Seorang muslim sejati memandang harta bukan sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah dan menunaikan amanah-Nya.
ثُمَّ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَأْخُذَ الْمَالَ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ لِيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلَا يَأْخُذُهُ بِإِشْرَافِ وَهَلَعٍ؛ بَلْ يَكُونُ الْمَالُ عِنْدَهُ بِمَنْزِلَةِ الْخَلَاءِ الَّذِي يَحْتَاجُ إلَيْهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونَ لَهُ فِي الْقَلْبِ مَكَانَةٌ وَالسَّعْيُ فِيهِ إذَا سَعَى كَإِصْلَاحِ الْخَلَاءِ
“Hendaknya seorang muslim mencari harta dengan hati yang lapang (qana’ah), agar Allah memberi berkah padanya, dan tidak mencarinya dengan rasa tamak atau terburu-buru. Harta itu harus dipandang seperti toilet (yang hanya digunakan sementara), tanpa memberi tempat khusus dalam hati. Saat berusaha mencari rezeki, lakukanlah seperti saat kita memenuhi kebutuhan mendesak yang sifatnya sementara.”
📚 Majmu’ Fatawa 10/663
Ungkapan ini menggambarkan keseimbangan indah antara dunia dan akhirat. Harta boleh dicari, bahkan diperintahkan untuk diusahakan, namun jangan sampai menempati hati. Ibnu Taimiyyah mengibaratkan harta seperti tempat buang hajat: sesuatu yang diperlukan, namun tidak dicintai. Artinya, seorang mukmin tidak menolak dunia, tetapi juga tidak diperbudak olehnya. Ia mengambil secukupnya, dan menggunakan dengan bijak.
BACA JUGA: Adab Muslimah dalam Senyum dan Tawa Menurut Islam
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata, “Zuhud terhadap dunia bukan berarti engkau tidak memiliki harta, tetapi zuhud adalah ketika harta tidak menguasai hatimu.” Demikian pula, Abdullah bin Mubarak rahimahullah menegaskan, “Sebaik-baik harta adalah yang berada di tangan orang saleh.” Dua nasihat ini menegaskan bahwa Islam tidak melarang kekayaan, selama harta itu menjadi alat untuk ketaatan, bukan sumber kesombongan dan kelalaian.
Seorang muslim yang benar memahami bahwa keberkahan harta tidak ditentukan oleh jumlahnya, melainkan oleh kebermanfaatannya. Nabi ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati yang qana’ah, yang menerima dengan lapang, akan menjadikan sedikit harta terasa cukup. Sebaliknya, hati yang tamak akan membuat sebanyak apa pun harta tidak pernah memuaskan. Oleh karena itu, para salaf senantiasa mengingatkan agar hati tidak bergantung kepada dunia.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Tidak halal bagimu mencintai dunia, karena mencintainya akan membuatmu lalai dari akhirat.” Ia juga berkata, “Apabila engkau ridha dengan rezeki yang telah Allah tetapkan, maka engkau adalah orang paling kaya.” Sungguh, orang yang hatinya tenang dengan ketentuan Allah, dialah orang yang benar-benar menikmati kekayaan hakiki.
Dalam mencari rezeki, seorang muslim dituntut untuk berusaha dengan cara yang halal dan tidak tergesa-gesa. Harta yang diperoleh dengan ketamakan atau kezaliman tidak akan mendatangkan ketenangan. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam Madarijus Salikin, “Harta yang halal itu seperti air tawar, jika melewati kebun yang baik akan menumbuhkan kebaikan. Namun jika melewati tanah yang rusak, ia justru menumbuhkan keburukan.”
BACA JUGA: Yang Dilakukan Para Salaf di Waktu Pagi
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha dengan tenang, tawakal, dan ridha terhadap ketentuan Allah. Ia mengambil dunia sekadar kebutuhan, namun hatinya tetap bergantung kepada akhirat. Dunia hanyalah titipan, sedangkan harta hanyalah alat. Jika digunakan untuk kebaikan, ia menjadi sebab kebahagiaan abadi; namun jika disalahgunakan, ia justru menjadi fitnah yang menjerumuskan.
Sebagaimana kata Hasan al-Bashri rahimahullah, “Harta di tangan orang saleh adalah kekuatan untuk menegakkan agama, namun harta di tangan orang fasik adalah bencana bagi dirinya sendiri.” Maka, jadikanlah harta sebagai kendaraan menuju surga, bukan belenggu yang menyeret ke neraka. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


