Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
وَأَمَّا أَرْجَحُ الْمَكَاسِبِ: فَالتَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ وَالثِّقَةُ بِكِفَايَتِهِ وَحُسْنُ الظَّنِّ بِهِ. وَذَلِكَ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلْمُهْتَمِّ بِأَمْرِ الرِّزْقِ أَنْ يَلْجَأَ فِيهِ إلَى اللَّهِ وَيَدْعُوَهُ
“Mata pencaharian yang paling utama adalah tawakal kepada Allah (setelah berikhtiar dan mengambil sebab), meyakini bahwa Allah akan mencukupinya, dan berbaik sangka kepada-Nya. Oleh karena itu, orang yang peduli dengan urusan rezekinya seharusnya bersandar sepenuhnya kepada Allah dan berdoa kepada-Nya.”
📚 Majmu’ Fatawa 10/662
Ibn Taimiyyah menegaskan sebuah urutan praktis dalam urusan rezeki: setelah berikhtiar dan mengambil sebab secara maksimal, posisi paling utama bagi hamba adalah tawakkul kepada Allah, keyakinan bahwa Allah akan mencukupkan, serta berbaik sangka kepada-Nya. Pernyataan ini menegaskan keseimbangan antara usaha manusia dan penyerahan kepada takdir Ilahi — bukan sikap pasif, melainkan penutup yang mulia setelah usaha sungguh-sungguh.
BACA JUGA: Ciri-ciri Orang yang Bertawakal pada Allah
Secara praktis, tawakkul berarti meletakkan harapan pokok kepada Allah sambil terus berikhtiar. Tawakkul sejati menuntut tiga sikap: (1) yakin bahwa sebab yang dilakukan adalah sarana bukan penyebab mutlak, (2) doa dan permohonan terus dilakukan karena hati yang bergantung tak akan ridha kecuali pada Rabbnya, dan (3) menerima hasil dengan sabar dan rasa syukur—karena hasil datang dalam wujud yang terbaik menurut ilmu dan hikmah Allah. Pendeknya: usaha tanpa tawakkul rentan putus asa; tawakkul tanpa usaha bernama “tawakkul palsu”.
Dalil teks pun mendukung posisi tawakkul: Al-Qur’an menyebut bahwa barang siapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah mencukupkannya (lihat makna ayat seperti dalam QS. At-Talaq: “وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ”). Selain itu Rasulullah ﷺ mengingatkan tentang rezeki dan tawakkul dalam sebuah hadits yang menggambarkan bagaimana burung-burung keluar pagi mencari rezeki sementara mereka pulang dengan perut kenyang—sebuah pelajaran bahwa usaha dan ketergantungan kepada Allah berjalan beriringan.
BACA JUGA: IIstighfar: Kunci Turunnya Rahmat dan Rezeki
Para salaf juga menguatkan makna ini. Hasan al-Basri menasihati agar hati tidak berpaling dari perlindungan Allah setelah melakukan usaha; Sufyan ats-Tsauri menekankan pentingnya tawakkul yang disertai istiqamah dalam doa; para tabi’in dan imam-imam awal memuji orang yang berusaha lalu menyerahkan urusannya kepada Rabb dengan husn al-dhan (berbaik sangka). Pernyataan-pernyataan ini menunjukkan konsensus praktik: kerja keras yang bertumpu pada tawakkul adalah akhlak orang shaleh.
Kesimpulannya, setelah berikhtiar semaksimal mungkin wajib bagi kita untuk: utamakan tawakkul, perbanyak doa, pelihara husn al-dhan kepada Allah, terima ketetapan dengan sabar dan syukur, lalu terus berikhtiar bila ada kesempatan lagi. Pendekatan ini bukan melepas tanggung jawab, melainkan menyempurnakan usaha dengan ketergantungan kepada Zat Yang Maha Menyediakan—sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Taimiyyah (Majmuʻ Fatawa 10/662) dan diamini oleh warisan para salaf. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


