JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Ibrah

Kisah Yahudza dan Qutrus

Alkisah, ada dua orang saudara seayah dan seibu keturunan bani Israel. Meskipun mereka adalah saudara sekandung, namun tabiat mereka berbeda, seperti bedanya satu tumbuhan dengan tumbuhan yang lainnya padahal tanahnya sama atau seperti bedanya bunga-bungaan padahal tumbuh dari tangkai yang sama.

Yang satu bernama Yahudza. Dia adalah anak yang saleh dan taat kepada perintah-perintah Tuhannya. Dia menyadari kemampuan dirinya sebagai hamba Allah, selalu menjaga kemuliaan diri, lemah lembut, dan tidak terobsesi dengan gemerlapnya dunia.

Adapun saudaranya yang bernama Qutrus adalah anak yang ingkar dan kafir terhadap kenikmatan Allah SWT, tamak, kikir, dan bakhil, hatinya keras, dan perangainya kasar.

Mereka diasuh oleh ayahnya dalam keadaan yang berkecukupan. Hingga akhirnya sang ayah meninggal dunia, dan meninggalkan harta melimpah kepada keduanya. Harta itu dibagi sama rata kepada Yahudza dan Qutrus, namun keduanya mengelolanya sesuai dengan tabiat dan kecenderungan mereka masing-masing.

BACA JUGA:  Kisah Penghuni Surga yang Paling Rendah Tingkatannya

Yahudza menafkahkan hartanya itu untuk kemaslahatan agama. Dia berkata, “Wahai Tuhan. Saya akan keluarkan hartaku untuk men-dapatkan ridha-Mu. Saya akan gunakan semua hartaku itu untuk ketaatan kepada-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan mengharap surga-Mu.”

Dia kemudian menginfakkan hartanya, memberikan kepada orang yang meminta-minta dan membutuhkan, membantu orang yang kesusahan, menggunakannya untuk kebajikan, membantu orang yang kesulitan, hingga akhirnya hartanya tinggal sedikit dan hampir habis, namun dia tetap merasa tenang, hatinya damai dan merasa cukup dengan harta yang tersisa.

Adapun Qutrus, setelah menerima harta warisan dari ayahnya, dia langsung menyimpannya dengan rapi dan mengusir setiap orang yang meminta bantuan kepadanya. Dia menutup mata terhadap ke-susahan dan kefakiran yang menimpa orang-orang yang ada di sekitar-nya. Harta yang diperoleh, digunakan untuk membangun tembok yang megah, dan membuat taman yang luas dan indah.

Setelah lama dirawat dengan baik, tamannya itu kelihatan indah; penuh dengan te-tumbuhan yang rindang, berbuah lebat dan terasa sejuk. Tidak lama kemudian dia membuat kebun lagi di samping kebun pertamanya itu. Di antara dua kebun itu, terbentang jalan yang indah dan bagus.

Dia juga membuat perairan yang memadai untuk keperluan kebunnya itu. Di sepanjang pematang air, terdapat pohon kurma yang tertanam dengan rapi. Setiap orang yang melihat dua kebun ini akan terkagum-kagum dan serasa melihat surga jatuh ke bumi dan akan kekal selamanya. Bagaimana tidak, pohonnya rindang dan sering berbuah, airnya sejuk dan banyak bunga di sana sini. Setiap mata yang melihat akan terpana dan terpesona.

Allah melapangkan rezeki bagi Qutrus. Hartanya semakin melimpah, kebunnya sering berbuah, anaknya semakin bertambah sehingga bisa membantu ayahnya mencari tambahan rezeki dan nafkah.

Dalam kondisi yang berkecukupan seperti ini, seharusnya Qutrus merenungi keagungan Pencipta yang telah banyak memberinya anu-gerah. Seharusnya dia beriman, bertambah taat, dan bersyukur kepada Allah SWT. Namun kenikmatan yang melimpah seringkali menutupi mata hati seseorang.

Dia terpesona dengan dunia yang didapat dan terjerembap dalam kelalaian dan kekufuran, hingga akhirnya dia nanti mendapatkan musibah yang tidak terduga-duga. Dan di saat itulah dia baru menyadari bahwa selama ini dia terlena dan lupa terhadap sang Pencipta. Begitulah kondisi Qutrus yang semakin sombong dengan kenikmatan yang melimpah.

Suatu hari, Yahudza yang mengendarai kuda bertemu dengan Qutrus. Melihat kondisi Yahudza yang miskin, Qutrus memandang-nya dengan rendah, dan berkata kepadanya, “Mana harta, perak, dan emasmu? Sungguh jauh perbedaan antara kondisiku dan kondisimu.

