Dia adalah sosok lelaki biasa. Seorang pedagang biasa pula. Kepada anak lelakinya, ia ajarkan untuk menjaga toko mereka.
Namun, sang Ayah melihat kecenderungan sang Anak. Kesenangannya terhadap Quran nampak kuat. Sang Anak bahkan tak betah berada dalam suasana penuh kesenangan dan permainan.
“Berhentilah menjaga toko,” titah sang Ayah pada anak lelakinya itu kemudian.
Dicarikannya guru Quran. Dan dalam usia belia, 30 juz mampu dihapalkannya.
Ketika tuntutan menuntut ilmu mengharuskan anaknya pergi ke negeri lain, sang Ayah dengan semangat menghantarkannya sampai tujuan.
Berbagai karya besar anak lelaki itu, lahir di kemudian hari. Kitab Riyadush Shalihin dan Hadits Arba’in adalah sebagian kecilnya.
Ya, dialah Imam Nawawi.
Ayah Nawawi adalah dari kalangan lelaki biasa. Tetapi ia adalah ayah yang mampu menggambarkan anaknya. Ia tidak mampu membimbing anaknya dengan ilmu langsung, namun ia tak berhenti mendukung dan memfasilitasi anaknya dalam merengguk lautan ilmu.
Sang Ayah, seorang lelaki biasa yang menghantarkan anaknya menjadi sosok luar biasa. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


