Aku duduk menatap senja
Mentari merunduk di ufuk barat
Seakan berbisik lembut:
“Hari ini akan segera pergi,
dan takkan pernah kembali.”
Aku termenung,
menghitung jejak langkah yang sia-sia,
mengurai waktu yang pergi tanpa permisi.
Betapa sering aku lalai,
seakan waktu ini milikku,
padahal ia hanya titipan,
hanya amanah yang sebentar singgah.
Wahai jiwaku…
Engkau tahu, Ibnul Qayyim pernah berkata:
“Waktu itu bagaikan pedang,
jika engkau tidak memotongnya,
maka ia akan memotongmu.”
Dan benar, aku telah banyak tertebas olehnya.
BACA JUGA: Saudaraku, Ingatlah Semuanya Akan Dihisab
Hari-hariku bergulir
bersama angan-angan yang panjang,
padahal Hasan Al-Bashri menegurku:
“Wahai anak Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari.
Setiap kali satu hari pergi,
maka telah pergi pula sebagian darimu.”
Betapa tajam kata itu
menusuk kalbu yang berdebu.
Aku yang sering berjanji
“esok akan lebih baik,”
namun esok datang,
aku masih sama.
Kadang lebih buruk.
Waktu terus menetes
laksana butiran hujan
yang jatuh tanpa bisa kucegah.
Setiap detiknya adalah saksi,
setiap helanya adalah persaksian.
Aku bertanya pada diriku sendiri:
Untuk apa kuhabiskan hari ini?
Apakah untuk taat,
atau untuk lalai?
Aku ingat perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
“Aku tidak menyesali sesuatu
sebagaimana aku menyesali
hari yang tenggelam
tanpa amal shalih yang kulakukan di dalamnya.”
Dan aku pun menangis dalam diam,
karena terlalu banyak hari-hari
yang aku sia-siakan.
Waktuku adalah kehidupanku.
Ia adalah modal terbesar,
namun aku sering menjualnya murah
pada hal-hal fana yang tak berharga.
Jika kelak aku ditanya
“Untuk apa umurmu dihabiskan?”
Apa yang akan kujawab?
Aku ingin menukar lalai dengan dzikir,
menukar tawa hampa dengan doa,
menukar lelah sia-sia dengan sujud.
Sebab aku tahu,
setiap napas adalah harta.
Setiap detik adalah mutiara.
Dan setiap hari adalah ladang akhirat.
Wahai jiwaku…
jangan tertipu oleh panjangnya harapan.
Hari esok belum tentu jadi milikmu.
Engkau hanya punya detik ini,
tarikan napas ini,
sujud yang bisa kau lakukan kini.
BACA JUGA: Waktu: Pedang yang Bisa Menyelamatkan atau Menebas
Aku dan waktuku
berjalan bersama menuju akhir.
Aku tak mampu menghentikannya,
tak bisa memutarnya kembali.
Yang bisa kulakukan hanyalah
mengisinya dengan kebaikan.
Maka aku berdoa lirih:
Ya Allah,
berkahilah waktuku yang tersisa.
Jadikan setiap detiknya saksi ketaatan.
Ampuni kelalaianku di masa lalu.
Dan tuntun aku untuk memanfaatkan
sisa umurku di jalan-Mu.
Sebab aku tahu…
aku dan waktuku,
pada akhirnya
akan berpisah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


