Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang istimewa. Waktu terbaik untuk mendekat kepada Allah. Waktu untuk memperbanyak ibadah dan meninggalkan kesibukan dunia.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ تَعَالَى، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Sesungguhnya Nabi ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkan beliau. Kemudian istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau.” (HR. Bukhari no. 1922, Muslim no. 1172)
BACA JUGA: Orang Terbaik di Bulan Ramadhan
I’tikaf adalah berdiam di masjid dengan niat beribadah. Fokus untuk shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa. Menjauh dari kesibukan yang melalaikan.
Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkannya. Ini menunjukkan betapa besar keutamaannya. Terutama pada sepuluh malam terakhir.
Di dalamnya terdapat Lailatul Qadr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Orang yang beri’tikaf memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkannya.
I’tikaf juga melatih hati. Hati menjadi tenang. Jiwa menjadi dekat dengan Allah. Waktu terasa lebih berkah.
Tidak harus lama. Sesuai kemampuan. Yang penting adalah kesungguhan dan keikhlasan.
BACA JUGA: Makna Pintu Surga Dibuka dan Pintu Neraka Ditutup di Bulan Ramadhan
Sepuluh malam terakhir adalah penutup Ramadhan. Jangan biarkan berlalu tanpa kesungguhan.
Siapa yang menghidupkan hari-hari terakhir dengan i’tikaf dan ibadah, ia berharap keluar dari Ramadhan dengan hati yang lebih bersih dan lebih dekat kepada Allah. []
Ikuti kami selengkapnya di:
WhatsApp: Join Group WA (WhatsApp Group)
Instagram: https://www.instagram.com/pusatstudi.islam20/
YouTube: https://www.youtube.com/@pusatstudiislam
Telegram : https://t.me/pusatstudiislam2
Facebook Fanspage : https://www.facebook.com/pusatstudiislam


