kertas kecil yang digantung dan tertulis di atasnya dengan tulisan yang indah: Bismillahirrahmanirrahim.

Saat itu aku mengerti bahwa aku telah menemukan kembali sesuatu yang hilang yang telah aku sia-siakan berhari-hari lamanya. Tapi aku mengerti bahwa Dia tidak pernah menyia-nyiakanku. Lalu aku segera kembali kepada-Nya dan berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku bersujud, dan aku sangat mengerti bahwa Dia adalah satu-satunya tempat bersandarku, juga tempat berlindungku yang aku inginkan. []

Sumber: Kisah Anak Durhaka dan Orang Tua Lalai / Penulis: Khalid Abu Shalih / Penerbit: Aqwam / Cetakan 2: Cetakan II: Jului 2018 M/Dzul Qa’dah 1439 H

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Mutiara Nasihat Abdullah bin Amru bin Ash

Ibrah

Harta di Tangan Orang-orang Shaleh

Ibrah

Hasan Al-Bashri Mengatakan: Luar biasa Bakr bin Abdillah!

Ibrah

Imam Hasan Al-Bashri tentang Sedekah dan Pasar