JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muamalah

Menahan Marah

Marah adalah letupan emosi yang muncul ketika hati tersinggung, tersakiti, atau merasa terancam. Sekilas, meluapkannya terasa melegakan. Namun para ahli sepakat, kemarahan yang meledak-ledak justru membawa banyak dampak buruk bagi kesehatan dan ketenangan jiwa. Karena itu, bijaklah bila kita berhati-hati. Amarah yang dibiarkan tumbuh akan mengikis iman dan merusak hubungan sesama manusia.

Para ulama salaf pun mengingatkan bahayanya. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Marah itu membuka pintu keburukan. Siapa yang meluapkan marahnya, ia telah membuka pintu penyesalan bagi dirinya sendiri.” Ucapan ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar kesalahan manusia terjadi ketika ia tidak mampu mengendalikan dirinya.

BACA JUGA: Malaikat Penjaga Gunung pun Marah

Suatu hari, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Siapa yang kalian anggap sebagai orang yang perkasa?” Para sahabat menjawab, “Orang yang tidak terkalahkan.” Namun Nabi ﷺ meluruskan, “Orang yang perkasa adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Muslim). Inilah standar kekuatan sejati: bukan pada otot dan suara keras, tetapi pada kemampuan menahan diri saat emosi sedang membara.

Abu Hurairah meriwayatkan, ada seorang laki-laki meminta wasiat kepada Nabi ﷺ. Beliau hanya menjawab, “Janganlah kamu marah.” Ia mengulang permintaan itu berkali-kali, dan jawaban Nabi ﷺ tetap sama. (HR. Bukhari). Seolah Nabi ﷺ ingin menegaskan bahwa mengendalikan amarah adalah kunci bagi seluruh kebaikan.

BACA JUGA: Hukum Cerai dalam Kondisi Marah

Ulama salaf lain, Sufyan Ats-Tsauri, pernah berkata, “Tidak ada obat bagi hati seperti menahan marah dan memaafkan.” Sebab hati yang ringan dari dendam akan lebih mudah menerima cahaya iman.

Nabi ﷺ pun memberikan cara praktis: bila marah dalam keadaan berdiri, duduklah. Bila belum reda, berbaringlah. Dan bila masih menyala, berwudhulah, karena “marah berasal dari setan yang diciptakan dari api, dan api dipadamkan dengan air.” (HR. Ahmad, Abu Daud).

Mengelola amarah bukan sekadar etika; ia adalah jalan menuju kesehatan jiwa dan kejernihan iman. []

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muamalah

Ingatlah Orang-orang yang Baik padamu

Muamalah

Adab Pinjam-Meminjam Uang

Muamalah

Akibat Memutus Silaturahim

Muamalah

Pura-pura Tidak Mengetahui Kesalahan Orang Lain