“Kamu miskin, hina, dan tidak punya banyak kawan. Sedangkan aku adalah orang kaya seperti yang kamu lihat, berkecukupan, sejahtera, dan mulia. Saya punya banyak harta, rumah, dan para pembantu. Cobalah masuk ke surgaku, kamu akan melihat pepohonan yang rim-bun, hijau dan sedap dipandang mata, air yang mengalir dan sejuk, buah-buah ranum bergelantungan.

“Lihatlah buah yang ini, dia selalu berbuah tiap tahun. Kebun ini adalah harta terindah yang saya yakin tidak akan berakhir dan rusak. Adapun hari Kiamat yang kamu yakini akan terjadi, dan hari kebangkitan yang tidak lekas terjadi, saya tidak memercayainya dan saya anggap sebagai pembicaraan yang tidak masuk akal. Kalaulah yang kamu katakan itu nanti benar-benar terjadi, maka saya yakin bahwa Allah akan memberi anugerah yang lebih baik kepadaku dari kebun milikku ini.

“Bila Allah telah membuatku kaya dan memberiku anugerah tak terkira di dunia ini, maka tidak ada yang. menghalangi-Nya untuk memberiku anugerah yang lebih baik besok di akhirat.”

Yahudza berkata kepada saudaranya itu, “Sungguh kamu telah kafir terhadap Allah, karena kamu mengingkari hari kebangkitan. Di hari itu kamu dibangkitkan dari kematian dan amalmu akan dihitung. Ketahuilah, Zat yang menciptakanmu mampu membangkitkanmu lagi dari kematianmu.

“Kamu menganggap hina diriku karena saya orang miskin. Dan kamu membanggakan diri, sombong dan takabur dengan harta yang kamu miliki. Mungkin kamu heran bila saya berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih kaya daripada kamu.’ Kekayaan bukanlah diukur dengan harta. Kekayaan diukur dengan kadar kezuhudan seseorang terhadap kenikmatan dunia dan ketidaktergantungannya dengan kehidupan dunia.

“Janganlah kamu menilai seseorang dengan melihat harta yang dimilkinya. Kemuliaan menurutku adalah bila saya dianugerahi kecukupan dengan makanan yang cukup untuk menghilangkan rasa laparku, dianugerahi kesehatan yang bisa membantuku untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan dianugerahi rasa aman ketika berkumpul dengan para sahabat dan tidak ada pembatas antara diriku dan orang lain.

“Saya lebih suka merasa lapar kemudian memanjatkan doa kepada Allah supaya saya dianugerahi rezeki dan makanan yang cukup daripada saya kaya namun sombong dan angkuh di hadapan orang lain, jauh dari masyarakat karena mereka takut dengan kekuasaan yang saya miliki hingga akhirnya saya jauh dari kasih sayang serta keridhaan Allah SWT serta jauh dari agama dan syariat-Nya.”

BACA JUGA: Kisah Hidup Ibnu Umar

Sampai di sini, kita bisa mengajukan sebuah pertanyaan, apa yang menimpa Qutrus yang sombong dan congkak?

Kebun yang menjadi kebanggaannya tertimpa musibah, musnah rata dengan tanah. Yang tinggal hanyalah penyesalan yang mendalam. Allah telah menurunkan balasan yang setimpal kepada orang yang ingkar dan menentang-Nya. Qutrus tidak mengakui adanya kehidupan akhirat dan hari pembalasan. Dia sombong dan congkak, dan akhirnya dia mendapatkan azab dari Allah yang tidak terkira. Di akhirat dia menyesali apa yang sudah terjadi,

“…Betapa sekiranya dahulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku dengan sesuatu pun.” (al-Kahfi: 42)

Tidak ada lagi yang bisa membela dan menolongnya. Kawan, anak, dan kekuasaan yang dibangga-banggakan tidak ada artinya lagi di hadapan Allah pada hari Kiamat. Mahabenar Allah SWT yang berfirman,

“Dan tidak ada (lagi) baginya segolongan pun yang dapat menolong-nya selain Allah; dan dia pun tidak akan dapat membela dirinya.” (al-Kahfi: 43) []

Sumber:  Akhlaaq an-Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam fiü Shahith al-Bukhaarii wa Muslim (Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim) / Penulis: Abdul Mun im al-Hasyimi / Penerbit: Gema Insani / Cetakan Pertama, Syawwal 1430 H/Oktober 2009 M Cetakan Kedelapan, Drulhijjah 1440 H/Agustus 2019 M

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Ibrah

Harta di Tangan Orang-orang Shaleh

Ibrah

Hasan Al-Bashri Mengatakan: Luar biasa Bakr bin Abdillah!

Ibrah

Imam Hasan Al-Bashri tentang Sedekah dan Pasar

Ibrah

Abu Hanifah dan Tetangganya, Si Pemilik Gambus