JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Sosok

Abu Hanifah, Orang yang Paling Berbakti kepada Ibunya

Fiqih, Abu Hanifah

Dengan telinga yang menyimak dan memori yang menghafal, si pemuda belia, Abu Hanifah, duduk di majelis gurunya, Hammad, untuk meminum dari samudera ilmunya dengan penuh kerinduan dan cinta, la menuturkan tentang masa-masa mudanya sebagai berikut, “Suatu ketika, aku mendengar permasalahan-permasalahan yang disampaikan guruku, Hammad, lalu aku menghafal perkataannya. Pada keesokan harinya ia mengulanginya lagi.

Aku menghafalnya sementara sahabat-sahabatnya keliru.” Akhir-nya guruku, Hammad, berkata, “Jangan ada yang duduk di depan halaqah tepat di hadapanku, kecuali Abu Hanifah.” (Siyar A’lamin Nubala, VI: 398)

Dengan sopan, Abu Hanifah duduk menceritakan adabnya terhadap gurunya. la berkata, “Aku menyertai guruku, Hammad, selama 10 tahun. Lalu, setelah itu jiwaku menarikku agar aku memisahkan diri darinya dan duduk dalam sebuah halaqah sendiri. Suatu hari, aku keluar rumah tepat pada sore hari. Saat melihatnya, jiwaku tidak rela meninggalkannya.

Pada malam harinya, berita kematian salah seorang kerabat-nya di Baghdad disampaikan. la meninggalkan sejumlah harta dan tidak memiliki pewaris lain selain guruku itu. Guruku kemudian menyuruhku untuk duduk di tempatnya.

BACA JUGA:  Sekilas tentang Abu Hanifah

Setelah ia pergi, aku dihadapkan pada sejumlah pertanyaan yang belum pernah aku dengar darinya. Aku menjawabnya dan aku menulis jawabanku. la pergi selama dua bulan, lalu setelah itu datang. Aku memberitahukan pertanyaan-pertanyaan itu kepadanya. Jumlahnya sekitar 60 pertanyaan. la setuju denganku dalam 40 jawaban di antaranya, dan tidak setuju denganku dalam 20 jawaban sisanya. Akhirnya aku berjanji kepada diriku untuk tidak meninggalkannya sampai ia meninggal dunia. Setelah ia meninggal dunia, aku selalu berdoa untuknya setiap kali shalat.” (Siyar A’lamin Nubala, VI: 398, Tarikh Baghdad, XIII: 334)

Abu Hanifah dan Ibunya

Ibu Abu Hanifah ingin menanyakan tentang sesuatu lalu Abu Hanifah memberikan jawabannya. Namun si ibu tidak menerima jawaban Abu Hanifah meski ia memiliki kapasitas dan ilmu. Si ibu meminta Abu Hanifah untuk menanyakan hal itu kepada seseorang bernama Zar’ah Al-Qadhi. la biasa duduk di masjid di dekat rumah Abu Hanifah menceritakan berbagai berita dan kisah.

Si ibu berkata kepada Abu Hanifah, “Aku hanya menerima perkataan Zar’ah Al-Qadhi.”

Abu Hanifah akhirnya menemui Zar’ah dan berkata padanya, “Ini ibuku ingin bertanya kepadamu tentang ini dan itu.”

Zar’ah berkata, “Engkau lebih tahu dan lebih mengerti dariku. Jawablah sendiri pertanyaannya.”

Abu Hanifah berkata, “Aku sudah memberinya jawaban begi-ni dan begitu.”

Dengan tenang dan sopan, Zar’ah akhirnya berkata kepada ibu Abu Hanifah, “Jawabannya seperti yang dikatakan Abu Hanifah.” Ibu Abu Hanifah akhirnya menerima dan pergi. (Tarikh Baghdad, XIII: 376, Manaqib Abi Hanifah, Al-Kurdi, II: 3)

Bakti Abu Hanifah kepada Ibunya

Suatu ketika, ibu Abu Hanifah berkata kepadanya, “Aku melihat darah setelah beberapa hari suci. Aku tidak tahu apakah aku harus meninggalkan shalat ataukah tidak. Pergilah ke Abdurrahman bin Umar bin Dzar, lalu bertanyalah kepadanya.”

