JOIN GRUP WHATSAPP: Pusat Studi Islam

Muhasabah

Bisa Jadi Kamu Membenci Sesuatu

Shalat

Suatu hari, seorang laki-laki beranjak menuju bandara untuk sebuah penerbangan ke luar kota. Pada hari keberangkatan itu, ia terlihat begitu gesit dan semangat mengemas segala sesuatunya sehingga saat menunggu jadwal penerbangan, ia tertidur pulas karena keletihan. Jumlah penumpang yang menaiki pesawat itu sekitar tiga ratus orang.

Ketika sadarkan diri, ia baru menyadari bahwa ternyata dirinya telah ketinggalan pesawat, perjalanannya menuju kota yang dituju tertunda. Saat seperti itu, yang bisa dilakukan hanya panik dan sedih. la sangat menyesal atas keletihan yang dialaminya sehingga menjadikannya tertidur pulas.

Namun, beberapa saat kemudian, terdengar sebuah pesan bahwa pesawat yang meninggalkannya itu terjatuh, meledak dan menewaskan semua penumpangnya.

BACA JUGA:  2 Tiang Amal Shaleh

Pertanyaannya; Jika pesawat yang hendak ditumpanginya itu terjatuh, maka bukankah ketinggalan pesawat baginya lebih baik untuknya? Sayangnya, mengapa orang-orang tidak mau merenungkan hikmah besar yang terjadi di balik peristiwa ini.

Pesan penting yang ingin diajarkan oleh peristiwa seperti ini adalah, setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaklah seorang mukmin menghadirkan tawakal kepada Allah, bekerja dan bersunguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera mengingatkan dirinya akan kaidah mulia ini, Allah berfirman,

وَعَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (1)

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Seorang hamba Allah sejatinya mencamkan dalam hidupnya, bahwa Allah Mahalembut. Dan salah satu bentuk kelembutan Allah kepadanya adalah Dia menakdirkan kepadanya jenis-jenis musibah dan macam-macam ujian dan cobaan, membebankan kepada hambaNya perintah dan larangan yang berat.

BACA JUGA: Jika Belum Bisa Jadi Orang Shalih

Semua itu merupakan bentuk kelembutan dan kasih sayang kepadanya, Allah hendak menjadikan mereka pribadi sempurna sekaligus bentuk kesempurnaan nikmat-Nya kepada mereka. (Tafsir Asma’ Al-Husna, As-Sa’di, hlm.74)

Salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya, Dia menjadikan kehidupan dan kebahagiaan mereka hanya tergantung kepada Allah. Inilah nikmat yang tak mungkin ada gantinya. Hal-hal lain memungkinkan ada gantinya atau mengganti sebagiannya.

Seorang penyair berdendang, Segala sesuatu, jika hilang akan tergantikan Dan Allah tidaklah bisa tergantikan. []

Sumber: Mukhtashar Minhaj al-Qashidîn (Rahasia Hidup Orang-orang Shaleh) / Penulis: Ibnu Qudamah / Penerbit: al-Maktab al-Islami (Khatuliswa Pers) / Tahun Terbit ?/Cet.: 2000/Kesembilan

Ikuti kami selengkapnya di:

WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam

Related posts
Muhasabah

Jangan Merasa Aman dari Dosa

Muhasabah

Penjagaan Allah padamu

Muhasabah

Tanyakan tentang Hartamu

Muhasabah

Lisan, Titian yang Menyelamatkan atau Menjerumuskan