Pernah ada yang menanyakan kabar Hasan Al-Bahsri, “Apa kabar, Abu Sa’id?” ucap seseorang.
Hasan menjawab, “Demi Allah, orang yang kapalnya pecah lalu ia terombang-ambing di ombak lautan yang besar, masih lebih ringan cobaannya dibandingkan diriku!”
“Kenapa bisa?”
Hasan berkata, “Dosa-dosaku sudah pasti, sedangkan ketaatan dan ibadahku masih tak pasti! Aku tidak tahu, apakah diterima atau justru akan dicampakkan ke wajahku?”
“Kenapa Anda sampai mengucapkan itu, Abu Sa’id?”
“Kenapa tidak? Apa yang membuatku aman jika Allah memandangku di suatu waktu, dan kala itu Dia murka kepadaku, mengunci pintu tobat bagiku, menutup ampunan-Nya bagiku, hingga aku tak di atas jalan yang benar!”
Orang yang berbeda pernah menanyakan keadaan Hasan, “Apa kabar, Abu Sa’id?”
Jawaban Hasan Al-Bashri, “Sangat buruk!”
“Apa yang terjadi?”
“Sebab pagi dan petang aku menunggu kematian, kemudian aku tidak tahu akan meninggal dalam keadaan seperti apa nantinya!”
Ada seorang laki-laki yang mendatangi Hasan, ternyata beliau sedang menangis. Lelaki itu bertanya, “Apa yang membuatmu menangis? Mudah-mudahan Allah memperbaiki keadaanmu.”
BACA JUGA: Kesaksian Orang-orang tentang Sifat Imam Hasan Al-Bashri
“Demi Allah, aku takut jika Allah memasukkanku ke neraka dan Dia tidak peduli,” terang Hasan.
Ada yang bertanya kepada Hasan tentang makna )الطامة / petaka besar (kiamat)).
Beliau menjawab, “Itulah saat manusia didorong ke dalam azab Jahanam! Dan ia tempat kembali yang terburuk. Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka, kami berlindung kepada-Nya dari amalan yang mendorong ke neraka.”
Di suatu majelis yang dihadiri oleh Hasan, sampailah perbincangan ke pembahasan neraka. Beliau berkata: Ada riwayat bahwa Nabi bersabda,
يَخْرُجُ غَدًا مِنَ النَّارِ رَجُلُ بَعْدَ أَن يُقِيمَ فِيهَا أَعْوامًا
“Esok (saat kiamat), ada seseorang yang keluar dari neraka setelah mendekam di dalamnya selama beberapa tahun.”
Hasan mengatakan, “Duhai kiranya orang tersebut aku.” (Ini contoh lain rasa takut beliau yang sangat besar terhadap nasibnya di hari kiamat. Tidak merasa aman karena sudah beribadah, karena sudah bersedekah. Yang ada selalu merasa kurang dan belum menjalankan hak-hak Allah sepenuhnya. Hal ini membuat beliau selalu berusaha kuat menjadi pribadi yang bertakwa)
Hasan juga pernah menuturkan, “Jika hamba benar-benar meyakini adanya neraka, jelas bumi yang luas ini terasa sempit baginya. Bahkan demi Allah, seandainya seseorang betul-betul mempercayai adanya nereka, tentu akan memengaruhi daging dan darahnya.”
Ada yang menceritakan kepada Abu Sulaiman ad-Darani: Dulu, Hasan pernah mengatakan, “Siapa yang ingin memiliki hati yang tunduk dan mata yang menangis, hendaklah ia makan tapi tidak sampai merasa kenyang.”
Abu Sulaiman berkata, “Semoga rahmat Allah tercurah untuk Abu Sa’id (Hasan). Demi Allah, beliau memar orang-orang yang persiapannya luar biasa, memeriksa sekaligus mencela kekurangan dirinya sebelum datang hari perhitungan. Aku sungguh berharap beliau termasuk golongan yang selamat.” Semoga Allah merahmatinya.
Seorang jamaah tetap Masjidil Haram pernah mengatakan, “Tiap majelis yang aku datangi, pasti di sana ada orang yang menceritakan tentang Hasan bin Abul Hasan al-Bashri.” Semoga Allah merahmatinya.
Di suatu hari, seorang penanya berkata kepada Hasan, “Wahai Abu Sa’id! Apa penyebab hati merasa murung?”
“Lapar,” jawab Hasan.
“Apa obatnya?”
Kata Hasan, “Makan.”
Beliau biasa mengatakan, “Bertobatlah kepada Allah karena terlalu banyak tidur dan makan.” (Lihatlah rasa takut yang besar kepada Allah. Tidur dan makan asalnya memang mubah, bukan perbuatan dosa. Tetapi apa yang di balik itu? Maknanya bertambah banyak nikmat Allah yang harus dijalankan hak syukurnya. Dengan tidur dan makan secukupnya saja kita tidak bisa menunaikan syukur kepada Allah sebagaimana mestinya, terlebih jika kebanyakan waktunya hanya dipakai berlezat-lezat)
Hasan berkata, “Ada riwayat hadits yang berbunyi: Barang siapa sengaja membuat dirinya lapar, maka di hari itu tidak ada satu pun orang yang mendapatkan pahala yang lebih baik daripada pahalanya; kecuali orang yang beramal sepertinya.” Sengaja membuat diri lapar artinya berpuasa.
BACA JUGA: Nasihat Imam Hasan Al-Bashri tentang Memberi Nasihat
Malik bin Dinars berkata, “Aku pernah menemui Hasan dan saat itu kebetulan beliau sedang makan.”
Beliau menawarkan, “Mari anak saudaraku, kita makan bersama.”
Aku menjawab, “Aku sudah makan.”
Kata Hasan, “Tentu aku sangat gembira jika engkau bersedia.”
“Demi Allah, aku masih kenyang,” terang Malik bin Dinar.
Hasan, “Subhanallah! Aku tidak pernah mengira ada seorang mukmin yang makan sampai kenyang hingga tidak sanggup menolong saudaranya.” []
Sumber: Kumpulan Nasihat Bijak untuk Hidup Lebih Bermakna Hasan al-Bashri / Al-Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi / Penerbit: Al-Abror Media
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


