JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sirah

Pembai’atan Abu Bakar

Ali bin Abi Thalib, Pembai'atan Abu Bakar

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Umar pernah berkhutbah di hadapan manusia, “Sampai kepadaku berita bahwa seseorang berkata, “Seandainya Umar meninggal dunia maka aku akan memba’iat si fulan’. Sementara tidak seorang pun berani mengatakan bahwa di dalam bai’at Abu Bakar terdapat kesalahan, dan tidak ada di antara kalian yang berani berkorban seperti Abu Bakar. Dialah orang yang paling mulia di antara kita. Ketika Rasulullah ﷺ meninggal, orang-orang Muhajirin berkumpul, sementara Ali dan Zubair tertinggal di rumah Fatimah binti Rasulullah, sedangkan orang-orang Anshar tertinggal di kampung bani Sa’idah.

Aku pernah berkata kepada Abu Bakar, ‘Wahai Abu Bakar, mari kita pergi ke saudara-saudara kita dari golongan Anshar’.

Kami kemudian menemui mereka. Di tengah jalan ada dua orang shalih dari Anshar menemui kami seraya berkata, ‘Aku harap kalian tidak mendatangi mereka karena mereka akan membuat kalian jengkel’. Aku lantas berkata, ‘Demi Allah, kami tetap akan mendatangi mereka’.

Kami kemudian mendatangi mereka yang ketika itu sedang berada di kampung bani Sa’idah. Ternyata mereka sedang mengerumuni seorang laki-laki yang berselimut. Melihat itu, aku berkata, ‘Siapa dia?’ Mereka menjawab, ‘Sa’ad bin Ubadah yang sedang sakit.

Setelah itu kami pun duduk beristirahat. Tiba-tiba juru bicara mereka berdiri, memuji Allah, kemudian berkata, ‘Amma ba’du, kami orang-orang Anshar adalah orang-orang yang beriman dan kalian orang-orang Muhajirin adalah bagian dari kami. Telah datang kepada kalian secara berduyun-duyun, rombongan orang-orang yang ingin mengusir kami dari negeri asal kami dan memberontak kepada kami.’

Ketika dia diam, tiba-tiba aku ingin melontarkan sebuah perkataan yang dulu pernah membuatku takjub di hadapan Abu Bakar.

Namun ketika itu Abu Bakar berkata, “Tahan, aku lebih tahu tentangnya dan aku tidak suka membuatnya marah. Dia lebih baik dariku dan ia juga lebih layak serta lebih tenang. Beliau kemudian berbicara. Demi Allah, beliau tidak meninggalkan satu kalimat pun yang dulu pernah membuatku takjub itu beliau katakan lagi, bahkan lebih baik lagi, hingga yang lain terdiam.”

BACA JUGA:  Mimpi Abu Bakar sebelum Masuk Islam

Setelah itu Umar berkata, “Amma ba’du, jika kalian mengingat kebaikan, maka kebaikan itu ada pada kalian wahai orang-orang Anshar. Kalianlah pemiliknya dan lebih baik darinya. Orang-orang Arab tidak mengetahui masalah ini kecuali orang-orang yang ada di kampung Quraisy. Mereka adalah orang-orang Arab yang memiliki nasab dan kampung yang lebih baik. Aku telah merestui kedua orang ini untuk kalian, maka bai’atlah salah seorang di antara mereka sesuka kalian.”

Umar lantas meraih tanganku dan tangan Abu Ubaidah bin Al Jarrah. Abu Ubaidah bin Jarrah lalu berkata, “Aku tidak membenci perkataannya sedikit pun selain perkataan itu. Demi Allah, jika aku disuruh maju lalu terbunuh, itu merupakan dosa yang lebih aku sukai daripada memimpin suatu kaum yang di dalamnya masih ada Abu Bakar, kecuali jiwaku berubah ketika mati.”

Tiba-tiba seorang pria Anshar (yaitu Al Habbab bin Al Mundzir Al Anshari) berkata, “Aku ketengahi pembicaraan ini, kami mempunyai pemimpin dan kalian juga mempunyai pemimpin, wahai orang-orang Muhajirin?”

Tiba-tiba keadaan menjadi ricuh dan banyak suara bersautan hingga ditakutkan terjadi perselisihan, maka kami berkata “Rentangkan tanganmu wahai Abu Bakar.”

Beliau pun membentangkan tangannya, kemudian aku membai’atnya, lalu diikuti oleh orang-orang Muhajirin dan Anshar, sementara mereka mencela Sa’ad bin Ubadah. Seorang pria berkata, ‘Kalian telah membunuh Sa’ad. Aku menjawab, ‘Allah telah membunuh Sa’ad”.”

Umar berkata, “Demi Allah, tidak ada perkara yang di dalamnya terjadi kesepakatan mutlak di antara kami kecuali dalam pembai’atan Abu Bakar. Kami takut, jika kami memisahkan kaum dan tidak ada ba’iat, lalu terjadi bai’at sesudah kami, maka yang terjadi adalah kita membai’at mereka dengan ketidakridhaan, atau menentang mereka sehingga terjadi keonaran.”

Diriwayatkan dari Zirr, dari Abdullah, ia berkata: Ketika Rasulullah ﷺ meninggal dunia, orang-orang Anshar berkata, “Kami memiliki pemimpin dan kalian memiliki pemimpin.” Lalu mereka mendatangi Umar seraya berkata, “Wahai orang-orang Anshar, tidakkah kalian mengetahui bahwa Abu Bakar telah diperintah Nabi ﷺ untuk memimpin manusia?” Mereka menjawab, “Ya.” Umar lanjut berkata, “Mana di antara kalian orang yang melebihi Abu Bakar?” -Menurutku maksudnya dalam shalat-Orang-orang Anshar berkata, “Kami berlindung kepada Allah, tidak ada di antara kami orang yang lebih baik daripada Abu Bakar.”

Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, ia berkata, “Abu Bakar pernah berkata kepada Umar, ‘Ulurkan tanganmu, kami akan membai’atmu.’ Umar berkata, ‘(Tidak) kamu lebih baik dariku. Abu Bakar berkata, ‘Tapi kamu lebih kuat dariku. Umar berkata, ‘Sesungguhnya kekuatanku ada bersama kemuliaanmu”.”

Diriwayatkan dari Anas, bahwa dia pernah mendengar khutbah Umar yang terakhir, “Ketika Abu Bakar duduk di atas mimbar Rasulullah satu hari sebelum Rasulullah wafat, aku membaca syahadat seraya berkata, ‘Amma ba’du, sesungguhnya kemarin aku mengatakan kepada kalian suatu perkataan yang belum pernah aku katakan. Aku tidak mendapati perkataan yang pernah aku katakan kepada kalian di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ , tetapi aku berharap dia tetap hidup untuk mengatur kita dia berkata hingga Rasulullah ﷺ menjadi yang terakhir hidup di antara kita-maka dari itu Allah memilih Rasul-Nya, apa yang ada di sisinya lebih tinggi daripada apa yang ada di sisi kalian. Walaupun Rasulullah ﷺ telah meninggal, tetapi Allah telah memberikan Kitab-Nya yang dengannya Dia memberikan petunjuk kepada Muhammad. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kepadanya, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk seperti yang dibawa oleh Muhammad.”

Umar kemudian menyebutkan Abu Bakar, sahabat Rasulullah, orang kedua setelah Rasulullah, dan orang yang paling berhak memimpin mereka.

Dia lalu berdiri dan berbai’at, sedangkan beberapa orang dari mereka sebelumnya telah membai’atnya di perkampungan bani Sa’idah, di atas mimbar, dengan bai’at yang bersifat umum.

BACA JUGA: Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Rasulullah ﷺ

Dikatakan bahwa Ali RA ketika itu enggan memba’iat untuk beberapa saat.

Urwah berkata: Diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Ketika Fatimah meninggal, enam bulan setelah ayahnya meninggal, ahlul baitnya berkumpul untuk menemui Ali. Mereka mengirim seorang utusan kepada Abu Bakar untuk menyampaikan pesan, ‘Datanglah kepada kami!” Umar berkata, ‘Tidak, demi Allah, jangan datangi mereka. Namun Abu Bakar berkata, ‘Demi Allah, aku akan mendatangi mereka dan aku tidak takut kepada mereka’.

Abu Bakar lalu datang menemui mereka. Beliau lantas memuji Allah seraya berkata, ‘Aku sudah mengetahui pendapat kalian. Kalian merasa keberatan menerimaku sebagai pemimpin kalian. Demi Allah, aku tidak melakukan ini kecuali karena aku tidak ingin melanggar perintah Rasulullah ﷺ . Aku melihat pengaruh di dalamnya dan tindakannya kepada orang lain, sehingga aku menempuh jalannya dan melaksanakan ketetapan-Nya. []

“Demi Allah, menyambung persaudaraan dengan kalian lebih aku sukai daripada menyambung persaudaraan dengan keluarga kerabatku karena kedekatan kalian dengan Rasulullah dan karena besarnya hak beliau.’

Setelah itu Ali bersaksi seraya berkata, ‘Wahai Abu Bakar, demi Allah, kami tidak merasa iri kepada kebaikan yang diberikan Allah kepadamu, untuk sesuatu yang tidak berhak kamu dapatkan, tetapi kami tengah menghadapi satu masalah yang tadinya telah kamu ketahui, lalu hal itu hilang dari kami, sehingga kami merasa tertekan. Tetapi aku berpendapat untuk memba’iat dan masuk ke dalam barisan orang-orang yang ikut bersamamu. Menjelang siang nanti, laksanakan shalat Zhuhur berjamaah bersama orang-orang dan duduklah di atas mimbar, niscaya aku akan memba’iatmu.”

Setelah Abu Bakar shalat Zhuhur, beliau naik ke atas mimbar, lalu memuji Allah, kemudian menceritakan tentang bergabungnya Ali ke dalam barisan jamaah dan pembai’atan. Ali kemudian berdiri, lalu memuji Allah, lantas menceritakan tentang kemuliaan Abu Bakar dan usianya, bahwa dialah orang yang diberi kebaikan oleh Allah. Ali kemudian mendekati Abu Bakar dan membai’atnya.

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari hadits Aqil, dari Az-Zuhri, dari Urwah dari Aisyah, ia mengatakan bahwa Ali sempat berbeda pendapat dengan para sahabat lainnya dalam masalah pembai’atan Abu Bakar ketika Fatimah masih hidup. Namun setelah Fatimah meninggal dunia, pandangannya berubah, maka beliau berdamai dengan Abu Bakar dan membai’atnya.” []

Sumber: Nuzhatul Fudhala’ Tahdzih Siyar A’lam An-Nubala (Ringkasan Siyar A’lam An-Nubala) / Penulis: Imam Syamsuddin Muhammad bin Ahmad bin Utsman Adz-Dzahabi / Penerbit: Pustaka Azzam / Cetakan Kedua, Juni 2011

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sirah

Lima Cahaya Keutamaan Abu Bakar

Sirah

Ketika Umar bin Khattab Temui Rasulullah Tidur di Atas Tikar, Hati di Atas Langit

Sirah

Abdullah bin Rawahah, Hancurkan Berhala untuk Sadarkan Sahabat Dekatnya

Sirah

Mengapa Masjid yang Pertama Kali Dibangun Nabi ketika di Madinah?