Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah merangkum seluruh akhlak yang baik dalam satu kaidah agung yang mencerminkan keluhuran Islam dan kejernihan jiwa orang beriman. Beliau berkata:
وَجِمَاعُ الْخُلُقِ الْحَسَنِ مَعَ النَّاسِ: أَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَك بِالسَّلَامِ وَالْإِكْرَامِ وَالدُّعَاءِ لَهُ وَالِاسْتِغْفَارِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ وَالزِّيَارَةِ لَهُ وَتُعْطِي مَنْ حَرَمَك مِنْ التَّعْلِيمِ وَالْمَنْفَعَةِ وَالْمَالِ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَك فِي دَمٍ أَوْ مَالٍ أَوْ عِرْضٍ. وَبَعْضُ هَذَا وَاجِبٌ وَبَعْضُهُ مُسْتَحَبٌّ
“Inti dari akhlak yang baik terhadap sesama manusia adalah: engkau menyambung hubungan dengan orang yang memutuskanmu, dengan memberi salam, memuliakannya, mendoakannya, memohonkan ampunan untuknya, memujinya, dan mengunjunginya; dan engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu, baik berupa ilmu, manfaat, maupun harta; dan engkau memaafkan orang yang menzhalimimu dalam hal darah, harta, atau kehormatan. Sebagian dari hal ini hukumnya wajib, dan sebagian lainnya dianjurkan (sunnah).”
(Majmū‘ Fatāwā 10/658)
Inilah puncak akhlak Islam: berbuat baik bukan karena manusia berbuat baik kepada kita, tetapi karena Allah memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Akhlak semacam ini tidak lahir dari jiwa yang lemah, melainkan dari hati yang kuat dengan iman dan yakin kepada balasan Allah.
BACA JUGA: Jujur pada Anak, Cermin Akhlak Orangtua
Allah Ta‘ala berfirman:
“Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan menjadi seperti teman yang sangat setia.”
(QS. Fushshilat: 34)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah orang yang menyambung silaturahmi itu orang yang sekadar membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung silaturahmi adalah yang tetap menyambung meskipun diputus.”
(HR. Bukhari)
Menyambung orang yang memutuskan, memberi kepada yang menahan, dan memaafkan orang yang menzhalimi—semua itu adalah akhlak para nabi dan orang-orang shalih. Ini adalah bentuk jihad melawan hawa nafsu yang paling berat, karena jiwa manusia secara tabiat ingin membalas, bukan mengalah.
Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Akhlak yang mulia adalah engkau berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu.”
Imam Ahmad رحمه الله ketika ditanya tentang akhlak terbaik, beliau menjawab:
“Engkau bersabar atas gangguan manusia dan memaafkan mereka.”
Ibnu Rajab Al-Hanbali رحمه الله menjelaskan bahwa memaafkan orang yang menzhalimi bukan berarti ridha terhadap kezaliman, tetapi memilih kemuliaan akhlak dan mengharap balasan dari Allah, bukan dari manusia.
Karena itu, sebagian akhlak yang disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah bersifat wajib—seperti menahan diri dari membalas kezaliman dengan kezaliman—dan sebagian lainnya sunnah yang sangat dianjurkan, seperti mendoakan orang yang menyakiti dan memujinya dalam kebenaran. Semua ini adalah jalan menuju kelapangan hati dan tingginya derajat di sisi Allah.
BACA JUGA: Lelaki yang Paling Buruk Akhlaknya, Paling Buruk Perlakuan pada Istrinya
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba yang pemaaf kecuali kemuliaan.”
(HR. Muslim)
Maka siapa yang ingin mulia di sisi Allah, hendaklah ia menghiasi dirinya dengan akhlak ini.
Bersikap lembut saat mampu membalas.
Memaafkan saat mampu menghukum.
Dan berbuat baik bukan karena berharap balasan manusia, tetapi karena mengharap wajah Allah semata.
Inilah inti akhlak yang agung.
Akhlak yang menjadikan pemiliknya dicintai di langit dan dihormati di bumi. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


