Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أتاكم شَهرُ رَمَضَانَ ، شهرٌ مبارَكٌ ، فَرَضَ اللهُ عليكم صِيَامَه ، تُفْتَحُ فِيه أبْوَابُ الجنَّةِ ، و تُغلَق فيه أبوابُ الجَحِيم ، وتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشياطينِ ، وفيه ليلةٌ هي خيرٌ من ألف شهرٍ ، من حُرِمَ خيرَها فقد حُرِمَ
“Bulan Ramadan telah datang kepada kalian. Bulan yang penuh berkah. Allah telah mewajibkan puasa kepada kalian di dalamnya. Pintu-pintu surga dibuka. Pintu-pintu neraka ditutup. Dan para setan yang durhaka dibelenggu. Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa terhalangi dari kebaikannya (Ramadan), maka ia telah terhalangi (dari kebaikan).” (HR. An-Nasa’i no. 2105, disahihkan Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i)
BACA JUGA: Awas, Pencuri Bulan Ramadhan!
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,
الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ.
“Di antara salat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu menuju Jumat lainnya, di antara Ramadan yang satu menuju Ramadan lainnya, kesemuanya itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim no. 233)
Sungguh Ramadan adalah kesempatan yang sangat mulia, sebuah peluang bagi hamba-hamba Allah yang penuh dosa ini untuk mendapatkan ampunan dari-Nya. Lihatlah bagaimana para sahabat sangat berharap untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadan yang mulia ini. Mualla’ bin Fadhl rahimahullah berkata,
كَانوُا يدَعُون اللَهَ تعالى سِتَّة أَشْهُرٍ أَن يُبَلِّغَهُم رَمَضَان ، ويَدْعُونَهُ سِتة أشهر أن يَتَقَبَّل منهم
“Dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar Allah mengantarkan mereka bisa mendapati bulan Ramadan, kemudian mereka berdoa kembali selama 6 bulan agar Allah menerima amal-amal mereka (selama Ramadan).” (Lathâ’if Al-Ma’ârif, hal. 148)
Jika kita perhatikan dengan saksama, akan kita dapati bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan dua syarat mutlak yang harus dipenuhi seorang hamba agar amalannya tersebut bisa mendatangkan ampunan Allah Ta’ala.
Syarat yang pertama adalah mengerjakannya dalam kondisi keimanan. Para ulama menjelaskan bahwa seorang hamba saat mengerjakan amalan amalan yang disebutkan di dalam hadis seharusnya diiringi dengan keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan perintah dari Allah Ta’ala.
Puasa kita di bulan Ramadan, salat tarawih kita di malam harinya, dan bangunnya kita pada malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, kesemuanya itu kita kerjakan murni atas dasar keikhlasan serta ketundukan dan ketaatan terhadap perintah Allah Ta’ala.
Jangan sampai tujuan kita dari mengerjakan semua amalan tersebut hanya karena ingin ikut-ikutan saja atau mengerjakannya karena ingin dipandang alim dan saleh oleh orang lain atau mengerjakannya karena malu dengan teman ataupun saudara.
BACA JUGA: Ramadhan, Kemenangan Manusia atas Syetan
Syarat yang kedua yang disebutkan di dalam hadis tersebut, seharusnya seorang hamba mengerjakannya dalam kondisi berharap akan pahala dan balasan dari Allah Ta’ala. Berharap bahwa amalannya tersebut dapat menjadi pemberat timbangannya di akhirat kelak.
Saat kedua syarat ini bisa terpenuhi, maka insyaAllah kita akan menjadi salah satu hamba-Nya yang beruntung mendapatkan ampunan di bulan Ramadan yang mulia ini. []
SUMBER: MUSLIM.OR.ID.
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