Abu Hanifah lantas pergi menemui Umar bin Dzar demi me-nuruti ibunya. Abu Abdurrahman Umar bin Dzar pun tertawa dan berkata, “Kau bertanya kepadaku sementara kami mengambil permasalahan-permasalahan darimu.”

Abu Hanifah berkata, “Ibuku menyuruhku, dan ia punya hak yang wajib bagiku.”

Setelah itu Umar bin Dzar berkata kepadanya, “Wahai Abu Hanifah! Apa yang engkau katakan terkait persoalan itu?”

Abu Hanifah menjawab, “Aku mengatakan begini dan begitu

Umar bin Dzar berkata, “Pergilah dan katakan kepada ibumu begini dan begitu.”

Abu Hanifah pulang lalu dengan sopan berkata kepada ibu-nya, “Abu Abdurrahman Umar bin Dzar berkata kepadamu terkait persoalan ini begini dan begitu.

Orang yang Paling Berbakti kepada Ibunya

Di Kufah, tidak ada yang paling berbakti kepada orang tua melebihi Manshur bin Mu’tamir dan Abu Hanifah.

Manshur biasa membersihkan kutu dari rambut ibunya. Se mentara Abu Hanifah bernadzar bersedekah 20 dirham setiap Jumat untuk kedua orang tuanya: masing-masing sepuluh dirham untuk orang-orang fakir, tidak termasuk sedekah yang ia berikan untuk keduanya di hari-hari lain.

Adab Abu Hanifah dengan Gurunya

Abu Hanifah pernah duduk di hadapan murid-muridnya, mengajari mereka adab murid dan para penuntut ilmu. Abu Hanifah berkata, “Aku tidak pernah menjulurkan kaki ke arah rumah guruku, Hammad, demi memuliakannya. Dan jarak antara rumahku dan rumahnya sejauh sembilan jalan besar.”

BACA JUGA: Imam Abu Hanifah dan Seorang Perempuan Penjual Pakaian

Hasan dan Sahabat-sahabat Ibnu Mas’ud Keliru

Di Masjid Khaif, sebuah pertanyaan dilontarkan kepada Abu Hanifah lalu ia menjawab dengan perkataan Ibnu Mas’uda. Dikatakan kepadanya, “Hasan Al-Bashri mengatakan begini dan begitu.”

Abu Hanifah berkata, “Hasan Al-Bashri keliru.” Seseorang kemudian datang sambil menutup wajah lalu berkata kepada Abu Hanifah, “Engkau bilang Hasan keliru.” la kemudian mencaci Abu Hanifah lalu pergi.

Wajah Abu Hanifah sama sekali tidak berubah karena marah pada diri sendiri, lalu setelah itu ia berkata, “Ya, demi Allah, Hasan Al-Bashri keliru, dan Ibnu Mas’ud benar.” (Tarikh Baghdad, XIII : 351, Manaqib Abi Hanifah, Al-Kurdi, II: 9) []

Sumber: 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Abi Hanifah An-Nu man -100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Malik bin Anas – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Asy-Syafii – 100 Qishatan wa Qishah min Hayati Al Imam Ahmad bin Hanbal (400 Kisah Hidup Imam Empat Madzhab) /Penulis: Dr Muhammad Shiddiq Al-Minsyawi / Penerbit: Zam Zam Cetakan V: September 2023

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Sosok

Siapa Imam Ibnul Jauzi?

Sosok

Kecerdasan Abu Hanifah

Sosok

Abu Hanifah dan Pengajar Anak-anak

Sosok

Siapa Imam adz-Dzahabi?